Written by HC / LettoLink Friday, 08 February 2008 18:22
Ku teringat hati, yang bertabur mimpi
Kemana kau pergi cinta
Perjalanan sunyi, engkau tempuh sendiri
Kuatkanlah hati cinta
Barangkali sebagian orang melihat bait diatas biasa-biasa saja, meskipun sebagian lain melihat dengan kagum karena bait tersebut begitu bermakna. Biasa atau menjadi luar biasa tentu saja tergantung kepada kemampuan seseorang untuk menyerap dan melakukan eksplorasi terhadap segala hal. Namun ditangan seorang Carla M. Nashar, untaian kalimat diatas ternyata mampu diterjemahkan menjadi sebuah karya yang cukup dasyat. Dengan terinspirasi lirik lagu Sebelum Cahaya, telah lahir dari tangannya sebuah karya novel yang berjudul Sebelum Cahaya yang telah resmi launching pada tanggal 5 Februari 2008 di Planet Hollywood Jakarta. Acara itu diselenggarakan oleh penerbit novel songlit Sebelum Cahaya yakni Gagas Media. Acara terbatas ini mendapat apresiasi yang sangat baik dari berbagai kalangan. Undangan yang hadir terlihat lengkap dari perwakilan beberapa penerbit dan hampir semua wartawan media cetak dan tv. Bahkan ada pula tamu undangan dari Mitra Netra yang memang merupakan sahabat karib Letto.
Diawal acara, Letto sudah menggebrak dengan dua buah lagu andalan mereka, yakni Permintaan Hati dan Sampai Nanti Sampai Mati yang kali ini mereka bawakan dalam format akustik. Para undangan menyambut antusias penampilan Letto tersebut dengan turut serta bernyanyi. Wah! Ternyata mereka semua hapal lagu-lagu Letto.
Acara dilanjutkan dengan dialog bersama Letto dan penulis novel Carla M. Nashar yang dipandu oleh seorang moderator dari Gagas Media. Sesi pertama dibuka dengan pertanyaan moderator kepada Letto tentang bagaimana komentar mereka terhadap novel Sebelum Cahaya.
Noe: Novel ini tidak sekedar menceritakan tentang bagaimana melihat cahaya, namun merasakan dan memahaminya sebagai sebuah semangat menjalani kehidupan.
Patub: Novel ini tidak muncul begitu saja dari khayalan sang penulis, namun dari intuisi hati yang tertuang dalam goresan-goresan yang luar biasa.
Ari: Penulis meramu dengan baik segala macam hal, kesedihan, kegembiraan, tangisan, cinta, kebencian. Namun tetap dengan sebuah alur yang sangat realistis. Tidak mekso lah pokoknya!
Dedi: Saya suka novel ini karena tidak menempatkan diri pada satu sisi saja. Novel ini cocok untuk dibaca oleh remaja maupun dewasa. Semua bisa merasa memiliki cerita yang ada dalam novel ini.
Sedikit (bocoran) informasi, para personel Letto ternyata
baru membaca novel ini sehari sebelumnya. Namun barangkali karena novel
tersebut memang bagus dan enak untuk dibaca, mereka bahkan langsung hapal jalan
ceritanya. Jadi tampaknya mbak Carla ini harus rajin bikin novel yang bermutu
kayak begini. Soalnya teman-teman Letto suka sama karya mbak!
Acara kemudian dilanjutkan dengan komentar para audiens yang hadir. Satu komentar dari audiens yang cukup menarik adalah komentar dari sahabat Mitra Netra:
"Menurut kami novel ini sangat baik karena ada pesan-pesan positif yang cukup mendalam. Bagaimana seorang yang mengalami kecelakaan dan buta dapat bangkit dan menghasilkan karya yang luar biasa. Kami dari Mitra Netra dari dahulu merasa tidak mendapatkan teman yang memiliki tujuan yang sama. Kami ucapkan terima kasih kepada Letto yang memberikan perhatian yang luar biasa kepada kami. Dan satu hal lagi, lagu anda yang berjudul Sebelum Cahaya adalah sebuah lagu yang luar biasa dan sangat berarti bagi kami".
Acara dilanjutkan dengan penampilan Letto yang kedua dengan Lagu Truth, Cry, and Lie, Sandaran Hati dan Ruang Rindu. Penonton kembali bersorak dan bernyanyi bersama dalam suasana kegembiraan yang luar biasa. Setelah diselingi dengan penyerahan hadiah kepada para pemenang lomba penulisan novel yang diselenggarakan oleh Gagas Media, Letto memberikan lagu terakhirnya yang berjudul Sebelum Cahaya. Maka berakhirlah acara Launching Novel Sebelum Cahaya tersebut.
Selepas acara, Letto tidak lantas bisa pulang begitu saja.
Kurang lebih 20 orang wartawan dari berbagai media telah menunggu mereka untuk
melakukan wawancara. Setelah istirahat sejenak, para personel Letto pun
menyambut permintaan para wartawan untuk melakukan wawancara. Hingga kurang
lebih 30 menit mereka melakukan wawancara, merekapun bisa bernafas lega karena
selesai sudah semua acara dan merekapun segera bergegas melangkah kepintu
keluar untuk pulang. "Mulih yo....", ajak Patub.
Setelah sampai di pintu ternyata ada informasi baru. Jemputane durung teko dab! Keno macet ki!. Ah! Semua langsung lemes dan duduk bengong di tangga depan planet Hollywood. Sejenak duduk disitu, ada seorang laki-laki yang datang menghampiri kami. Wah, ada yang mau minta photo nih, pikir kami begitu. Ternyata kata-kata yang keluar dari mulutnya sungguh berbeda, "Mohon maaf pak! Dilarang duduk disini! Ooowalah..walah...!!
No current events.