Written by Ann Tuesday, 12 December 2006 07:00
Kapan terakhir kali mendengar kata transmigrasi? Kalau menuruti apa yang telinga saya dengar... oh, itu sudah lama. Dulu, duluuuuuu sering siy saya dengar apa-apa yang berhubungan dengan transmigrasi, ya dari sekolah, ya dari berita di tipi, berita di koran, pun dari para tetangga sebelah yang ribut ingin memperbaiki hidup dengan cara bertransmigrasi, biasanya sambil tertawa mereka bakal bilang, "Kan, ikut mensukseskan program pemerintah..." Tapi itu dulu entah berapa tahun yang lalu.
Akhir-akhir ini, nggak ngerti apa karena saya telat nerima berita apa gimana, yang jelas jangankan berita tentang transmigrasi, kata transmigrasi sendiri pun jarang saya dengar. Sampai pagi ini waktu sedang asik surfing di dunia maya, saya melihat sesuatu yang menarik mata: 12 Desember, diperingati sebagai Hari Transmigrasi. Tanggal 12 Desember adalah hari ini dan baru saya tahu, "Hei, ternyata hari ini hari besar nasional to?" Dan dengan semangat saya teruskan kegiatan surfing mensurfing di dunia maya... dan masih berhubungan dengan transmigrasi tentunya kekeke.... Mau tahu little things yang saya temukan di dunia maya nan luas ini?
Menurut Mister and Misis Wikipedia, transmigrasi (Latin: trans - seberang, migrare - pindah) adalah suatu program yang dibuat oleh pemerintah Indonesia untuk memindahkan penduduk dari suatu daerah yang padat penduduk ke daerah lain di dalam wilayah Indonesia. Penduduk yang melakukan transmigrasi disebut transmigran. Tujuan resmi program ini adalah untuk mengurangi kemiskinan dan kepadatan penduduk di pulau Jawa, memberikan kesempatan bagi orang yang mau bekerja, dan memenuhi kebutuhan tenaga kerja untuk mengolah sumber daya di pulau-pulau lain seperti Papua, Kalimantan, Sumatra, dan Sulawesi. Kritik mengatakan bahwa pemerintah Indonesia berupaya memanfaatkan para transmigran untuk menggantikan populasi lokal, dan untuk melemahkan gerakan separatis lokal. Program ini beberapa kali menyebabkan kontroversi dan konflik, termasuk juga bentrokan antara pendatang dan penduduk asli setempat. Dasar hukum yang digunakan untuk program ini adalah Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 1972 dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 1973 tentang Penyelenggaraan Transmigrasi, ditambah beberapa Keppres dan Inpres pendukung.
Kaum transmigran dengan sendirinya dituntut untuk punya semangat kepioniran yang tinggi dan siap hidup survival. Gimana nggak? Mereka harus bisa dengan cepat membuka lahan dan mengolahnya supaya bisa menghasilkan bahan pangan. Walopun mereka ini dapet bantuan logistik selama 6-12 bulan tetap tidak bisa tanpa usaha keras mereka membuka dan mengolah lahan pekarangannya. Belum lagi mereka masih harus membawahi anak dan istri, membuat masalah tidak hanya diseputaran membuat lahan yang menghasilkan pangan, tapi juga kesehatan keluarga, pendidikan anak (pada fase awal penempatan belum tentu ada sekolah), kondisi lingkungan yang berat, dan minim akses komunikasi. Kalau semua itu telah terlalui, maka kemudian muncul beberapa berita tentang kisah sukses keluarga transmigran, artinya ekonomi keluarganya maju, pendidikan anak-anak oke sampai akhirnya taraf kehidupan lainnya juga meningkat. Tapi masih ada yang dinamakan sukses profesi transmigrasi, artinya tetep ada generasi penerus yang disiapkan melanjutkan pengelolaan lahan transmigrasi. Karena kebanyakan yang terjadi adalah para generasi pertama transmigran sukses ini setelah uzur dan tidak dapat mengelola lahan mereka, tidak meneruskannya pada generasi berikutnya (misal anak-anaknya) tapi cenderung kepengelolaan disewakan atau dijual, untuk mengikuti anaknya yang semuanya hidup di tempat lain. (Sumber: Depnakertrans).
Saya jadi ingat waktu saya masih di Surabaya, ada teman saya yang ikut orang tuanya transmigrasi ke Lampung kalo tidak salah. Saya dan Agustina (teman saya) adalah tetangga dekat dan kami sering main bareng pas para orang tua bicara tentang transmigrasi dan lain-lain. Akhir cerita, jadi juga mereka transmigrasi. Kabar terakhir yang saya terima adalah mereka sukses di sana. Bapak ibu bisa naik haji, anak-anak bisa sekolah tinggi, dan mereka bisa kirim-kirim sedikit rejeki untuk para anggota keluarga yang membutuhkan yang masih tinggal di tanah jawa. Tapi ternyata ada kisah lain yang mereka ceritakan pada kami. Tidak semua orang sukses seperti mereka. Karna nggak kuat tantangan di tanah rantau ada beberapa yang kembali lagi ke tanah asal, ada yang nekat jadi TKI dan pulang dengan membawa lebih banyak derita.
But, seperti apa pun hasilnya, ini yang kemarin Arian dan Patub bilang ke saya, "Mencintai proses, itu yang penting. Masalah hasil cuma ada dua: gagal atau berhasil. Kamu berproses, kamu belajar. Kamu berhasil, kamu menghargai keberhasilan itu. Kamu gagal, kamu tau di mana salahnya dan nggak ragu memperbaiki... karena kamu mencintai proses. Semua adalah tentang proses." Satu hal yang saya kira bisa kita ambil dari para kaum transmigran adalah kekuatan dan keuletan mereka dalam berjuang, berproses sampe akhirnya menghasilkan sesuatu. Dan kisah sedih kegagalan mereka? Yah, keberhasilan dan kegagalan seperti dua sisi mata uang, selalu jalan berbarengan. Segi positifnya adalah mereka berani memutuskan dan memulai sesuatu dari nol, berani berjuang, berani berproses untuk bisa survive. Semangatnya! Bisakah kita punya semangat yang seperti itu?
No current events.