Sunday, 23 March 2008 09:40
Pertama adalah rasa syukur kepada Tuhan yang tiada terhingga, acara yang disepakati dilaksanakan pada 20 – 21 kemaren berjalan lancar dan memberi penuh kesan yang tidak mudah atau bahkan takkan terlupa.
Di dalam tulisan ini saya tidak akan bercerita secara detail dan runtut tentang Meet & Greet 2008 di Seloliman Trawas kemarin. Saya mencoba mengambil sisi tertentu yang bisa menjadi tawaran nilai dan transaksi untung-rugi peristiwa.
Meet and Greet, satu bukti bagi seluruh pemerhati Letto bahwa pLettonic yang terdiri dari wilayah, daerah, dan tempat-tempat yang berjauhan bisa manunggal dalam satu semangat kekeluargaan yang mesra. Ternyata pLettonic tidak hanya sekedar hiasan, tidak cuma kiasan, tapi intan mutu manikam yang harus dipelihara dan dirawat kilau cahayanya.
Insya Allah artikel tentang Meet and Greet ini akan saya buat menjadi 3 bagian. Yang pertama tentang awal pertemuan [tanah longsor, hujan, dan barokah pertemuan]. Kedua tentang Silaturahmi dan Lingkungan hidup [hidup mati tanpa silaturahmi]. Serta ketiga tentang akhir acara. [ pLettonic, ditanam di musim yang tepat.]
Tanah Longsor, Hujan, dan Barokah Pertemuan
Hujan bukan sebuah musibah, tapi ternyata anugerah luar biasa. Ini terbukti pada awal acara kemarin. Tanggal 19 Maret, Letto masih menemani dan menghibur saudara-saudara di Batam. Jauh dari Batam, teman-teman pLettonic dari berbagai daerah, berduyun-duyun menuju kawasan Seloliman, Trawas, untuk koordinasi acara Meet & Greet.
Sejak sore hujan di wilayah ini tidak kunjung henti. Kejadian yang mengundang kekhawatiran dari semua pihak, apalagi beberapa kilometer dari kawasan pertemuan terjadi tanah longsor yang menutup jalan, jalan ini adalah salah satu akses dari Mojokerto menuju PPLH, tempat acara Meet & Greet akan dilangsungkan.
Semua rombongan akhirnya disarankan untuk lewat dari kawasan Ngoro menuju PPLH. Ternyata jalan ini justru lebih dekat. Sampai di lokasi, semua rombongan berkumpul di resto alas, ngobrol, saling berkenalan dan melepas lelah. Sayang sekali rombongan Jakarta yang melewati rute terjauh acara ini masih belum juga tiba. Padahal semua peserta sudah tidak sabar bertatap muka dan saling becanda di malam yang dihiasi suara air hujan itu. Rombongan Jakarta baru tiba di lokasi pada jam 02.30 dini hari, setelah ngobrol sebentar dengan beberapa orang yang masih terjaga mereka langsung berpamitan untuk beristirahat karena kecapekan. Hujan yang tadinya sempat reda sebentar ternyata muncul lagi untuk menyambut kedatangan teman-teman Jakarta dengan rintikan-rintikan lembutnya.
Sebenarnya bukan hal aneh bin ajaib dengan hujan di musim kali ini. Tapi ada beberapa hal yang menjadi aneh dan dramatis, ketika tempo tanah longsor terjadi di saat para rombongan hendak datang. Begitupun guyuran hujan yang menyertai awal pertemuan para pLettonic di kawasan Lingkungan Hidup PPLH.
Apa letak keanehannya? Pertama, bukankah tanah longsor adalah bencana yang identik dengan kesalahan dalam mengelola lingkungan hidup? Kedua, bukankah lingkungan hidup menjadi agenda penting Meet & Greet kali ini? Ketiga, bukankah tanah longsor itu terjadi dekat kawasan PPLH? Dan bukankah PPLH bertanggung-jawab dengan masalah lingkungan hidup?. Mestinya PPLH sebagai Pusat Pelatihan Lingkungan Hidup menjadi sasaran selanjutnya untuk disalahkan dengan terjadinya tanah longsor yang berlokasi tidak jauh darinya. Mestinya PPLH ikut mempertanggung-jawabkan kenapa longsor bisa terjadi, dan menginterogasi apa tugas-tugas mereka selama ini. Tapi cara berpikir seperti ini, ibarat menyalahkan tanah, yang dianggap tidak layak disebut tanah gara-gara tanaman yang tumbuh darinya tidak berbuah maksimal. Atau bagai menyalahkan pedagang buah sebelah yang buah2nya manis, dibanding buah jualan kita yang hambar. PPLH telah berupaya, tapi tanpa didukung oleh semua elemen terkait maka muskil bisa memberi hasil.
Untung saja, tidak ada penilaian-penilaian negatif muncul, ternyata semua elemen masyarakat langsung menyadari bahwa sebuah musibah lingkungan terjadi, bukan dari kesalahan pihak-pihak tertentu, atau institusi-institusi tertentu, melainkan akibat dari kesadaran diri yang kurang bijak terhadap watak lingkungan hidup. Artinya masyarakat sudah cerdas dalam mengamati fenomena alam dengan lebih cermat, tidak sekedar mencari kesimpulan instan yang tidak mendasar. Ini juga yang harus dipelajari oleh pLettonic, tidak terburu-buru mengambil kesimpulan dan pengkambing-hitaman kepada idiom tertentu, tapi ditelaah secara matang sebab dan akibatnya. Ini berguna dalam menyikapi segala hal.
Meet & Greet kali ini, sejak semula diformat untuk salah satunya mengenal dan memahami lebih baik perlakuan seimbang terhadap alam. Contoh konkrit tentang keseimbangan alam yang diabaikan watak dan karakternya berimbas pada kerugian manusia sendiri, sudah terbukti secara gamblang dengan terjadinya tanah longsor.
Akhirnya, paling tidak ada dua hal yang bisa kita perhatikan. Pertama, tanah longsor dan mulai longsornya kesadaran terhadap lingkungan. Kedua, hujan dan derasnya semangat pLettonic untuk membangun silaturahmi. Toh, hujan yang datang akhirnya menyempitkan pilihan untuk berpikir secara individual dan mencari kesenangan sendiri-sendiri, hujan memaksa kita untuk berteduh dan berakrab-akraban di dalam sebuah ruangan bersama-sama, sebuah Meet & Greet yang sempurna. Ternyata keindahan selalu muncul di tengah-tengah keburukan yang kita duga.
***
Bersambung...
No current events.