Monday, 24 March 2008 23:43
Pertama adalah rasa syukur kepada Tuhan yang tiada terhingga, acara yang disepakati dilaksanakan pada 20 - 21 kemarin berjalan lancar dan memberi penuh kesan yang tidak mudah atau bahkan takkan terlupa.
Di dalam tulisan ini saya tidak akan bercerita secara detail dan runtut tentang Meet & Greet 2008 di Seloliman Trawas kemarin. Saya mencoba mengambil sisi tertentu yang bisa menjadi tawaran nilai dan transaksi untung-rugi peristiwa.
Meet and Greet, satu bukti bagi seluruh pemerhati Letto bahwa pLettonic yang terdiri dari wilayah, daerah, dan tempat-tempat yang berjauhan bisa manunggal dalam satu semangat kekeluargaan yang mesra. Ternyata pLettonic tidak hanya sekedar hiasan, tidak cuma kiasan, tapi intan mutu manikam yang harus dipelihara dan dirawat kilau cahayanya.
Kali ini saya ingin menepati janji untuk membuat artikel kedua tentang Silaturahmi dan Lingkungan hidup.
Hidup akan Mati Tanpa Silaturahmi
Sebelum acara dimulai, Aldi selaku manager Letto berkesempatan memberi kata-kata sambutan. Di dalam kesannya yang baru beberapa jam, dia memberi pujian dan rasa salut kepada para pLettonic yang dengan gelora semangat kekeluargaan meluangkan waktu untuk saling berkumpul dan membuat kegiatan positif yang langka terjadi. Dia menyatakan kebanggaannya atas prestasi yang dilahirkan dan dicapai para pLettonic. Meet & Greet hanya salah satunya, tapi keinginan membangun silaturahmi dan komunikasi secara nyata merupakan prestasi yang mengharukan. Diharapkan setelah ini akan tercipta generasi pLettonic, yang tidak hanya senang berhura-hura dan gila kepada artis idolanya. Namun juga siap menunjukkan jatidirinya yang memiliki prestasi gemilang.
Memang terasa benar suasana Meet & Greet kemarin. Nuansa bersahaja dan kekeluargaan penghuni ndusun CeretTelu tampil nyata. Batas antara artis dan fans benar-benar luntur, karena memang semua satu komunitas. Semua melebur menjadi satu, tidak ada idola dan yang mengidolakan. Bila ada sosok yang boleh diidolakan maka mungkin aku akan mengidolakan kepercayaan.
Dalam silaturahmi, menurut saya paling utama adalah kepercayaan. Bila sedikit saja tidak ada kehendak bagi satu individu kepada individu yang lain untuk membentuk kepercayaan, maka tidak akan pernah terjadi dialektika yang sehat dalam perjalanan komunikasinya. Plettonic telah memberi contoh gamblang tentang bagaimana menciptakan suasana kekeluargaan yang sehat, saya yakin kegiatan ini tidak akan tercipta tanpa terlebih dahulu tertanam rasa saling percaya dan sayang antar satu kepada yang lain.
Dalam sudut pandang yang lebih luas. Perjalanan sebuah bangsa besar sekalipun tidak akan pernah tercipta ketentraman bila tidak ada kepercayaan, sebab pasti tidak ada alas untuk menyayangi. Bila tidak ada alas untuk menyayangi maka serta merta tidak akan timbul rasa memiliki. Bila tidak ada rasa saling memiliki kemungkinan besar tidak akan tercipta interaksi. Tanpa interaksi manusia sudah mati.
Interaksi, silaturahmi, komunikasi, rasa saling memiliki, telah tertuang dan kesegarannya terteguk bersama. Semoga ini senantiasa subur, dan sekaligus indikator bahwa ada yang kembali hidup dalam watak pergaulan yang mungkin telah lama mati. Bagaikan kita menanam tanaman, bila tidak pernah kita sapa dengan perhatian, bila tidak pernah kita kunjungi dengan perawatan, bila tidak pernah kita sambangi dengan siraman, bila tidak pernah kita jenguk dengan pupuk, maka tanaman menjadi liar dan menjadi tumbuhan yang tidak ingin kita kenal. Semoga bermanfaat!
No current events.