Monday, 07 April 2008 23:32
Pertama adalah rasa syukur kepada Tuhan yang tiada terhingga, acara yang disepakati dilaksanakan pada 20 - 21 kemaren berjalan lancar dan memberi penuh kesan yang tidak mudah atau bahkan takkan terlupa.
Di dalam tulisan ini saya tidak akan bercerita secara detail dan runtut tentang Meet & Greet 2008 di Seloliman Trawas kemarin. Saya mencoba mengambil sisi tertentu yang bisa menjadi tawaran nilai dan transaksi untung-rugi peristiwa.
Meet and Greet, satu bukti bagi seluruh pemerhati Letto bahwa pLettonic yang terdiri dari wilayah, daerah, dan tempat-tempat yang berjauhan bisa manunggal dalam satu semangat kekeluargaan yang mesra. Ternyata pLettonic tidak hanya sekedar hiasan, tidak cuma kiasan, tapi intan mutu manikam yang harus dipelihara dan dirawat kilau cahayanya.
Insya
Allah artikel tentang Meet and Greet ini akan saya buat menjadi 3 bagian. Yang pertama
tentang awal pertemuan [tanah longsor, hujan, dan barokah pertemuan]. Kedua
tentang Silaturahmi dan Lingkungan hidup [hidup mati tanpa silaturahmi]. Serta
ketiga tentang akhir acara. (pLettonic, ditanam di musim yang tepat).
pLettonic, ditanam di musim yang tepat
Setelah sekian lama akhirnya inget juga mau bikin tulisan ketiga. Tulisan ini sekaligus paripurna dari tiga tulisan yang saya janjikan. Pelaksanaan Meet and Greet dari awal hingga akhir ternyata selalu diwarnai makna yang indah. Setiap sisi acaranya bisa diambil makna dan nilai keilmuannya. Saya ingin mengambil tiga hal saja di antara banyak hal lain yang pernah kita lakukan bersama.
Pertama adalah hujan, hujan merupakan tanda dimulainya kehidupan baru, tanda berseminya kecambah, tanda sebuah awal yang harus berlanjut hingga menjadi sesuatu di kemudian hari. Bagi sebagian orang mungkin hujan adalah sebuah penghalang untuk mendapatkan kepuasan dalam menikmati waktu beraktifitas, tapi sebenarnya hujan justru memberi waktu untuk merenungi dan memberi tempo sejenak untuk memikirkan dan menemukan nilai kesyahduan dan keindahan dalam hujan. Untungnya hujan memilih waktu-waktu tertentu yang tidak membuat rencana batal dilaksanakan. Mungkin sang hujan tahu kalau plettonic juga ingin muncul bagai biji yang menyambah dan terus tumbuh.
Kedua, tentang sumber mata air yang konon bisa membuat awet muda. Sumber mata air saja sudah merupakan pesan, bahwa dengan sumber mata air betapa kehidupan masih punya alasan melangsungkan kisahnya. Awet muda juga simbol abadinya semangat membangun dan semangat menghias diri dengan keindahan. Begitu juga dengan lokasi yang mendaki, pLettonic yang dengan antusias mendaki sebuah lokasi dimana sumber itu berada.
Dalam kehidupan pemuda, pendakian dan penyusuran jalan yang berkelok, terjal, curam, licin, memang harus terjadi. Itulah perjuangan menemukan makna dan sikap jelas guna menjadi tidak sia-sia. Pemuda [pLettonic] juga merupakan simbol semangat dan keberanian mendobrak kejumudan. Dengan semangat pemuda yang awet bersemayam pada diri, dengan pemuda yang senantiasa rela membasuh wajahnya dengan kesucian dan kemurnian niat, dengan niat dan kehendak untuk memberi manfaat seluas-luasnya bak mata air, dengan pemuda yang pantang menyerah. Maka, negeri manapun tidak akan khawatir dengan masa depannya. Semoga pLettonic menjadi alasan menentramkan bagi semua orang, bahwa masih ada generasi unggul di negeri ini.
Ketiga, sebuah gerakan menanam pohon. Gerakan ini bukan sekedar aksi seremonial, bukan juga sekedar latah, tapi merupakan sikap pertanggung-jawaban kita kepada anak dan cucu kita kelak. Anak dan cucu telah dengan ikhlas percaya untuk titip alam seisinya ini untuk kita gunakan sekarang. Apakah hanya sekedar digunakan tanpa dilestarikan? Tentu akan sangat memalukan jika ternyata kita telah dengan rakus menikmati titipan anak cucu ini dengan mewariskan bencana dan kekeringan. Gerakan aksi penanaman pohon ini, meskipun sederhana wujudnya namun jauh lebih baik daripada hanya sekedar memanfaatkan. Pada sisi yang lain, pohon adalah simbol keberlangsungan masa. Masa bahagia kita, keriangan kita, perjalanan kita mendaki untuk menuju mata air, canda-tawa kita, sendau-gurau kita, dll, sekarang ini hanya tinggal kita kenang tanpa jasad yang hidup. Tapi pohon yang kita tanam, dengan wujudnya yang nyata bersedia melanjutkan kisah bahagia, keriangan, dan semangat persaudaraan kita secara terus-menerus, bahkan tumbuh semakin besar. Untuk itu seiring dengan makin membesarnya sang pohon, jangan berhenti kita melanjutkan kisah kita dengan cara yang sama. Terus tumbuh, membesar, dan kelak membuahkan hasil.
Plettonic telah ditanam di musim yang sangat tepat, di tengah hujan anugrah. Kini sudah mulai berkecambah, jangan puas mati sebagai kecambah. Jadilah pohon besar, berbuahlah. Semangat jangan meredup. Dengan begitu kita telah menyuburkan yang telah hidup. Tetap semangat dan teguhkan hati!!
Ucapan terimakasih sedalam-dalamnya bagi semua pihak yang telah mendukung terselenggaranya acara ini. Kepada Honda, kepada Indosat, dan semua pihak terkait.
No current events.