|
Barusan saya nrima sms dari salah seorang kawan sesama penghuni di
nDusun CereTelu, "Halo Meta... makasih sms-nya, mpek-mpeknya nggak
keburu-buru kok. Iyah, yang big size, kalo bisa double big size,
kekeke..." Isi sms-nya "Selamat Hari Persabatan Dunia. Salam
kekeluargaan." Sedikit kaget saya menerima sms ini, karena entah kenapa
kok hari ini (sebelum saya menerima sms ini) rasanya saya jadi lebih
merasa sayang kepada teman-teman saya (hiperbolis sekali). Bercanda,
itu cuma bercanda. Tapi serius, ternyata memang sepenting itu arti
sebuah persahabatan, sampai-sampai dibuat satu hari khusus sebagai
peringatan.
Persahabatan, sebenarnya seberapa penting itu untuk
kita? Untuk saya pribadi, sebuah persahabatan sangatlah penting. Pada
dasarnya manusia adalah makhluk sosial, yang butuh untuk
bersosialisasi, berkumpul. Tetapi di sisi lain, manusia juga adalah
makhluk yang terdiri dari ego, "kemenangan" dari sang ego ini membuat
manusia jadi egois.
Keberadaan sahabat, untuk
saya sangat membantu dalam meredam ego ini. Kebutuhan untuk
mendengarkan dan didengarkan, saling berbagi, saling berdekatan, bahkan
saling "bertengkar" membuat sebuah persahabatan menjadi penting.
Teorinya, sahabat adalah orang yang bisa menerimamu apa adanya. Saat
kamu benar dia akan mendukungmu, saat kamu salah dia akan memberitahumu
kalau kamu salah, "menyalahkan" kesalahanmu tetapi bukan menyalahkan
hidupmu, tidak men-‘cap’-mu karena kesalahanmu dan tetap di sisimu
untuk membantumu memperbaiki kesalahanmu. Teorinya, sahabat adalah
orang yang mungkin tidak akan selalu ada bersamamu terus-menerus,
tetapi dia bisa menjadi orang pertama yang ikhlas kamu hubungi kapan
pun dan di manapun hanya untuk mendengarkan keluh kesahmu. Teorinya,
seorang sahabat adalah orang di mana kita sanggup untuk
“berdarah-darah” karena membelanya, rela melakukan apa saja hanya untuk
melihat senyumnya mekar kembali.
Itu teorinya...
prakteknya ternyata sulit, bisa jadi karena hal-hal di luar kendali
kita. Tetapi bukan tidak mungkin untuk dipelajari. Dimulai dari diri
sendiri. Meredam ego, mencoba berkompromi, bertanggung jawab atas semua
perbuatan, menghargai orang lain, rela membuka hati dan telinga untuk
mendengarkan, tetap berbicara dengan nada santai dan kalem walaupun
diri sedang dikuasai emosi, dan yang penting adalah... senyum. Mungkin
kalau kita kucing, kita bisa bertingkah menggemaskan, bermanja-manja
dan mengelendot di kaki seseorang, dan mengeluarkan suara "Miauw..."
yang lucu. Atau kalau kita anjing, kita bisa memasang tampang lucu dan
mengibas-ngibaskan ekor sebagai tanda persahabatan. Tetapi kita bukan
kucing, bukan pula anjing. Kita tidak punya suara “Miauw” yang lucu
atau ekor untuk dikibas-kibaskan. Tetapi kita punya senyum.
Menurut David J. Lieberman, Ph.D, senyum (ikhlas), mengandung 4 hal penting: kepercayaan diri, kegembiraan, antusiasme,penerimaan.
Kamu tersenyum (mekar, ikhlas dari hati) memperlihatkan bahwa kamu
yakin dengan diri kamu dan keadaan sekitarmu. Kamu tersenyum, berarti
kamu menunjukkan pada orang-orang di sekitarmu bahwa kamu menganggap
mereka menyenangkan (dan setiap orang pasti merasa senang kalau
dianggap menyenangkan). Kamu tersenyum, kamu menyiratkan bahwa kamu
tulus menerima dia apa adanya. dan
Saya sendiri tidak
mempunyai banyak sahabat. Lima jarimu, cukup untuk menghitung berapa
sahabat saya. Saat saya merasakan mereka menjauh, atau ‘insting’ saya
merasakan bahwa mereka tidak nyaman bersama saya, membuat saya berpikir
“Apa ada yang salah dengan saya? Apa ada yang salah dengan keadaan
ini?” Yang saya tahu adalah saya sangat menghargai keberadaan para
sahabat saya, tetapi apakah mereka sudah merasa cukup dengan
penghargaan yang saya berikan. Lebih parah lagi, apakah mereka tahu
bahwa saya sebenarnya merasa sangat nyaman dengan keberadaan mereka.
Berpikir
seperti ini membuat saya tiba di satu titik. Bahwa mungkin selama ini
konsep saya tentang sebuah persahabatan itu salah. Saya dan mungkin ada
banyak orang lain, sering menganggap bahwa sahabat adalah orang tempat
kita bisa berkeluh kesah tentang apa saja. Tetapi pernahkah kita
berpikir bahwa mereka juga manusia yang JUGA membutuhkan tempat untuk
berkeluh kesah? Bahwa mereka juga manusia dengan segala
keterbatasannya, manusia yang juga butuh untuk dibahagiakan, dicintai,
dan dimengerti... diberi, bukan hanya memberi, diterima...bukan hanya
menerima.
Ada yang pernah berkata kepada saya, "Sesuatu akan menjadi sangat berharga saat kamu sudah kehilangannya."
Bisa jadi itu benar, bisa jadi itu salah, tergantung bagaimana kita
menyikapinya. Jadi begini, haruskah kita benar-benar kehilangan dulu
baru kemudian kita menyadari bahwa dia berharga tetapi semua sudah
terlambat, dan kita tidak bisa membalikkan keadaan seperti semula?
Tidak. Tidak harus begitu. Mungkin, dari sekarang kita tidak perlulah
membuang-buang waktu untuk hal-hal yang tidak berguna. Mulai mencintai
apa yang kita miliki, bukan yang kita inginkan.
Seorang
sahabat, dia bukan dewa, dia bukan yang maha segalanya. Dia juga
manusia, sama seperti kita. Mulailah memikirkan hal-hal yang
menyenangkan yang mungkin belum kamu lakukan untuk sahabatmu. Beritahu
sahabatmu bahwa mereka berharga, bahwa kamu merasa nyaman berada di
dekatnya, apa pun dan bagaimanapun keadaannya. Beritahu sahabatmu,
bahwa kamu bersedia dihubungi kapan pun hanya untuk mendengarkan keluh
kesahnya, "Ini jerawatku kok tambah banyak yah..." Atau tersenyum
menyenangkan karena gerutuannya tentang kamu, "Kamu kok hari ini
menyebalkan sih?"
 |