REMAJA SOLO HARUS MELEK BUDAYA

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Written by zakky zulhazmi Thursday, 19 February 2009 00:00

Sahabat, inilah artikelku yang pernah jadi juara 2. Bentuk keprihatinanku terhadap remaja kota Solo. Selamat menikmati.

REMAJA SOLO HARUS MELEK BUDAYA

Apabila mencermati perkembangan remaja akhir-akhir ini, terutama di Kota Solo, kita patut mengelus dada. Remaja Solo telah hilang Solo-nya. Segala bentuk modernisasi mereka telan mentah-mentah tanpa filterisasi. Hal ini terlihat jelas dari gaya hidup mereka yang semakin jauh meninggalkan budaya luhur masyarakat Jawa. Kian hari makin kecil saja persentase remaja yang masih memperhatikan subosito atau tata krama Jawa yang tercermin dari tutur kata dan perilaku mereka.


Ini baru sebatas kasat mata. Jika kita korek lebih dalam, kita akan semakin miris dengan “kebutaan” remaja Solo akan khazanah budaya daerahnya sendiri. Coba saja kita cari beberapa remaja asli Solo, kemudian kita minta untuk membaca aksara Jawa. Atau kita suruh untuk berbicara dengan bahasa krama inggil. Atau mungkin menyanyikan salah satu langgam Jawa. Bisa dipastikan yang melakukannya dengan baik dan benar dapat dihitung dengan jari.


Ironis memang, di tengah gencar-gencarnya Pemkot Solo mendengungkan jargon Solo The Spirit of Java, remaja Kota Bengawan ini justru berbangga dengan Western Culture yang mereka tunjukkan di kehidupan keseharian. Mereka lebih bangga berbicara dengan bahasa loe-gue daripada berbahasa Jawa. Bahkan banyak remaja yang gagap berbicara krama inggil untuk berkomunikasi dengan orang yang lebih tua. Remaja Solo juga lebih gemar menonton di bioskop ber-AC ketimbang duduk di bangku-bangku kayu menyaksikan ketoprak atau pagelaran seni tradisional lainnya. Mereka malu menunjukkan kejawaan mereka.


Fleksibilitas Budaya

Kenyataan-kenyataan pahit yang menimpa remaja Solo ini tak bisa dibiarkan berlarut-larut. Harus ada langkah-langkah konkret yang diambil, baik oleh pemerintah, lembaga pendidikan dan masyarakat guna memecahkan masalah ini. Sebab masuknya budaya asing dalam suatu daerah harus diimbangi dengan pelestarian budaya lokal oleh semua komponen masyarakat, termasuk di dalamnya remaja.


Akar dari permasalahan ini sebenarnya adalah remaja Solo mayoritas merasa malu apabila mereka mengenakan atribut dan berperilaku dengan budaya Jawa. Takut dianggap tidak gaul serta ketinggalan zaman.
Maka, solusi yang tepat adalah bagaimana mengemas budaya Solo dalam konteks kekinian serta selaras dengan dunia remaja. Budaya harus fleksibel. Namun tetap tak kehilangan esensi serta substansi pokok budaya itu sendiri.
Dalam mengemas batik contohnya. Remaja semestinya mulai dikenalkan dengan batik-batik yang bercorak sesuai dengan selera mereka. Jika mereka terbiasa mengenakan batik semacam ini dalam acara-acara resmi, niscaya budaya berbusana batik dapat tertanam dalam diri mereka.
Serta dapat menghapus kesan bahwa batik selalu identik dengan kalangan tua.

Kebijakan beberapa sekolah menengah di Solo untuk mewajibkan siswa-siswinya berseragam batik di hari-hari tertentu juga merupakan terobosan efisien untuk membumikan batik di kalangan remaja.
Demikian halnya dalam pertunjukan-pertunjukan seni tradisional semisal ketoprak, wayang dan pagelaran tari. Sudah saatnya kesenian-kesenian seperti itu bisa lebih fleksibel, agar memasuki dunia kerja. Lakon-lakon dalam ketoprak tidak melulu mengangkat cerita pewayangan. Sesekali kisah zaman sekarang mulai dipentaskan. Agar ketoprak tidak lagi terkesan ndeso dan membuat remaja enggan menontonnya. Konsep seperti ini juga dapat diaplikasikan pada kesenian lainnya.


Lepas dari itu semua, yang tak kalah penting adalah bagaimana mengarahkan remaja berperilaku njawani. Mengenai hal ini Dr Santosa Slar MA M Mus, dosen ISI Solo, menegaskan bahwa budaya itu bukan saja sebatas pada bidang kesenian. Namun di segala aspek kehidupan juga mesti memakai budaya. Selama ini ada penilaian bahwa berbudaya itu untuk kalangan seniman atau kalangan tertentu saja. Sehingga menyebabkan keengganan mengenal budaya lebih dalam bagi remaja.


Dalam hal ini peran keluarga dan lembaga pendidikan sangatlah vital. Orangtua dalam mendidik anak selain memberikan pelajaran moral, juga harus memberikan contoh berperilaku  yang njawani. Sebab teladan yang diberikan lebih mudah terpatri dan dihayati daripada sekadar nasihat.
Sekolah pun dalam memberikan pelajaran Bahasa Jawa diharapkan tidak sebatas mengenalkan aksara Jawa serta gramatikal bahasanya. Lebih dari itu pelajaran tata krama yang berlandaskan nilai-nilai budaya Jawa yang adiluhung harus lebih ditekankan.


Beberapa cara di atas dapat dicoba sebagai alternatif agar remaja Solo lebih melek budaya. Karena bagaimanapun merekalah yang kelak akan mewarisi budaya Jawa lantas melestarikannya.

Penulis adalah Juara II Lomba Karya Tulis Pendidikan Kategori SMA dan Sederajat Tingkat Kota Surakarta Tahun 2008

(http://harianjoglosemar.com)

 

Events

No current events.

Tips dan Trik, Software Gratis