|
"Tentu Mengejutkan jika kesan ndeso yang sangat dijauhi oleh dunia
entertainment tiba-tiba menjadi identitas dari sebuah grup band. Jika
simbol ini dijadikan energi akan sangat dasyat!"Pertama kali saya
terkesan dengan Letto ada karena jargon yang dimunculkannya sebagai "band ndeso".
Bukan karena saya juga juga "wong ndeso" yang membuat saya tertarik
dengan band ini. Yang membuat saya terkesan adalah keberaniannya untuk
mengusung sesuatu yang ditinggalkan oleh banyak orang. Rano Karno
misalnya, lebih terkenal sebagai "si Doel Anak Sekolahan" yang identik
dengan tokoh betawi totok yang hidup di ibukota daripada sekedar anak
kampong. Meskipun jujur saja saya belum pernah menemukan orang Betawi
yang bernama Rano Karno. Adanya jiung, mamat, dulah, dll. Itu karena Betawi tidak dianggap sebagai ndeso seperti Jowo dan pulau-pulau lain
diluar kota-kota besar, makanya rano milih jadi Betawi daripada ngikut
leluhurnya. Inul Daratista yang asli dari kampung kecil di Jawa Timur
saja kini sudah tidak bisa lagi dilihat sebagai seorang "ndeso" . Bahasanya sudah lu-lu gue-gue, ini belum termasuk dandanannya yang jika
dilihat dari jauh seperti "bangjo". Artinya simbol "ndeso" seakan-akan
merupakan sebuah simbol yang harus ditinggalkan sebagai sebuah syarat
kemajuan dan bisa diterima dikomunitas masyarakat modern. Lha tiba-tiba
sekarang sebuah grup band yang sedang naik daun justru memakai memakai
symbol "ndeso" sebagai identitas. Sungguh grup musik yang aneh!
Saya tidak benar-benar yakin bahwa teman-teman Letto benar-benar "wong
ndeso" yang udik, yang masih menyebut stasiun dengan stapsiun dan
menyebut TV dengan radio gambar. Darimana bisa menyebut mereka sebagai
ndesit kalo sang vokalis saja lulusan "luar negeri", sementara yang
lain adalah kuliah di universitas paling terkenal di Indonesia.
Meskipun sama-sama wong ndeso kayaknya faktor ini yang membuat mereka
berbeda sekali dengan nasib saya. Saya juga nggak yakin kalo mereka
nggak kenal dengan salon, spa, café, fast food atau playstation. Jadi sebenarnya
dimana letak ndesonya Letto itu. Saya takut jangan-jangan teman-teman
ini cuma pengen sekedar "beda" saja dengan band-band lain alias sensasi.
Saya berharap teman-teman Letto memahami secara utuh makna dan
kedasyatan dari symbol "ndeso" yang mereka pergunakan. Saya kira secara
substansial adalah sebuah anggapan yang kurang pinter kalo mengatakan
bahwa ndeso itu adalah sesuatu yang kuno, kerdil, terbelakang,
uncivilized dan manghambat modernisasi dan teknologi. Kultur Jowo Ndeso
itu sebenarnya adalah sebuah spirit dan instrument yang dasyat jika
digunakan dengan benar (kecuali oleh pendekar berwatak jahat, hehehe...).
Methode dan strategi ndesolah yang membuat Soeharto berkuasa selama 32
tahun. Sementara Gus Dur dan Mega yang meninggalkan itu cuma kebagian
masing-masing setengah babak, bahkan Habibie cuma dapat perpanjangan
waktu. Kita belum tau seberapa lama SBY mampu jadi penguasa. Jadi
menurut saya jangan sampai symbol ndeso hanya sekedar menjadi "stempel"
tanpa makna.
Kalo mau lebih mudah sebenarnya ya jadi band-band kota saja. Karena
yang perlu dipikirkan cuma show, penjualan kaset, beli rumah dan mobil.
Kalo sukses tinggal menikmati hura-hura dan ajib-ajib di night club dan
cafe-cafe. Kalo kurang seru bikin pesta narkoba dan ditemani oleh
gundik-gundik, mau yang local atau interlokal asal punya duit, dijamin
gampang. Nanti kalo pas liburan jalan-jalan keluar negeri. Mau cari
pacar gampang! Di Jakarta mulai yang tipe 36 hingga penthouse semuanya
ada! Tinggal mau cari yang jam-jaman, harian, bulanan atau tahunan.
Semuanya bisa diatur! Show ke daerah-daerah fasilitasnya bisa milih!
Minta hotel berbintang yang adem! Kalo tidur tinggal pilih selimut yang
hangat atau yang hidup, semua bisa diatur bersama EO!
Jadi sebenarnya disinilah letak kegembiraan saya. Letto hadir dengan
symbol ndesonya yang kita tahu terkenal dengan kebersamaan, gotong
royong, tolong menolong dan harmoni. Ing ngarso sung tulodo ing madyo
mangun karso tut wuri handayani. Tinggal metodenya diolah seperti apa
sehingga mampu membangun taste tersendiri. Ndeso tidak ada hubungannya
dengan salon, spa, facial, dll. Memakai baju merk Cardinal, Lea, Levis's atau Black ID nggak masalah. Itu tidak ada hubungannya dengan
ndeso dan kutho. Ndeso tidak berarti Letto mesti berpakaian
compang-cambing yang robek, nggak perlu pake beskap dan blangkon.
Karena itu bukan ukurannya. Ndeso merupakan spirit yang luar biasa yang
menjadi motor penggerak bagi keberlangsungan republic Letto ini. Letto
harus mampu membuatnya menjadi sebuah spirit sehingga mampu menjadi
sebuah grup musik terdepan yang berkarakter. Untuk sementara bolehlah
memakai strategi gerilya dulu sebelum mengepakkan sayap yang mampu
mengguncang dunia pada masa yang akan datang.
Saya nggak ngerti apa nyambung tulisan saya dengan cita-cita Letto.
Namanya juga wong ndeso mas. Bisanya yo sukur ngomong tanpa ada rem.
Terbiasa jujur dan blak-blakan, nggak bisa memoles kata-kata dan
membungkusnya dengan manis seperti orang-orang kota. Namun percayalah
bahwa saya memiliki keinginan yang besar agar letto mampu bertarung
melawan dunia ini. Teruslah berjuang teman-teman! Jadilah yang terbaik!
Saya cuma bisa berdoa dan beli kasetnya satu biji saja pada tiap album!
 |