Kemana Indonesia akan melangkah? pasti banyak argumentasi yang intelek dan sangat mengagumkan. Indonesia pasti harus unggul harus lebih dibanding negara lain di dunia. Ketika ada fenomena dunia tentang parameter dan kegandrungan dalam berbagai kasus, Indonesia serta-merta tidak mau kalah dalam ambil bagian. Mulai dari seni hingga ilmu pengetahuan. Ingat bukan? Ketika rapp sedang trend, kelompok rapper kita muncul dengan prestasi ngrapp-nya. Kemudian ketika ada fenomena House music, bahkan lagu dangdut pun di house-music-kan. Lalu muncul lagi fenomena goyang Aserehe, tiba-tiba banyak kursus-kursus dan klub kebugaran membuka kelas khusus untuk memperdalam gerak ini. Bukan cuman itu, Indonesia tiba-tiba unggul dalam hal Demokrasi, HAM, dan Toleransi. Lhoh bukankah itu bagian dari sejarah kita? hanya kelihatan baru setelah dunia Barat menciptakan istilahnya. Semua hal yang pernah diciptakan bangsa ini terlanjur ditinggalkan, dan hal-hal baru ternyata terus bermunculan dan selalu ingin dikuasai. Bangsa ini sekarang sudah kelelahan mengejar, sekarang sedang ingin berhenti dan disuruh meninjau kembali perilaku asli negeri. ini.
Jombang
Kita mengenal Jombang banyak melahirkan tokoh-tokoh nasional dengan kelebihan masing-masing. Hadlratus Syeikh Hasyim Asy'ari pendiri NU, KH. Wahid Hasyim, Cak Durasim yang pemberani, Asmuni dengan lawakannya yang cerdas, ada Gombloh dengan legenda karyanya, KH. Abu Bakar Ba'asyir, Gus Dur yang pernah menjadi presiden RI, Cak Nur yang intektual, Cak Nun yang kontroversial tapi tajam analisisnya, dan banyak tokoh lain yang berasal dari Jombang, Wardah hafidh tokoh perempuan yang tampil beda. Sepertinya ciri khas dari tokoh Jombang adalah membawa pesan kepada Negeri.
Akhir-akhir ini ada Ryan dan kemudian Ponari, mungkin tokoh-tokoh sekelas nama-nama di atas sedang tidak trend untuk negeri ini. Meski demikian seperti halnya tokoh-tokoh Jombang sebelumnya, Ryan mungkin ingin menjadi pembawa pesan tentang rasa aman, keamanan, hukum dan seluk-beluk penyimpangan perilaku yang keluar dari koridor. Hanya saja Ryan nggak tahu kalau dia pembawa pesan.
Kemudian anak kecil Ponari. Karena Jombang sudah mbludak tokoh-tokoh besar, maka sudah saatnya anak kecil Jombang tampil untuk Indonesia. Beberapa tokoh besar dari Jombang sepertinya terlalu jadul dan kurang sesuai dengan tingkat kedewasaan bangsa ini. Atau mungkin sebenarnya sangat dewasa hanya sedang sakit, maka sebagai jawabannya Jombang menghadirkan Ponari yang berperan sebagai penyembuh dan sekedar anak-anak.
Batu Hitam dan Hajar Aswad
Hajar Aswad yang selalu dikelilingi umat Islam dengan penuh takzim dan kepasrahan mungkin menjadi isyarat bahwa batu hitam merupakan wilayah yang bernuansa kepasrahan. Batu juga di dalam Al-Qur'an dipakai untuk menggambarkan kerasnya hati seseorang yang tidak mau membuka kebenaran. Batu Hitam Ponari bisa jadi adalah penggalan kharisma Hajar Aswad. Bila yang hitam adalah batu mungkin bisa menjadi lebih berguna daripada hati yang yang mengeras bagai batu dan bernoda hitam sebab perilaku kotor roda kebijakan.
Menyimpang
Proses pengobatan Ponari dianggap menyimpang oleh berbagai kalangan. Bahkan ada yang mengaku Ulama dengan tegas melarang-larang dengan dalih kemusyrikan. Namun sadarkah bahwa kehadiran Ponari ingin memberikan jawaban lebih tegas terhadap pola pikir bangsa yang selalu terpengaruh pemikiran yang sok intelek dan sok beriman. Sudah carut marut nyatanya perilaku sosial, politik, dan budaya.
Ponari ingin menyampaikan kepada Indonesia,
"Emang sakit harus dengan dokter? gimana kalau bisa manusia biasa?"
"Apakah sembuh harus dengan obat? gimana kalau ternyata bisa pakai batu?"
"Apakah menyembuhkan harus orang dewasa? gimana kalau orang dewasa nggak bisa diandalkan?"
"Apakah kepandaian harus dengan tingkat pendidikan tinggi? gimana kalau pendidikan tinggi tapi nggak nalar?"
"Apakah bangsa ini masih ingin minta tolong dan berharap pada calon pemimpin yang sepertinya mampu? mengapa tidak mencari yang mampu?"
"Apakah bangsa ini harus kampanye, coblosan, punya pemimpin, makmur? gimana kalau kampanye tapi bertarung pengaruh meski sama dalam visi misi? gimana kalau coblosan tapi nggak kenal sama yang di coblos? gimana punya pemimpin tapi buta track recordnya? gimana bisa makmur kalau rakyat bukan prioritas?"
Kemudian ada yang menjawab, tapi kan semua cara itu sah dan diakui oleh dunia? Semestinya memang harus ada kampanye, setiap calon pemimpin harus punya partai, setiap partai harus punya visi dan misi, setiap calon pemimpin harus punya kekayaan sekian milyar, kalau nggak!!! apa kata dunia???
Kemudian Ponari mengulang pertanyaannya..
"Emang sakit harus dengan dokter? gimana kalau bisa manusia biasa? kalian terlalu mendewakan formalitas dan mengabaikan jasa!!"
"Apakah sembuh harus dengan obat? gimana kalau ternyata bisa pakai batu? kalian terlalu bodoh berkutat pada satu pemahaman!!"
"Apakah menyembuhkan harus orang dewasa? gimana kalau orang dewasa nggak bisa diandalkan? kalian terlalu normatif sehingga lupa esensi!!"
"Apakah kepandaian harus dengan tingkat pendidikan tinggi? gimana kalau pendidikan tinggi tapi nggak nalar? kalian makin tidak mengenal ilmu soal keteduhan embun dan kesabaran bumi, ketika semua itu tidak kamu jumpai dalam mata kuliah!!"
"Apakah bangsa ini masih ingin minta tolong dan berharap pada calon pemimpin yang sepertinya mampu? mengapa tidak mencari yang mampu? kalian tidak menengok sejarah dan perbuatan tulus permata negeri ini yang hanya karena mereka tidak narsis memamerkan mukanya akhirnya kalian lupa!!"
"Apakah kemakmuran bangsa ini harus kampanye, coblosan, punya pemimpin, lalu makmur?"
"gimana kalau kampanye tapi bertarung pengaruh meski sama dalam visi misi? kalian jadi mainan kata-kata!!"
"gimana kalau coblosan tapi nggak kenal sama yang di coblos? kalian hanya aset!!"
"gimana punya pemimpin tapi buta track recordnya? kalian akan dilupakan!!"
"gimana bisa makmur kalau rakyat bukan prioritas? kalian akan diusir dan dibelai kembali ketika dibutuhkan lima tahun mendatang"
"Kenapa kamu tidak mencoba berthawaf dengan mengelilingi hatimu, mengoreksi lagi dan mereview sikap sok pintarmu, mengapa kamu tidak belajar untuk berserah-diri?"
Wallahua'lambishawab