|
(Setelah dua kali kemaren kita mengangkat topik bahasan khusus, kali
ini cerpen aja, biar nggak jenuh yaa?. Tulisan ini dibuat sudah lama
seh sekitar 2003-an tapi mudah-mudahan masih ada sisi pesan yang masih
aktual. Ayo yang punya cerpen ngikoooooooooooooot......)
Hitam dan lurus, begitulah rambut yang aku miliki.
Banyak yang bilang rambutku indah dan lebat. Tapi aku lebih senang pada
kulitku, setiap hari aku rawat dan aku perhatikan. Kasar atau bersisik
adalah satu hal yang membuatku risih untuk memiliki. Jadi pada siku
hingga telapak kaki, kulitku yang kuning itu mulus, lembut dan selalu
bersih. Kebersihan diri memang aku biasakan sejak kecil.
Berumur
tiga belas tahun, ada hal yang menakjubkan pada diriku. Kini bentukku
telah mulai tampak sempurna. Seperti layaknya perempuan dewasa. Aku
tumbuh menjadi seorang gadis, dadaku mulai tumbuh, dan pinggulku mulai
membesar. Bangga juga aku dibuatnya, rambutku makin indah, hidungku
selalu dapat pujian, bulu mataku yang lentik dengan mata yang bening
ini dibilang seperti mata elang. Indah sekali kiranya bila kupakai
celana ketat seperti Britney Spears, pasti aku kelihatan seksi dan enak
dilihat. Biar bukan aku saja yang bisa melihat perubahan dramatis pada
tubuhku.
Sebenarnya pinggul dan dadaku belum
begitu besar, tapi aku ingin melihat reaksi laki-laki saat melihatnya
dengan busana ketatku. Kupilih warna kuning, warna yang mencolok untuk
kausku. Kemudian jeans hitam dengan aksen belel di paha, “Hmm.. emang
udah kayak gadis dewasa!”. Kini aku tahu ternyata penampilanku berhasil
membuat laki-laki memandangiku. Kini aku berani menilai diriku bahwa
aku memang indah.
Tapi selalu ada hal lain
yang membuat aku belum puas. Yakni gaya bicaraku yang dianggap masih
kekanak-kanakan. Aku mempelajari gaya bicara gadis-gadis dewasa
pujaanku. Ada Nur Sitizaliha seorang penyanyi jiran. Ada Priskayanti,
dan ada Imul Parasita. Tampaknya susah bergaya bicara ala Siti, bukan
karena dialek asingnya, namun ada hal lain yang tak aku miliki, aku
nggak tahu!. Susah juga bergaya bicara seperti Priskayanti karena aku
nggak begitu pintar dan pengetahuanku tak seluas Priskayanti, aku nggak
mau memaksakan diri. Bukan pula Imul, meskipun gaya bicaranya mudah
untuk aku tiru namun masalahnya, kebanyakan laki-laki hanya senang
dengan gaya panggungnya, bukan gaya bicaranya. Yang paling praktis
menurutku aku harus jadi diriku sendiri, yang paling mudah aku lakukan,
dan yang lebih penting harus mengundang ketertarikan laki-laki.
Ketertarikan laki-laki sangat penting artinya karena berarti itu adalah
sebuah legitimasi teradapku bahwa aku telah berhasil menjadi gadis
dewasa.
Akhirnya satu lelaki tertarik kepadaku.
Dua, tiga, hingga beberapa. Aku jual mahal dikit. Dikejar-kejar
laki-laki merupakan kebanggaan tersendiri. Lagian aku nggak mau
laki-laki yang mendekatiku gampang patah semangat.
Akhirnya
aku pacaran juga dengan salah satunya. Pasti banyak yang kecewa, tapi
bukankah cinta nggak dapat dipaksa? Diajaklah aku ke tempat-tempat
indah dan romantis. Sesuai dengan seleraku yang gemar dengan
kesenangan. Aku jadi hanyut dan begitu menyayanginya. Sepertinya aku
tak ingin lepas dari dirinya. Aku dimanjakan, dan diperlakukan seperti
ratu. Sebagai kompensasinya, aku berikan apa kemauannya. Apa yang aku
terima darinya sepertinya mengalir terus. Seperti juga pemberianku
padanya, aku berikan padanya pipiku, bibirku, dadaku, pinggulku,
tubuhku, untuk dijamah dan dia miliki. Aku pasrah. Aku tak berdaya
menolak dan nggak mau menolak. Seperti mengalir begitu saja.
Tapi
akhirnya dia meninggalkanku. Alasannya, setelah kejadian itu aku jadi
gampang marah, pencemburu, dan tidak romantis lagi. Tapi kemarahanku
sebenarnya hanya ingin menguji kasih sayangnya, aku takut kehilangan
dia setelah dia mendapat segalanya dariku. Ternyata betapa aku sangat
takut kehilangan, kini dia telah meninggalkanku. Tak berperasaan.
Kini
umurku tujuh belas tahun. Aku telah sangat berpengalaman dalam hal
berhubungan dengan laki-laki. Dari cara mendekati, gaya pacaran, hingga
bagaimana membawanya ke sebuah sensasi yang pasti membuatnya bahagia.
Tapi aku merasa tak pantas lagi untuk memilih-milih. Aku takut
mengecewakan pilihanku. Aku hanya mencari lelaki yang mencintaiku dan
mengerti keadaanku. Meskipun sebagai perempuan sebenarnya aku tetap
mengharapkan kehadiran laki-laki yang baik dan setia. Tapi dibanding
lelaki idamanku itu, seberapa nilai diriku sekarang.
Aku
kini sering gonta-ganti pacar, dari teman-temanku di SMU sampai
anak-anak kuliah yang senang dengan cewek sekolahan. Nggak ada rasa
cinta, hanya hura-hura, dan kesenangan sesaat. Aku ingin melampiaskan
kekesalanku dengan menikmati nasibku sekarang. Aku nggak mau hanyut
dalam kepedihan. Aku harus menerima kenyataan bahwa aku takkan kembali
semula. Aku sudah rusak dan kerusakanku ini tak boleh membuat aku
menyerah. Entah sudah berapa laki-laki yang berkelahi karena aku,
berapa banyak perempuan mengancamku. Entah berapa banyak laki-laki
ngajak aku pergi. Dan nggak aku ingat betul, sudah berapa laki-laki
yang berbagi kehangatan atas diriku. Berapa banyak pula laki-laki yang
menderita, karena hanyut mencintaiku. Hidupku memang begini, mudah
digapai, mudah memberi dan mudah melupakan. Banyak laki-laki patah hati
karena aku, tapi aku memang harus memberi pengalaman pada kehidupannya.
Bahwa hidup tak selamanya seperti impian. Ada senang ada sedih, ada
pahit ada getir, itulah kenyataan hidup. Tak bisa ditangkal dan tak
bisa dielak, yang penting jangan patah atau menyerah. Tetap jalani
hidup, tetap dinikmati dan terima apa adanya. Seperti sikapku.
Kini
umurku dua puluh enam tahun. Aku makin cantik dan kini aku tak perlu
gonta-ganti laki-laki. Ada seorang anak pejabat yang memberikan aku
kebahagiaan. Rumah mewah, mobil mewah, uang belanja, jalan-jalan ke
luar negeri, dan party-party yang hampir tiap hari. Inilah hikmah dari
penderitaanku. Hidupku telah mapan dan kenangan pahit di masa lalu
hanyalah goresan pahit yang mengantarkan aku pada keadaan sekarang.
Syaratnya hanya satu, tak boleh menghanyutkan diri dalam cinta atau
semua kepahitan itu kembali lagi.
Kini umurku
duapuluh delapan tahun. Teman-teman sebayaku pasti banyak yang bahkan
sudah punya anak. Bentukku semakin sempurna untuk penampilan seorang
perempuan dewasa. Tapi hingga kini aku belum menikah. Aku masih
menyenangi kesendirian ini dengan segala kemewahan yang seperti tak
pernah berhenti. Kalau lagi suntuk biasa aku nikmati kota ini dengan
sedan biruku, sambil sedikit mengenang masa-masa lalu.
Tiba
kupandangi seseorang yang sepertinya aku kenal, Kartii!!! Tak mungkin
akau salah terka, hitam, hidung besar, dan rambut ikal. Hey dia sudah
bersuami dan bahkan memiliki seorang anak yang lucu, suaminya gagah
kayaknya angkatan. Aku berhenti dan mereka aku traktir minum di sebuah
tenda es cendol. Tidak menyangka mengingat dia sangat introvert waktu
SMU, dia sering menjadi bahan ejekan, tapi dia nggak peduli dan memang
dia membuktikannya hari ini bahwa semua ejekan anak-anak sekolahan
menengah itu itu tidak perlu dia tanggapi. Diam diam aku cemburu dengan
kehidupannya. Mereka hidup berumah-tangga. Memiliki anak-anak yang
mungil dan lucu-lucu, dan merawatnya dengan penuh cinta, ...Cinta..., .
Telah lama kata-kata itu menjadi benda usang dalam hidupku. Aku memang
tak menghendakinya, pengalamanku soal cinta telah menyadarkanku bahwa
cinta adalah penderitaan. Berbeda dengan hidupku sekarang yang tanpa
cinta, penuh dengan kebahagiaan dan akan terus begini hingga aku bosan.
Jadi kenapa aku harus cemburu pada Karti?.
Tapi
tampaknya kini pun aku mulai bosan, anak pejabat itu kini sering
membawa perempuan muda ke rumah. Aku terbakar. Aku marah. Aku cemburu.
Obat-obatan aku pilih untuk menghiburku. Apakah ini semua berarti aku
telah mencintai laki-laki ini?, atau aku takut kehilangan
kebahagiaanku?. Aku tak ingin mencintai karena bagiku cinta tak
membahagiakan. Namun mengapa, meskipun rumah, mobil, dan fasilitas lain
masih tetap aku miliki, kebahagiaan itu serta-merta sirna tatkala
melihat perempuan muda ini bertingkah mesra dengan lelakiku, di depan
mataku. Hatiku perih, jantungku berdebar-debar. Tubuhku serasa berisi
bara yang menganga yang membuat pandanganku jadi berwarna merah.
Pisau
dengan sidik jariku itu mengakhiri semuanya, itulah bukti yang
memberatkan hingga aku kini berada di teralis besi sebagai hadiah ulang
tahunku ke tigapuluh. Tubuhku telah kering karena obat, kulitku kusam,
dan rambutku tipis. Tak menarik dan malah menakutkan laki-laki.
Belum
sempat aku merasakan satu hal yang dilakukan perempuan dewasa, menikah,
bersuami, memiliki anak, dan mengasuhnya.. Teman-teman sebayaku bahagia
di luar sana dengan kehidupan rumah-tangganya. Bahkan Karti, yang
paling hitam waktu SMU kini telah beranak dua dari laki-laki yang
bertanggung jawab, dan penuh kasih sayang_ sejak pertemuan dua tahun
lalu kami sering kontak, dan kini dialah yang paling setia dan sering
menjengukku di penjara, orang yang pernah sangat meremehkannya_, Sedang
aku?, mungkin umurku nggak akan sampai tigapuluh satu, karena sebentar
lagi aku akan dieksekusi mati. Jaksa penuntut didesak oleh pejabat yang
anaknya aku bunuh juga keluarga dari perempuan itu untuk memberikan
tuntutan maksimal padaku. Sedang pengacaraku tak sangup membela.
Kini,
akhir hidupku telah ditentukan. Pembunuhan itu tak aku sesali, juga
tubuhku yang kini tak menarik, juga gagalnya pengacaraku dalam
membelaku. Satu hal yang aku sesalkan, kenapa aku tak pernah berpikir
untuk merasa malu. Andaikan ada! Sedikit, sedikiiit saja. Mungkin aku
takkan ditelanjangi laki-laki, tak akan kehilangan mahkota, takkan
mengenal kehidupan glamour, takkan hidup dalam kehampaan, aku serius
sekolah, menikah, dan bahagia membina rumah tangga. Ternyata sangat
mulia dan agung menjadi sorang ibu. Mungkin, aku akan benar-benar
sempurna menjadi perempuan dewasa.
Selamat tinggal kawan-kawanku. Jagalah baik-baik rasa malu yang kalian miliki. Semoga kalian selamat.
Demikanlah cerita pendek dari saya, semoga bisa menularkan manfaat.
 |