|
Pengembaraan tiada pernah disebut berakhir karena manusia tak hanya
terletak pada ruang-ruang fisik yang parsial. Manusia meskipun
terkerangkeng dengan diikat kedua tangan dan kakinya dengan rantai yang
menempel di tembok di dalam suatu ruangan bawah tanah yang sangat
kurang dari cahaya, tetapi sebenarnya sedang dalam sebuah pengembaraan.
Adapun ruangan sempit, gelap, berada di bawah tanah itu tidak serta
merta membuat dia kehilangan hubungan dengan dunia luar. Tidak serta
merta membuat dia dilupakan dan ditiadakan. Hakekat dari pengembaraan
adalah pencarian akan hikmah kehidupan dan mencoba mengidentifikasi
segala dinamikanya menjadi unsur positif yang melebur menjadi ilmu
kehidupan.
Terpenjaranya tangan, kaki, dan badan mungkin menjadi
bentuk puasa konkret yang akhirnya menjauhkan dari dosa. Dalam ruangan
sempit menjadi ruang gratis baginya untuk melakukan kontemplasi, dan
menjernihkan segala persoalan.
Ada yang
benar-benar terkerangkeng secara harafiah seperti itu di bumi ini. Ada
juga yang terkerangkeng secara sosial, budaya, ekonomi, dan kerangkeng
lain yang memaksa kebangkitan. Toh sebenarnya, puncak dari
ketertindasan adalah memuncaknya perasaan untuk bangkit dan membela
segala ketimpangan terhadap dirinya dan orang lain.
Ada 3 analogi untuk menggambarkan kebangkitan akibat puncak dari ketertindasan.
Pertama: Analogi Bunga Dan Buah
Kedua: Analogi Kain Dan Seterika
Ketiga: Analogi Cangkul Dan Tanah
ANALOGI BUNGA DAN BUAH
Bunga
adalah keindahan yang menebarkan aroma khas di sekitarnya, umumnya
wangi. Perjalanan hidup sebenernya diformat demikian pula, selaras
sejalan saling menebarkan aroma keindahan, aroma kejujuran_toh ada
bunga yang tidak wangi_, aroma estetika, dan lain sebagainya.
Bunga-bunga saling memberi kekuatan dan bukan ketakutan. Dalam sebuah
taman bunga orang melihat keindahan taman bunga tersebuat karena
keberagamannya, warna-warninya, dan tentunya kandungan nilai
ilahiahnya.
Manusia yang bersama-sama dalam
fungsi dan saling menebarkan kebaikan adalah jembatan menuju
warna-warni kehidupan dan mengundang kandungan ilahiah. Kandungan
ilahiah ini ada yang membahasakannya sebagai harmonisasi, ada pula yang
menyebut sinergi, ada yang mengatakan chi dari yin yang, ada yang
mengistilahkan pluralisme, ada ungkapan keseimbangan dll. Namun
kehidupan tidak selalu berjalan seperti itu karena ada bunga-bunga yang
dia harus rela dihinggapi kumbang, lebah, atau unsur alam yang lain
seperti angin.
Ternyata bunga adalah awal dari
form keindahan karena ada tugas lain dari bunga yaitu meneruskan
keindahannya melalui proses. Proses pembuahahan pada bunga jagung yang
digoyang angin, proses pembuahan pada mangga yang karena terbawa oleh
serangga akhirnya terjadi perkawinan dan terjadilah buah. Dalam satu
perspektif, yakni perspektif bunga yang tergolong flora tentunya
janggal, tidak normal, dan penyimpangan terhadap sebuah proses pada
saat proses itu melibatkan substansi lain untuk kelanjutan perjalanan
kehidupannya. Namun dalam perspektif lebih luas menjadi wajar atau
bahkan wajib terjadi proses itu karena satu substansi sebenarnya tidak
bisa terlepas dari substansi lain meskipun secara kulit sangat berbeda.
Manusia yang akan menjadi buah dialah yang mau
tidak mau menghadapi persoalan berbeda dari bunga lain yang hanya
menyajikan susunan artistik kelopaknya. Manusia yang akan menjadi buah
adalah bunga yang dia tidak hanya hidup sebagai penggembira, yang hanya
sebagai penyaji keindahan. Bunga yang akan menjadi buah, mau tidak mau
harus menghadapi proses yang mungkin janggal, timpang, dan rancu.
Bukan
berarti dalam hal ini segala ketimpangan merupakan wujud pembentukan
buah, apalagi sumbangsih terbesar dalam menata kehidupan lebih baik.
Justru saat membaca tulisan ini yang menjadi persoalan ialah apakah
kita bunga yang menjadi bakal buah? Ataukah bunga yang hanya
memeriahkan warna-warni jaman dengan hanya menyumbang
keindahan-keindahan fisik semata.
ANALOGI KAIN & SETERIKA
Dalam
soal kerapian seterika merupakan idiom yang tepat. Manusia yang hidup
bisa diumpamakan sebagai kain atau baju, yang utamanya tampil bersih
dan rapi. Maski kemudian harus tetap kotor sehingga mau tidak mau mesti
menghadapi proses perendaman, pengucekan, bahkan disikat sana-sikat
sini, dipukul-pukul, diperas, dibilas-bilas, dan dijemur dalam panasnya
hari. Proses itu belum selesai karena akan masih harus menghadapi
polesan akhir yakni diseterika dan dilipat. Baju yang telah selesai
dijemur sehingga kering dan melembap, menjalani proses pemanasan
kembali, proses pengaturan, penekanan sedemikian rupa, sehingga keriput
pada kain menjadi halus dan membawa citra keteraturan, dan kerapian.
Bayangkan kita adalah baju atau kain…, tampil dengan persiapan matang
akan lebih mendapat respon positif dan akan membawa pada penghargaan
dari lingkungan sekitar. Sebenarnya penghargaan itu bukan berlatar pada
keindahan dan prestise tampilan luar, namun lebih kepada ketakziman
atau pengakuan akan latar belakang proses yang tidak semua orang mampu
melakukannya. Sikap penghargaan itu efek naluriah. Namun bagaimana
menjalani proses pematangan itu? Ya berarti itu tergantung kita
masing-masing, toh ibarat kain saya bahkan belum mencapai proses
perendaman. Secara pribadi saya sungguh masih merasa menjadi baju atau
kain yang kotor dan lengket oleh peluh. Jadi tidak memiliki kepantasan
untuk mengajari tentang proses penyucian, penjemuran, dan penyeterikaan
dalam aplikasi kehidupan. Saya justru mengharapkan anda adalah air
saya, sabun saya, tangan-tangan yang memiliki daya peras terhadap
kedunguan saya, sebagai seterika saya senantiasa.
ANALOGI CANGKUL & TANAH
Yang ini saya akan menguraikan dengan cara bercerita atau mendongeng dengan sedikit daya khayal he..he..he .
Pak
Sasmita memiliki lahan yang lumayan luas, yang oleh sebab itu Pak
Sasmita tidak perlu khawatir akan kehidupan kesejahteraan keluarganya.
Lahan yang luas sesialnya masih bisa dijual dan langsung mendapat
tunai. Tiap hari pak Sasmita ke sawah mengolah lahannya itu. Ditanami
padi atau jagung, dirawat, dan diambil hasilnya beberapa bulan
kemudian. Di antara sekian banyak tanah pak Sasmita ternyata hanya
sebagian kecil saja yang sempat terolah secara teratur. Praktis tanah
atau lahan yang lain menjadi lahan yang tidak produktif. Sebagai tanah
yang bertuan, sang tanah merasa sangat iri kepada tanah yang selalu
mendapat perhatian pak Sasmita untuk diolah, dirawat, dan membawa hasil
yang membahagiakan.
Namun diam-diam salah satu
tanah yang selalu diolah pak Sasmita merasa iri juga kepada tanah yang
tidak diolah, mereka tidak pernah merasakan dicangkul, dibajak,
digenangi air, diijak-injak seperti dirinya. Mereka tetap diakui
kepemilikannya namun dibiarkan tidur dan tidak menghasilkan apapun.
Padahal jumlah mereka lebih banyak lebih luas. Berarti pak Sasmita
telah melakukan keberpihakan dan kesewenang-wenangan.
Malam
itu Pak Sasmita yang memiliki kemampuan menangkap isyarat alam mampu
mendengar keluh kesah sang tanah, sehingga ini menjadi keprihatinan Pak
Sasmita. Esoknya Pak Sasmita memutuskan untuk tidak pergi ke sawah yang
tiap hari digarap seperti biasanya. Dia pergi ke lahan lain, tanahnya
yang masih nganggur dan butuh olahan. Sang tanah yang tidak pernah
digarap merasa sangat senang sekali dengan kejutan ini dan bersuka cita
atas perlakuan Pak Sasmita. Ternyata sang tanah telah lama merindukan
cangkul, menantikan genangan air, dan tidak sabar memberi hasil.
Sementara tanah yang tiba-tiba dipalingkan Pak Sasmita sejenak merasa
bersenang hati dan bersuka cita atas kebebasannya namun ternyata hanya
sejenak pada saat dia menyadari ternyata dia bukan lagi sawah atau
ladang namun hanya lahan tidur yang tak memberi manfaat.
Intisari
dari dongeng di atas sebenarnya hanya mengajak pada realitas hidup,
bahwa yang namanya senang dan susah, puas dan kecewa, sehat dan sakit,
merupakan pasangan yang harus kita kenali, kita hayati kandungan
nilainya dan semua pasti pernah atau akan mengalami itu. Tapi, disadari
atau tidak sebagian diri kita masih ingin lari dari keadaan yang
menghimpit, mengoyak, dan merasa bahwa derita yang kita alami
semata-mata adalah penderitaan terberat yang orang lain tidak pernah
merasai penderitaan yang sama.
Semoga bermanfaat.
 |