| 
ShoutBOX |
Latest Message: 1 hour, 35 minutes ago
  • yuwan : hallo..
  • yuwan : akhirnya dah terkumpul..
  • Vhiesta : Assalamu'alaikum Wr.Wb...
  • yuwan : pikunQ parah nih, kumat.. tadi malem baru inget kalo hari ini ada ujian. Doain ya, moga otak pikunQ sukses nginget belajar kebut semalemQ.. Sad
  • yuwan : met pagi semua..
  • inung_sense : telah q temukan pahlawan masa kecilku...
  • inung_sense : doain y... moga inung sukses ujian semester...amin...amin...
  • okta265 : masih ada yang online?
  • aisha : Yup. Emang banyak peran yg sulit dihindari. Kasihan...kalau ada yg 'ga pernah jatuh cinta ampe berdarah-darah. Nikmati aja peranmu dik. Kamu hidup karna darah cinta dan kangen orang lain. Camkan itu..adinda yg Lucu. Tunaikan lah peran mu untuk membenci. Kami berusaha menghargai itu. Exclamation
  • nayla-saiia : wui . orangnyaa sukaa gaa adaa .
  • TikaLucu : Neng Ayu, itu PM saya masuk ngga yak? Soalnya error2, ga tau kenapa Very Happy. Halo juga Very Happy
  • shinta : Halo Dida....hehee..sorry,bs balas, tadi gi sibuk nyari2 sesuatu di internet ^_^
  • dida Farida : mbak Shintaaaaa..
  • inun : gak pernah ada orang
  • inun : kok kalo aku keini selalu aja sepi
  • inung_sense : pilek,cuy!!!hatcing!!!
  • pakpenyo : Selamat Hari Minggu!
  • dida Farida : aku mau UAS niy,doakan ya teman-temaaaan ^.^
  • TikaLucu : T__T
  • TikaLucu : benci dengan kata 'koneksyen taim out' *curhatdotkom*
  • aisha : SEMUA ADA 'MOMENTUM'nya
  • aisha : SEMUA ADA WAKTU NYA
  • aisha : Maaf ya dik...saya belum bisa message balik, udah saya coba tapi agak eror. Salam manis. Laughing
  • aisha : buat adik manis..yasiroh_4mantic...udah klas brapa..tinggal di mana? Razz
  • aisha : mengapa orang tenggelam? Mr. Green
  • mizz onta_kr : kangeeeennnn letto...
  • TikaLucu : wahaha, Letto januari mulai sibuk Wink, semangaaat Very Happy
  • shinta : HAlo Tyttha, Zahra..met tahun baru juga ya..thank you buat kiriman messagenya...
  • shinta : selamat siang semuanya.....
  • irin : Nayla...Ol to???
  • irin : Didamanies...munculo saiki da !!! Coba deloken iki...
  • irin : Assalamu'alaikum....!!!!
  • irin : MANIES SEKALI DADADA....!!!!
  • irin : AKU ISO MLEBU AKIRE.....
  • irin : DIDAMANIES !!!!!
  • miea : xan smw
  • miea : kemana gerangan
  • miea : hum..
  • miea : lama tag sua
  • TikaLucu : siang juga mbak shinta Very Happy
  • shinta : Selamay siang semuanya.....
  • TikaLucu : gajahlah kebersihaan =)), siang semua Very Happy
  • aisha : GAJAH apa yg anti global warming? Mr. Green
  • dida Farida : mari saling menghargai privacy ^.^
  • dida Farida : aisha: sms mas hendra gak dibales? itu bukan wewenangku untuk nyuruh mas hendra mbales thoo Nduk.. aku tidak tahu menahu soal itu..
  • dida Farida : heppi nu year ^.^
  • MYRI OYE : happy new year
  • TikaLucu : Get the new spirit for the new year.. Happy New Year 2009, friends!
  • Vhiesta : Assalamu'alaikum Wr.Wb...
  • TikaLucu : Tar lg taon baru. Hehe ah besok saya pulang, dadah jogjaa...haha,daku tak pernah mlupakanmu.. Ah, tika lebay =))

Only registered users are allowed to post

SKETSA PERENUNGAN PDF Print E-mail
Posted by ampuh! | Friday, 27 April 2007 07:00  |  Articles

Pengembaraan tiada pernah disebut berakhir karena manusia tak hanya terletak pada ruang-ruang fisik yang parsial. Manusia meskipun terkerangkeng dengan diikat kedua tangan dan kakinya dengan rantai yang menempel di tembok di dalam suatu ruangan bawah tanah yang sangat kurang dari cahaya, tetapi sebenarnya sedang dalam sebuah pengembaraan. Adapun ruangan sempit, gelap, berada di bawah tanah itu tidak serta merta membuat dia kehilangan hubungan dengan dunia luar. Tidak serta merta membuat dia dilupakan dan ditiadakan. Hakekat dari pengembaraan adalah pencarian akan hikmah kehidupan dan mencoba mengidentifikasi segala dinamikanya menjadi unsur positif yang melebur menjadi ilmu kehidupan.

Terpenjaranya tangan, kaki, dan badan mungkin menjadi bentuk puasa konkret yang akhirnya menjauhkan dari dosa. Dalam ruangan sempit menjadi ruang gratis baginya untuk melakukan kontemplasi, dan menjernihkan segala persoalan.

Ada yang benar-benar terkerangkeng secara harafiah seperti itu di bumi ini. Ada juga yang terkerangkeng secara sosial, budaya, ekonomi, dan kerangkeng lain yang memaksa kebangkitan. Toh sebenarnya, puncak dari ketertindasan adalah memuncaknya perasaan untuk bangkit dan membela segala ketimpangan terhadap dirinya dan orang lain.

Ada 3 analogi untuk menggambarkan kebangkitan akibat puncak dari ketertindasan.
Pertama: Analogi Bunga Dan Buah
Kedua: Analogi Kain Dan Seterika
Ketiga: Analogi Cangkul Dan Tanah

ANALOGI BUNGA DAN BUAH

Bunga adalah keindahan yang menebarkan aroma khas di sekitarnya, umumnya wangi. Perjalanan hidup sebenernya diformat demikian pula, selaras sejalan saling menebarkan aroma keindahan, aroma kejujuran_toh ada bunga yang tidak wangi_, aroma estetika, dan lain sebagainya. Bunga-bunga saling memberi kekuatan dan bukan ketakutan. Dalam sebuah taman bunga orang melihat keindahan taman bunga tersebuat karena keberagamannya, warna-warninya, dan tentunya kandungan nilai ilahiahnya.

Manusia yang bersama-sama dalam fungsi dan saling menebarkan kebaikan adalah jembatan menuju warna-warni kehidupan dan mengundang kandungan ilahiah. Kandungan ilahiah ini ada yang membahasakannya sebagai harmonisasi, ada pula yang menyebut sinergi, ada yang mengatakan chi dari yin yang, ada yang mengistilahkan pluralisme, ada ungkapan keseimbangan dll. Namun kehidupan tidak selalu berjalan seperti itu karena ada bunga-bunga yang dia harus rela dihinggapi kumbang, lebah, atau unsur alam yang lain seperti angin.

Ternyata bunga adalah awal dari form keindahan karena ada tugas lain dari bunga yaitu meneruskan keindahannya melalui proses. Proses pembuahahan pada bunga jagung yang digoyang angin, proses pembuahan pada mangga yang karena terbawa oleh serangga akhirnya terjadi perkawinan dan terjadilah buah. Dalam satu perspektif, yakni perspektif bunga yang tergolong flora tentunya janggal, tidak normal, dan penyimpangan terhadap sebuah proses pada saat proses itu melibatkan substansi lain untuk kelanjutan perjalanan kehidupannya. Namun dalam perspektif lebih luas menjadi wajar atau bahkan wajib terjadi proses itu karena satu substansi sebenarnya tidak bisa terlepas dari substansi lain meskipun secara kulit sangat berbeda.

Manusia yang akan menjadi buah dialah yang mau tidak mau menghadapi persoalan berbeda dari bunga lain yang hanya menyajikan susunan artistik kelopaknya. Manusia yang akan menjadi buah adalah bunga yang dia tidak hanya hidup sebagai penggembira, yang hanya sebagai penyaji keindahan. Bunga yang akan menjadi buah, mau tidak mau harus menghadapi proses yang mungkin janggal, timpang, dan rancu.

Bukan berarti dalam hal ini segala ketimpangan merupakan wujud pembentukan buah, apalagi sumbangsih terbesar dalam menata kehidupan lebih baik. Justru saat membaca tulisan ini yang menjadi persoalan ialah apakah kita bunga yang menjadi bakal buah? Ataukah bunga yang hanya memeriahkan warna-warni jaman dengan hanya menyumbang keindahan-keindahan fisik semata.

ANALOGI KAIN & SETERIKA

Dalam soal kerapian seterika merupakan idiom yang tepat. Manusia yang hidup bisa diumpamakan sebagai kain atau baju, yang utamanya tampil bersih dan rapi. Maski kemudian harus tetap kotor sehingga mau tidak mau mesti menghadapi proses perendaman, pengucekan, bahkan disikat sana-sikat sini, dipukul-pukul, diperas, dibilas-bilas, dan dijemur dalam panasnya hari. Proses itu belum selesai karena akan masih harus menghadapi polesan akhir yakni diseterika dan dilipat. Baju yang telah selesai dijemur sehingga kering dan melembap, menjalani proses pemanasan kembali, proses pengaturan, penekanan sedemikian rupa, sehingga keriput pada kain menjadi halus dan membawa citra keteraturan, dan kerapian. Bayangkan kita adalah baju atau kain…, tampil dengan persiapan matang akan lebih mendapat respon positif dan akan membawa pada penghargaan dari lingkungan sekitar. Sebenarnya penghargaan itu bukan berlatar pada keindahan dan prestise tampilan luar, namun lebih kepada ketakziman atau pengakuan akan latar belakang proses yang tidak semua orang mampu melakukannya. Sikap penghargaan itu efek naluriah. Namun bagaimana menjalani proses pematangan itu? Ya berarti itu tergantung kita masing-masing, toh ibarat kain saya bahkan belum mencapai proses perendaman. Secara pribadi saya sungguh masih merasa menjadi baju atau kain yang kotor dan lengket oleh peluh. Jadi tidak memiliki kepantasan untuk mengajari tentang proses penyucian, penjemuran, dan penyeterikaan dalam aplikasi kehidupan. Saya justru mengharapkan anda adalah air saya, sabun saya, tangan-tangan yang memiliki daya peras terhadap kedunguan saya, sebagai seterika saya senantiasa.

ANALOGI CANGKUL & TANAH

Yang ini saya akan menguraikan dengan cara bercerita atau mendongeng dengan sedikit daya khayal he..he..he .

Pak Sasmita memiliki lahan yang lumayan luas, yang oleh sebab itu Pak Sasmita tidak perlu khawatir akan kehidupan kesejahteraan keluarganya. Lahan yang luas sesialnya masih bisa dijual dan langsung mendapat tunai. Tiap hari pak Sasmita ke sawah mengolah lahannya itu. Ditanami padi atau jagung, dirawat, dan diambil hasilnya beberapa bulan kemudian. Di antara sekian banyak tanah pak Sasmita ternyata hanya sebagian kecil saja yang sempat terolah secara teratur. Praktis tanah atau lahan yang lain menjadi lahan yang tidak produktif. Sebagai tanah yang bertuan, sang tanah merasa sangat iri kepada tanah yang selalu mendapat perhatian pak Sasmita untuk diolah, dirawat, dan membawa hasil yang membahagiakan.

Namun diam-diam salah satu tanah yang selalu diolah pak Sasmita merasa iri juga kepada tanah yang tidak diolah, mereka tidak pernah merasakan dicangkul, dibajak, digenangi air, diijak-injak seperti dirinya. Mereka tetap diakui kepemilikannya namun dibiarkan tidur dan tidak menghasilkan apapun. Padahal jumlah mereka lebih banyak lebih luas. Berarti pak Sasmita telah melakukan keberpihakan dan kesewenang-wenangan.

Malam itu Pak Sasmita yang memiliki kemampuan menangkap isyarat alam mampu mendengar keluh kesah sang tanah, sehingga ini menjadi keprihatinan Pak Sasmita. Esoknya Pak Sasmita memutuskan untuk tidak pergi ke sawah yang tiap hari digarap seperti biasanya. Dia pergi ke lahan lain, tanahnya yang masih nganggur dan butuh olahan. Sang tanah yang tidak pernah digarap merasa sangat senang sekali dengan kejutan ini dan bersuka cita atas perlakuan Pak Sasmita. Ternyata sang tanah telah lama merindukan cangkul, menantikan genangan air, dan tidak sabar memberi hasil. Sementara tanah yang tiba-tiba dipalingkan Pak Sasmita sejenak merasa bersenang hati dan bersuka cita atas kebebasannya namun ternyata hanya sejenak pada saat dia menyadari ternyata dia bukan lagi sawah atau ladang namun hanya lahan tidur yang tak memberi manfaat.

Intisari dari dongeng di atas sebenarnya hanya mengajak pada realitas hidup, bahwa yang namanya senang dan susah, puas dan kecewa, sehat dan sakit, merupakan pasangan yang harus kita kenali, kita hayati kandungan nilainya dan semua pasti pernah atau akan mengalami itu. Tapi, disadari atau tidak sebagian diri kita masih ingin lari dari keadaan yang menghimpit, mengoyak, dan merasa bahwa derita yang kita alami semata-mata adalah penderitaan terberat yang orang lain tidak pernah merasai penderitaan yang sama.

Semoga bermanfaat.

Comments (0)Add Comment

Write comment
You must be logged in to post a comment. Please register if you do not have an account yet.

busy
 
 
feed image
Copyright © 2008 Letto. All rights reserved.