|
Keseimbangan itu sebenarnya sudah tercipta sejak awal.
Sejenak
kita boleh melupakan bahwa angsa adalah angsa, itik adalah itik, ayam
adalah ayam, dan burung ya burung. Dalam istilah biologi ayam dan
unggas lainnya, sebenarnya tergolong aves yaitu jenis burung. Akhirnya
pada satu titik, kita tidak mengakui bahwa ayam adalah burung karena
hanya ciri khas dari burung yang bisa terbang tidak lagi dimiliki oleh
ayam rumahan, ayam kandang yang telah jinak. Sementara ayam yang masih
bisa terbang seperti burung serta-merta disebut sebagai ayam hutan.
Konotasi hutan pasti yang liar, seram, tak berbudaya, dan terbelakang.
Dalam melihat kehidupan dimana tatanan dilanggar, pelanggarnya akan
mendapat konotasi yang buruk, kalau si pelanggar tidak memiliki kuasa
atas diri sendiri apalagi orang lain. Tercipta petak-petak istilah
menurut sifatnya.
Kembali pada burung, burung pada dasarnya makhluk
paling bebas, bisa di darat, di udara, bahkan di laut. Namun tiba-tiba
kita dapati bahwa burung telah berada di lingkungan yang
sempit-sesempit-sempitnya dibanding luasnya wilayah yang sebenarnya
bisa dijangkau dan disediakan untuknya. Burung terkungkung dalam
sangkar dan tetap harus menunjukkan dirinya bahagia kepada si pemberi
sangkar. Keterkungkungan itu membuat burung tidak bisa ngapa-ngapain
kecuali pasrah.
Hingga pada suatu ketika, pada
saat kekuatan tidak menjamin diri sendiri, pada saat kebebasan
terpenjara, pada saat ketertindasan menjadi nafas, di saat perlawanan
terbentur dinding pembatas, tiba-tiba muncul flu burung yang
mencemaskan manusia. Sementara burung sendiri tidak tahu kalau ada flu
seperti itu, dan serta-merta dia harus bertanggung-jawab menghadapi
resiko disingkirkan dengan tidak manusiawi oleh manusia. Diracun,
dibakar hidup-hidup, dan gunjingkan kejelekannya disana-sini. Sementara
serta-merta manusia lupa kalau burung pernah menghiburnya, pernah
menemani kesepian2nya. Dan ayam yang mau disembelih, dijadikan lauk,
diambil telur-telurnya, juga tersingkir karena pada saat genting
manusia harus men-general-kan identitas untuk mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan bencana akibat dari keluarga burung.
“Kenapa manusia harus membuat keputusan yang menyalahkan burung tanpa
diruntut siapa tahu sumber kesalahannya dari diri mereka sendiri, dari
kelalaiannya sendiri” . Salah satu tokoh burung berkata kepada dirinya
sendiri, karena dengan kerangkeng sangkar seperti itu membuat dia tidak
mampu menyampaikan unek-uneknya kepada kaum burung yang lain. Akan
tetapi ternyata keadaan itu telah menciptakan sistem komunikasi baru
bagi burung. Yakni sistem komunikasi yang hanya mengandalkan gelombang
senasib-sepenanggungan dengan frekuensi sama-sama merasa dan sama-sama
harus bangkit.
Setelah sekian lama manusia sibuk
mengurusi kesalahan burung yang tidak termaafkan tiba-tiba
sangkar-sangkar sudah semakin rapuh, burung-burung menjebol sangkar itu
dan kembali belajar terbang namun tak perlu belajar berkicau agar alam
menjadi berseri, karena sejak lama sejak di dalam sangkar, burung
berusaha mengkhidmati keterpenjaraannya dengan hiburan yang dia
ciptakan sendiri. Dengan kicaunya yang merdu padahal sendu, yang meriah
padahal marah. Burung telah lama merajut cinta kepada penciptanya
Burung pun merasai kebebasannya dalam mengarungi angkasa cinta Ilahi
yang lebih luas dari dunia. Pada saat itu, burung tidak keberatan
kehilangan sayapnya karena angkasa yang luas itu telah diarunginya.
Namun
untuk terbang dengan bebas mengarungi hamparan udara ternyata tidak
semudah itu. Sayap sudah terbiasa dipasung dan itu turun-temurun.
Bergenerasi-generasi. Sadar! sekarang bukan saatnya berdiam diri
menghanyuti arus kebebasan tapi bahkan berupaya lebih keras dalam
menata dan mengembalikan fungsi diri dengan semestinya.
Apakah
kamu sadar? sekarang kalian juga burung yang sedang belajar terbang,
atau bahkan masih di dalam sangkar, atau bahkan mungkin sedang terancam
disingkirkan karena meski kamu ayam atau angsa, atau bebek, atau entok,
kamu tetap burung!
 |