|
|
Posted by faenthi.plettonic in Untagged
|
|
Ada yang lain dengan anakkecil bernama Kita. Lain sekali dengan beberapa tahun yang lalu, saat ia masih gemar menceburkan diri ke sungai. Tawa yang dulu timbul di bibirnya kini hampir sirna. Keceriaan dan tatapan mata penuh isi dan impian seakan musnah, terguyur oleh dunia yang terasa sangat sepi baginya. tak ada yang tahu, mungkin karena tak ada yang mau tahu.
Masa kanak-kanak sudah lama sekali ditinggalkan. Masa remaja sudah menguap dan terbawa angin entah kemana. Kedewasaan yang perlahan datang, malah membuat jiwanya tergoncang hebat. Masa yang diimpikan penuh kematangan, berubah menjadi masa petaka hebat nan gelap.
"Aku membenci kemerdekaan usia ini. aku ingin kembali ke masaku menyusu pada Ibu. aku ingin kembali ke masaku saat aku bisa melepas seluruh bajuku untuk masuk ke dalam sungai, tanpa takut ada binatang buas yang ingin menerkamku."
|
|
Posted by siscadermawan in Untagged
|
|
<!-- /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:""; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p {mso-margin-top-alt:auto; margin-right:0in; mso-margin-bottom-alt:auto; margin-left:0in; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} -->
HATI-HATI: Hadiah Avanza dari Extra Joss Palsu Nyaris Makan Korban.
Penipuan bermodus imbalan hadiah mobil setelah mengirim sejumlah uang sebagai biaya administrasi masih menjadi trend saat ini. Seorang ibu rumah tangga dari Sidoarjo, Mylina Dewi, hampir saja mempercayai modus penipuan ini.
Mylina yang sedang momong putra bungsunya di depan rumah menemukan benda yang mencurigakan tergeletak di sekitar pagar. Beliau mengambil secarik kertas warna kuning yang dikemas dengan rapi. Dirinya kaget, ternyata setelah dibuka berisi kupon hadiah berlabel salah satu produsen minuman Extra Joss.
|
|
Posted by zakky in Untagged
|
|
cerpen: Abraham Zakky Zulhazmi
Penyanyi dangdut kita itu akhirnya mencalonkan diri sebagai wakil bupati. Di kota kecil yang tidak terkenal ini namanya telah kondang, hingga ke pelosok-pelosok. Masyarakat lebih akrab dengan namanya daripada nama bapak-bapak anggota dewan atau menteri yang kerap muncul di televisi akhir-akhir ini.
Niscaya tidak akan ada kehebohan jika penyanyi dangdut kita ini maju sebagai calon wakil bupati. Ia tak seperti penyanyi dangdut yang sering tampil di film-film horor atau komedi berbau porno itu. Ketika menyanyi yang dijual bukanlah tubuhnya, tapi suaranya. Bisa kita dengar cengkoknya yang pas saat menyanyi dangdut, bak penyanyi senior.
Hari itu adalah sehari sebelum penyanyi dangdut kita memutuskan untuk mencalonkan diri, mendampingi seorang pengusaha kaya mantan aktivis kampus. Di rumah kontrakannya yang sederhana penyanyi dangdut kita menerima dua orang tamu berpenampilan necis. Siapa lagi jika bukan perwakilan dari partai pengusungnya.
”Bagaimana, Mbak? Sudah yakin kan untuk mencalonkan diri sebagai wakil bupati?” tanya salah seorang perwakilan partai. Penyanyi dangdut kita gugup. Ia memilih mengubah posisi duduk ketimbang menghela napas panjang untuk mengurangi ketegangan.
”Jujur, Mas, sebenarnya saya belum terlalu siap.” Berkata demikian ia dengan membayangkan sebuah konser dangdut besar yang meriah. Di sana ia menjadi biduan yang menyita perhatian ratusan pasang mata. Bajunya yang gemerlap. Panggung yang megah. Musik yang hingar. Goyangan yang bikin geregetan. Tatap mata nakal pemuda-perjaka. Sorot mata penuh birahi penonton mabuk. Saweran yang dilempar tak henti. Oh, penyanyi dangdut kita belum siap meninggalkan itu semua. Meninggalkan dunia yang membesarkannya. ”Apa lagi yang masih membuat Mbakyu ragu?”
”Saya belum siap meninggalkan panggung, Mas,” ujar penyanyi dangdut kita.
”Ealah, Mbakyu ini lho, kalau sampeyan nanti terpilih, pasti jauh lebih terkenal dari pada waktu masih joged di panggung. Juga jangan lupa, gaji wakil bupati itu gede lho, belum lagi fasilitas-fasilitasnya.” Perwakilan partai pengusung berjuang meyakinkan penyanyi dangdut kita.
”Lalu, bagaimana dengan pendidikan saya? Saya ini cuma tamatan SMA, Mas,” kilah penyanyi dangdut kita.
”Kan sudah saya bilang dari kemarin-kemarin, sekarang itu gelar gampang didapat. Nanti kami beli ijazah buat Mbakyu deh. Sampeyan mau gelar apa? SH, S.Sos atau SE? Tapi jangan S.Ag lho ya, kayaknya sampeyan kurang cocok kalau pakai gelar S.Ag.” Penyanyi dangdut kita tersenyum. Tipis tapi manis. Perwakilan partai juga ikut meringis. Miris.
”Pokoknya, kalau sampeyan sudah mantab hubungi kami. Biar kami bisa bergerak cepat. Menyiapkan segala sesuatu untuk membentuk citra baik sampeyan dan bapak calon bupati,” perwakilan partai berdehem, lalu lanjut bicara, ”Sampeyan cocok kok berpasangan dengan beliau. Sampeyan itu masih muda, cantik dan terkenal, sedang beliau gagah, berwibawa, dan ganteng.”
*** Hari itu adalah sehari sebelum penyanyi dangdut kita memutuskan untuk mencalonkan diri, mendampingi bapak calon bupati yang istrinya tak bisa menyembunyikan kegelisahan. Sedari tadi ia mematut diri di depan cermin. Hatinya seolah ingin bertanya pada cermin yang bisu. Wahai cermin, apakah aku sudah tidak secantik ketika aku masih muda dulu, ketika suamiku tergila-gila?
Ketika hujan menjamah tanah dan halilintar bersahutan, istri calon bupati itu nekad keluar rumah. Waktu itu suaminya sedang tidak di rumah. Dibangunkannya sopir pribadi yang tengah tertidur pulas di pos satpam. Tentu saja si sopir tergeragap kaget. Tanpa ba-bi-bu, si sopir menuruti kemauan majikannya.
”Kita ke rumah Simbah!” perintah istri calon bupati.
Siapa yang tidak mengenal Simbah? Seluruh warga di kota kecil ini hampir semunya tahu siapa Simbah. Dialah dukun sakti yang tinggal di kaki bukit selatan kota. Konon kesaktiannya belum ada yang menandingi di tingkat karesidenan.
Dalam perjalanan ke rumah Simbah, istri calon bupati merenung. Terdengar dengus nafasnya yang memburu menahan dendam. Dia selalu bertanya kenapa suaminya tidak menggandengnya saja untuk maju dalam pencalonan bupati-wakil bupati. Tiba-tiba, istri calon bupati ini iseng bertanya kepada sopirnya di depan.
”Pak, aku masih cantik kan? Masih seksi kan?”
Yang ditanya terkesiap bulu kuduknya. Ia hanya mengiyakan. Sampai di rumah Simbah, sebentuk ketakutan menjalari istri calon bupati dan sopirnya. Bau yang aneh serta benda-benda yang tak pernah mereka jumpai sebelumnya menjadi ucapan selamat datang yang janggal.
”Apakah benar kedatangan kalian ke sini untuk meminta bantuan mencelakakan seorang penyanyi dangdut?” tanya Simbah mengagetkan keduanya.
”Be..be..benar, Mbah,” istri calon bupati gagap menjawab.
”Aku tidak yakin bisa melakukannya, di belakang penyanyi dangdut itu berdiri seorang dukun yang tak kurang saktinya. Tapi aku akan coba!”
”Apa yang harus kami lakukan, Mbah?”
”Tanam buntelan ini di halaman rumah penyanyi dangdut itu, lalu lihat hasilnya sehari kemudian.”
”Akan kami laksanakan, Mbah. Oh iya, ini ada sedikit oleh-oleh dari kami,” kata istri calon bupati sembari mengangsurkan amplop putih.
Simbah hanya manggut-manggut dan berdehem.
Tak ingin membuang waktu, malam itu juga, saat aroma hujan masih begitu terasa, sopir istri calon bupati menanam buntelan. Instruksi langsung dari istri calon wakil bupati.
Tapi, astaga! Ketika buntelan baru akan dimasukkan lubang, tubuh sopir terlempar ke belakang. Satu meter jauhnya. Ia terperangah. Namun belum menyerah. Dicarinya sudut lain dari rumah penyanyi dangdut kita. Setali tiga uang. Beberapa kali tubuhnya terhempas. Sial, bentengnya kuat juga perempuan ini, gumam si sopir. Kembali ke rumah ia dengan tangan hampa. Dan sangat terkejut ketika pada pagi harinya rumah calon bupati gempar. Istri calon bupati tidak bisa bangun dari tempat tidur. Ia hanya bisa mengerang kesakitan. Sekujur tubuhnya penuh bintik serupa kutil. Jika satu bintik pecah, maka cairan busuk keluar dan bau bangkai segera menguasai udara. Jijik. Si sopir hampir muntah manakala hendak membopong istri calon bupati. Mau dibawa ke rumah sakit.
Nahas! Tak seorang pun bisa membopongnya. Pun ketika lima orang bersamaan membopongnya. Tidak terangkat. Berat sekali. Seperti lengket. Waktu itu bapak calon bupati sedang rapat partai di luar kota. Orang yang di rumah jelas kelabakan. Berpikir cepat si sopir menuju rumah simbah Simbah. Dalam waktu yang tidak lama, Simbah sudah sampai di rumah calon wakil bupati.
”Ini teluh kiriman dukun penyanyi dangdut terkutuk itu! Ia bereaksi, tak terima penyanyi dangdut itu kita serang. Aku tak kuat menangkalnya. Namun, ada satu cara sebenarnya untuk sekadar mengusir kutil-kutil busuk itu.”
”Apa itu, Mbah?” tanya sopir.
”Kau cari saudara kandung ibu itu. Bisa kakak atau adiknya. Minta sedikit darahnya, beberapa helai rambutnya, juga kukunya. Tumbuk jadi satu. Tempelkan di kening ibu itu,” simbah berkata dengan keyakinan penuh.
Istri calon bupati meski menahan sakit luar biasa, namun masih bisa mendengar bercakapan dan diajakan bicara, walau terbata-bata. Sejujurnya, keadaan ia kini akan menghadirkan iba kepada siapa saja yang melihatnya.
”Ibu, boleh tahu saudara ibu tinggal di mana? Kata Simbah, hanya saudara kandung ibu yang bisa menyembuhkan.”
Ditunggu beberapa saat istri calon bupati ta kunjung menjawab. Ia meringis kesakitan. Baru ketika sakitnya merada ia angkat bicara.
”A...aku...cu...cuma punya satu saudara kandung. Di...dia a..adalah penyanyi dangdut laknat itu. Di...dia adikku satu-satunya,” ujar istri calon bupati terbata-bata.
Semua yang ada dalam ruangan terkejut. Seolah menemui jalan buntu.
:: dimuat Harian Joglosemar, Minggu 16 Mei 2010
|
|
Posted by zakky in Untagged
|
|
Malam yang muram. Kaca jendela di sebuah hotel tengah kota basah oleh embun lantaran gerimis bertahan sejak sore. Penjual bakmi tercenung di sudut kontrakannya. Hanya beberapa piring bakmi saja yang laku hari ini. Gerimis dan dingin menahan orang-orang keluar rumah menjenguk dagangannya.
Sementara itu, aku baru saja menjejak bumi. Sudah tiga hari ini aku tidak diijinkan oleh Tuan Langit untuk mengunjungi bumi. Menjalankan pekerjaan sampinganku: menjaga malam. Ya, aku adalah seorang penjaga malam. Menjaga malam di bumi yang katanya sering berselimut kabut warna kelam.
Pekerjaan utamaku sebenarnya adalah mengawasi perputaran mendung. Kapan ia akan menjadi hujan yang membasahi bumi, kapan ia harus berdiam di sela-sela awan. Sering aku tak tega jika Tuan Langit memerintahkanku mengguyurkan hujan yang begitu derasnya tanpa didahului dengan isyarat mendung. Aku lihat orang-orang sama kelabakan mendapati kehadiran hujan yang begitu tiba-tiba. Ada yang berlari-lari mencari tempat berteduh, ada yang bergegas membuka bagasi motor untuk mengambil jas hujan. Tapi biarlah begitu, aku hanya mengawasi perputaran mendung. Tuan Langit lah yang punya wewenang penuh untuk menjadikannya hujan atau tidak. Membuatnya tanpa isyarat mendung atau dengan mendung yang menggulung-gulung. Saat ini aku harus konsentrasi dengan tugas menjaga malam di bumi. Oya, aku lupa memberi tahu pembaca sekalian, bahwa aku ini tak kasat mata. Jadi manusia-manusia di bumi tak bisa melihatku. Hanya orang-orang dengan tingkat kesaktian tertentu yang mungkin bisa melihatku. Biasanya mereka dari kalangan yang bersih hatinya, jauh dari angkara murka dan iri dengki. Pun begitu, selama bertugas menjaga malam di bumi aku belum pernah kepergok sekalipun oleh manusia.
Aku awali pengembaraan malam ini di sebuah café. Bangunan dua tingkat ini tidak terlalu besar. Di lantai dasar terdapat mini bookstrore dan meja kasir. Sedang di lantai dua selain meja bar yang memanjang di salah satu sudut, ada meja kayu artistik dengan ukiran, sofa, serta mini library. Selain menjual kudapan ringan, tempat ini memang menjual buku terbitan baru dan best seller. Di beberapa sudut café juga ditemui rak-rak buku dengan koleksi buku sastra, filsafat dan agama. Itu untuk dibaca di tempat, tidak dijual atau disewakan. Hanya ada segelintir buku teenlit disini. Yang jelas tidak bisa ditemui adalah majalah atau tabloid infotainment. Tampaknya café ini memposisikan dirinya sebagai tempat nongkrong pelajar dan mahasiswa yang hendak mengais ilmu. Tak sekadar tempat kongkow-kongkow menghabiskan malam.
Di lantai dua cafe, empat orang mahasiswa tampak sedang berdiskusi. Memperdebatkan keberadaan tuhan.
“Setiap yang ada pasti ada yang menciptakan. Kita ada di dunia buah dari hubungan ayah dan ibu kita. Lantas jika dibilang tuhan itu ada siapa yang menciptakan tuhan? Pasti ada makhluk yang lebih hebat, karena dia bisa menciptakan tuhan yang menciptakan manusia,” terang seorang mahasiswi berleher jenjang dengan rambut dikucir mirip buntut kuda. Parasnya akan mengingatkan kita dengan seorang penyayi perempuan di era tujuh puluhan.
“Tidak perlu kita simpan keraguan atas tuhan! Cukup kita percaya dan sudah. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu tidak penting.” Sanggah mahasiswa berambut kribo.
“Iya seharusnya begitu. Tinggal percaya saja apa susahnya?” dukung mahasiswa dengan tatto kepala elang di lehernya.
Aku tersenyum simpul mendengar diskusi mereka. Sejenak aku tinggalkan keempat mahasiswa yang berdebat. Diskusi itu selanjutnya didominasi oleh mahasiswa berambut kribo dan mahasiswi berleher jenjang. Yang lain lebih banyak diam, merenung sembari menyimak lagu-lugu Efek Rumah Kaca yang diputar pihak café.
Selanjutnya aku masuk ruangan -sepertinya kantor- di bagian belakang café. Di ruangan dengan penerangan minimalis itu aku mendapati dua orang sedang bercakap serius. Pemilik café rupanya.
“Penjualan buku dua bulan ini kurang bagus. Bagaimana kalau kita sudahi saja penjualan buku? Rak-rak buku itu bisa kita ganti dengan meja kursi untuk pengunjung café. Itu pasti lebih menguntungkan,” keluh si lelaki.
“Berhenti jualan buku? Tidak, John. Aku tidak mau. Bukankah itu bagian dari idealismeku yang kita sepakati bersama. Café ini bukan sekedar tempat menghibur diri tapi mencedaskan juga,” si perempuan bersungut tidak setuju.
“Tapi fakta bicara lain, Alin. Buku-buku itu hanya nenenuhi café kita,” kali ini si lelaki coba meyakinkan si perempuan dengan mengatupkan kedua tangannya di pipi si perempuan. Didekatkan muka si lelaki pada muka si perempuan.
“Kita mesti bersabar, sayang.” Si perempuan tak mau kalah. Di dekatkan bibirnya dengan bibir si lelaki. Matanya mengerjap menggoda. Si lelaki menahan nafas. Bibir mereka sudah tak berjarak. Maka, terjadi lah apa yang diinginkan si perempuan dan si lelaki, di ruangan dengan penerangan yang minimalis itu.
Aku ketuk saja pintu ruangan. Mereka tergeragap. Buru-buru membetulkan letak pakaian. Ketika pintu dibuka si lelaki tak mendapati siapa-siapa. Berdiri bulu roma keduanya. Mereka semakin bergidik saat pintu sudah menganga terbuka ketukan masih terdengar.
Aku terkekeh-kekeh meninggalkan lelaki dan perempuan yang ketakutan itu. Kini aku telah sampai di parkiran café. Mahasiswi berleher jenjang yang tadi berdebat tentang tuhan telah bersiap di mobilnya. Tiba-tiba mahasiswa berambut kribo lawan berdebatnya menghampiri. “Jalan pulangmu melawati kos-ku, bisakah aku menumpang mobil yang cantik ini?” Tanya mahasiswa berambut kribo. Ia lempar senyum termanisnya.
“E…Masuk lah!”
Mobil melaju membelah jalanan kota yang basah. Aku duduk di jok belakang mobil itu. Dua orang yang tadi sengit berdebat kini terlihat hangat menikmati lagu-lagu jazz yang diputar dalam mobil. Tanpa terasa kepalaku mengangguk-angguk mengikuti nada-nada syahdu yang menelusup ruang dengarku.
Sampai di kos. Tak disangka mahasiswa berambut kribo merayu mahasiswi berleher jenjang.
“Hujan makin deras. Tak baik mengemudi dalam cuaca seburuk ini. Mampirlah di kos-ku,” tawar mahasiswa berambut kribo dengan jantung berdegup kencang.
“Em..boleh deh.” Mahasiswi berleher jenjang menjawab dingin, sedingin udara malam itu.
Aku ikut masuk bersama dua orang terpelajar muda usia itu.
Entah siapa yang mengawali, busana yang melekat di badan berguguran sudah. Mereka sama memagut. Bukan aku yang meminta kawanku pengatur petir menyambarkan petir kencang. Sambaran petir yang membuat mereka kaget. Mobil mahasiswi berleher jenjang menjerit-jerit alarmnya. Selalu begitu jika petir menyambar dengan kencangnya. Seketika ia meraih kunci dan menakan tombol di gantungan kunci. Tapi hatinya gamang. Ia teringat sesuatu. Diakhiri ritual purba bersama mahasiswa berambut kribo itu.
“Maaf, aku harus segera pulang, ibuku sedang sakit di, rumah dia sendirian.”
Tidak ada kata-kata yang terucap dari bibir mahasiswa berambut kribo. Matanya menatap nanar kepergian perempuan yang wanginya telah membuat mabuk.
Gontai aku berjalan menyusuri trotoar yang berlubang disana-sini. Aku beralih dari hiruk pikuk hura-hura manusia posmo menuju pinggiran jalan. Menjumpai orang-orang tak berumah. Menggelandang di sekujur tubuh kota.
Aku masuk bilik kecil penjual kopi yang anaknya terbaring dengan badan demam. Harap-harap cemas dia menunggu tetangganya yang mau mengantar ke rumah sakit. Lama ditunggu tetangga itu tak muncul juga. Kali ini aku minta kawanku yang mengatur hujan untuk sejenak menghentikan hujan. Biar bapak-anak ini bisa berangkat ke rumah sakit. Tak tega aku melihat gigil anak itu.
Benar. Hujan sesaat berhenti. Dengan penuh kasih bapak penjual kopi berlari menggendong anaknya. Mencari becak dan ojek di malam yang kian merapat ke pagi seperti mencari jarum dalam jerami. Kalut. Bapak yang menggendong anaknya terus berlari, berlari.
Aku memutar otak. Apa yang mesti aku lakukan untuk membantu bapak penjual kopi. Dari jauh aku melihat mobil mahasiswi berleher jenjang melintas di jalanan. Aku melambaikan tangan, coba menghentikan mobilnya. Dia acuh. Aku tak dilihatnya. Sial!
Lalu melintas John dan Alin, pemilik café, dengan motor gedenya. Aku hentikan mereka. Namun, menoleh pun mereka tidak. Ah, aku benci tak terlihat! Benci sekali!
Tiba-tiba terbetik satu pemikiran untuk membawa bapak-anak itu ke langit bersamaku. Biar mereka menemu damai di sana. Ragu menggelanyut. Boleh jadi justru damai mereka ada di sini. Bukan di langit sana.
Aku tak peduli, pokoknya aku harus membawanya ke langit. Kota ini hanya menawarkan luka demi luka.
Celaka! Kudengar ayam berkokok bersahutan. Pagi menjelang. “Tugasmu sudah selesai, wahai penjaga malam. Kembalilah ke langit!” Kata penjaga pagi. “Tapi aku belum menolong bapak penjual kopi itu, anaknya…,” belum selesai aku berkata tubuhku seperti tersedot suatu pusaran kencang. Ditarik ke langit.
Aku merasa sangat berdosa lantaran tak segera mengambil keputusan. Bodohnya aku. Tak bisa menolong bapak-anak itu. Kemudian, sampai di telingaku, anak yang malang itu meregang nyawa kala fajar menyingsing.
Aku benci tak terlihat. Benci sekali!
Ciputat, Maret-April 2010 :: dimuat Majalah Kalpadruma FSSR UNS, Solo
|
|
Posted by zakky in Untagged
|
|
cerpen: Abraham Zakky Zulhazmi
Malam kian menua. Aku baru saja hendak mencumbu istriku ketika telepon genggamku berdering. Panggilan dari bos. Buru-buru aku merapikan pakaian dan meminta maaf pada istriku berkali-kali. Istriku yang peragawati kondang itu manyun dan mendengus kesal. Dia lantas menutup kepalanya dengan bantal serta merapatkan selimut.
“Ada apa sih bos malam-malam harus ke kantor?” gerutu pada bos di seberang.
“Ada rapat dadakan. Lawan kita makin gencar saja aksinya. Konstituen kita di selatan kota sudah terprovokasi dengan isu yang mereka sebar. Sudah jangan banyak tanya! Cepat kemari!”
Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Segera aku pacu mobil menuju kantor yang selalu ramai siang dan malam itu. Sementara di luar angin dingin mengetuk-etuk jendela mobil. Seolah tak membiarkan tulang-tulangku tak disengat oleh dinginnya yang sangat. Pada awal perjanjian, sebagai tim sukses, aku memang siap menyatakan bekerja 24 jam, seminggu penuh. Aku ingin menunjukkan loyalitasku pada calon wali kota yang satu ini. Sebab aku tahu, Pak Birowo, calon walikota dari partai besar ini juga akan menempatkan aku di posisi bagus jika kelak dia benar-benar jadi walikota. Sesampainya di kantor, beberapa anggota tim sukses telah berkumpul di ruang tengah. Asap rokok memenuhi ruangan. Cangkir-cangkir kopi berserakan di meja. Kulit kacang mengonggok di beberapa tempat. Nampaknya sudah sedari tadi mereka di sini.
“Baiklah teman-teman, saya rasa tidak perlu bertele-tele, langsung saja rapat ini saya buka.”
Pimpinan rapat mematikan rokonya. Lalu menghirup kopi.
“Ada kabar yang kurang mengenakkan sampai pada saya siang tadi. Tingkat kepercayaan masyarakat di selatan kota pada Pak Birowo semakin menurun. Pasalnya, dari kubu Ibu Nensi yang mantan artis itu menyebarkan isu bahwa Pak Birowo ini doyan poligami. Kontan saja, sebagian besar ibu dan kaum perempuan di selatan kota tidak simpati lagi dengan Pak Birowo. Demikian pula dengan bapak-bapak yang mengaku sensitif gender.”
Para peserta rapat mengangguk-angguk. Mungkin paham mungkin mengantuk. Satu dua ada yang memberikan usulan. Tapi tampaknya kurang memuaskan dan tidak aplikatif. Ketua rapat kasak-kusuk. Hari hampir pagi. Sebagai ketua tim suskses, bisa berabe jika dia tidak memberi respon dan usulan kepada Pak Birowo atas masalah yang terjadi.
“Pak Fawasto mungkin ada masukan? Sebagai ketua divisi litbang anda sering memberi masukan cerdas. Ayolah kelurkan usulan-usulan cerdas itu.”
Aku yang ditegur ketua rapat sedikit tergeragap. Ya, aku memang ketua divisi litbang pada tim suskses Pak Birowo ini. Namun, rasa-rasanya aku lebih tepat menjabat divisi penjatuhan lawan. Lantaran aku selalu yang dimintai pertimbangan untuk menentukan langkah dalam menjatuhkan lawan. Ide-ideku selalu cemerlang dan manjur, kata mereka. Kredibilitasku tak dipertanyakan lagi. Bupati di kota sebelah mampu menduduki kursi terhormat itu tak lain juga karena sepak terjangku.
“Berikan saya waktu untuk berpikir, Pak Ketua.”
“Baiklah,” jawab ketua rapat sambil berharap-harap cemas.
Sembari berpikir aku menyalakan rokok. Kuhirup kopi susu di depanku hingga tandas satu cangkir. Kusulut batang kedua rokokku. Sampai batang ketiga ide belum juga muncul. Ketua rapat sedikit gugup. Dia juga nampak berpikir keras. Namun lebih kelihatan dia sedang menunggu ideku.
Tiang listrik yang dipukul keras tiga kali menyentakku. Aha! Aku punya ide bagus. Seperi wahyu, ide itu datang begitu saja seperti turun dari langit. Tiang listrik yang dipukul tiga kali pertanda saat ini sudah jam tiga pagi bak gemerincing malaikat yang diutus khusus kepadaku.
“Teman-teman, saya kira kita musti melakukan pembalasan. Sebab taktik air mata sudah tidak laku. Kita sudah terlampau sering mengundang televisi lokal dan memintanya menyangkan Pak Birowo mengeluarkan air mata. Pak Birowo lalu berkata bahwa dia telah dizolimi. Itu basi, teman-teman,” terangku.
“Lantas apa usulmu? Cepatlah! sudah pagi ini, aku belum tidur,” tukas salah satu anggota rapat.
“Seperti ini, saya punya usulan bagaimana kalau kita menyebarkan foto bugil Bu Nensi. Bukankah dia itu mantan artis yang masih lumayan cantik?”
“Hah?!” sejumlah peserta rapat menganga mulutnya. Yang tadi terkantuk bahkan tidur tiba-tiba jadi antusias. Sesaat ruang rapat menghangat.
“Bagaimana caranya, Pak Fawasto? Apa bapak mau memfoto Bu Nensi waktu mandi?” Tanya Pak Yunanto polos.
“Pak Yunanto, sekarang ini zaman sudah maju. Tak perlu ribet seperti itu. Tinggal kita manfaatkan saja kemajuan teknologi yang sudah ada. Beres pokonya. Bagaimana, teman-teman?”
Ketua rapat yang sekaligus ketua tim sukses itu sumringah lalu angkat bicara.
“Ide yang brilian, Pak Fawasto! Brilian sekali! Mana ada rakyat yang mau memilih calon walikota yang gemar bugil? Ha-ha-ha.”
Para peserta rapat ikut tertawa. Manggut-manggut tanda sepaham.
“Kalau begitu, kita serahkan saja tugas ini kepada Pak Fawasto. Bagaimana?
Semua mengiyakan. Aku agak gugup sebenarnya. Namun berusaha aku tutupi. Ini tugas tak gampang sebenarnya.
Ketua rapat menutup rapat yang berakhir subuh menjelang pagi itu. Para peserta rapat pulang satu persatu. Wajah mereka lelah dan kuyu. Kadang kala mereka tak terlalu mengerti apa yang sedang mereka cari dalam tim sukses ini. Hingga bersedia bekerja full time, 24 jam, seminggu penuh. Apapun itu alasannya, toh mereka menikmatinya.
Manakala aku hendak membuka pintu mobil hendak beranjak pulang. Ketua tim suskses menghampiriku.
“Pak Fawasto bentuk saja tim untuk menjalankan misi ini. Masalah dana tak usah dipikirkan. Budget-nya unlimitted, tak terbatas. Asal hasilnya efektif, dampaknya kelihatan. Bukan begitu, Pak Fawasto?” Tanya ketua tim sukses sembari tersenyum tipis.
“Biar saya enak nanti laporannya sama Pak Birowo,” lanjutnya.
“Saya selalu siap, Pak. Tapi sepertinya saya akan kesulitan mencari pakar IT yang mau diajak bergabung dengan tim yang akan saya bentuk nanti. Kalau mengambil dari mahasiswa-mahasiswa bau kencur itu takut hasilnya kurang maksimal.”
“Alah…sudahlah kita sewa saja pakar IT dari Jakarta yang suka nongol di televisi itu. Berapapun kita bayar deh!”
“He-he-he. Tak segampang itu, Pak. Saya atur saja ya, pokonya terima beres.” Aku coba meyakinkan. Ketua tim sukses mengangguk mantap. Aku tenang. Beberapa hari terakhir ini aku tak ada pekerjaan lain kecuali mencari fotografer handal dan pakar IT yang mumpuni. Aku datangi beberapa studio foto. Ketika kujelaskan para fotografer itu buru-buru menolak bergabung dengan tim yang akan kubentuk. Mereka ini memang bertugas agak berat. Menguntit Bu Nensi sampai pada wilayah privat sekalipun. Guna mendapat foto wajahnya yang pas untuk diedit dengan gambar-gambar bugil yang telah disiapkan.
Sore hari aku janji bertemu dengan seorang mahasiswa fotografer yang bersedia bergabung. Akan tetapi alangkah kecewanya saat aku ditunjukkan hasil jepretannya. Jauh dari bagus! Baru belajar dia tampaknya. Di tengah kebingungan, aku dikenalkan seorang teman lama dengan seorang fotografer senior dari kota sebelah. Tak kusangka dia mau bergabung. Mudah sekali. Selidik punya selidik ternyata dia pernah sakit hati dengan Bu Nensi. Klop sudah. Ini bakal jadi tim yang solid!
Tinggal mencari pakar IT yang jago mengedit foto. Aku menghubungi kolegaku di Jakarta. Agak lama memang mereka baru memberi kabar. Akan tetapi akhirnya seorang pakar IT bergabung dengan kami. Seorang lulusan Amerika. Baru aku tahu, foto-foto artis yang sering diberitakan berpose bugil tak lepas dari campur tangannya. Pagi ini foto-foto Bu Nensi diserahkan padaku. Puas sekali aku melihatnya. Bakal bagus kalau dijadikan bugil, gumamku. Segera saja fotografer mahir ini aku beri segopok uang. Dia senyum-senyum gembira. Kami bersalaman erat. Tinggal aku serahkan ke editor, dan jadilah foto bugil Bu Nensi, pikirku. Sudah aku buat janji untuk bertemu dengan editor foto di sebuah café elit dekat mall terbesar di kota ini.
Malam makin larut. Sudah setengah jam aku menunggu editor itu. Sementara itu istriku sudah mengingatkan jangan pulang malam-malam. Hari ini waktunya menunaikan hajat. Seminggu tiga kali. Tak kurang tak lebih.
Tergopoh-gopoh editor foto asal ibu kota itu menghampiriku seraya meminta maaf atas keterlambatannya. Dia segara menyalakan laptop. Ditunjukkannya foto-foto syur itu.
“Ini Pak foto-foto yang akan saya edit. Dari segi postur dia mirip sekali dengan postur Bu Nensi yang padat berisi itu. He-he-he. Saya mendapatkannya ekslusif dari rekan saya. Ini foto asli, Pak. Bagaimana?” ujarnya sambil menyodorkan laptop ke depanku.
Apa?! Mataku melotot mau keluar. Mulut menganga kram seketika. Bukan kah itu foto-foto istriku? Tak salah lagi itu foto istriku! Aku lemas. Pening kepala. Mati kutu!
Ponorogo, Februari 2010 :: dimuat Buletin Sastra Pawon (Solo), Maret 2010
|
|
Posted by zakky in Untagged
|
|
30 April 2010 merupakan peringatan 4 tahun wafatnya sastrawan besar sekaligus kontroversial, Pramoedya Ananta Toer. Sejumlah kegiatan digelar untuk mengenang sosok kelahiran Blora, 6 Februari 1925. Di Jakarta, beberapa komunitas sastra serta sederet nama seniman menghimpun diri dalam suatu kepanitian besar guna menyelenggarakan acara bertajuk “Goresan Pena Pram Untuk Rakyat Indonesia”. Acara dari tanggal 19-28 April 2010 itu antara lain diisi roadshow diskusi di empat kampus dan acara puncaknya berupa Pagelaran Kebudayaan di Planet Senen.
Ada beberapa catatan yang layak dicermati dari perjalanan penyelenggaran acara tersebut. Pertama, panitia mendapat pelarangan tegas dari pihak rektorat saat hendak mengadakan acara diskusi mengenang Pram di salah satu universitas negeri. Dari pihak BEM pada dasarnya tidak mempermasalahkan acara yang akan diadakan. Akan tetapi, pihak rektorat berujar: kami tidak berkeberatan dengan siapa panitianya, tapi dengan acaranya, kita tentu tahu siapa Pram. Sungguh tragis. Di era reformasi yang serba terbuka masih saja label-label negatif dialamatkan kepada Pram, yang menurut hemat penulis adalah seorang guru bangsa. Kedua, peserta yang datang dalam acara diskusi mengenang Pram di beberapa kampus secara jujur mengakui belum terlalu mengenal Pram, apalagi membaca karyanya. Sehingga boleh diartikan mereka menghadiri acara untuk berkanalan dengan Pram.
Melihat kasus pertama, mengenai pelarangan acara Pram, hadir keprihatinan di hati penulis dan panitia. Mengingat saat ini kita tidak sedang hidup di era orde baru yang penuh pencekalan, intimidasi dan represi. Sesungguhnya pelarangan oleh pihak rektorat tidak perlu terjadi. Apabila yang dipermasalahkan seputar golongan kanan dan kiri dalam kebudayaan (dalam hal ini Pram dicap kiri) sudah tidak relevan lagi. Sebagaimana dipaparkan Yudi Latif dalam diskusi publik ”Peran Kebudayaan dalam Mengawal Bangsa Bercermin pada Pram” di kampus STIAMI Jakarta Senin (19/4) lalu. Mengurai golongan kanan dan kiri yang akarnya adalah polemik kebudayaan di tahun 1965 pada dasarnya hanya akan menguak luka lama. Ketika itu Pram dituding sebagai jubir sekaligus algojo Lekra paling galak, menghantam, menggasak, membantai dan mengganyang di masa Demokrasi Terpimpin. Yang merasa menjadi korban adalah seniman yang menempatkan seni untuk seni. Hingga mereka perlu menggagas dikeluarkannya Manifes Kebudayaan. Penanda tangan Manifes Kebudayan antara lain adalah Taufik Ismail dan Goenawan Mohammad.
Tidak berhenti di situ, ketika pada tahun 1995 Pram memperoleh Ramon Magsaysay Award (Filipina), sebanyak 26 sastrawan Indonesia menulis surat protes ke Yayasan Ramon Magsaysay. Mereka tidak setuju Pram menerima penghargaan tersebut. Taufik Ismail, salah satu pemrakarsa, beberapa hari kemudian meralatnya. Bukan menuntut pencabutan namun sekadar mengingatkan siapa Pram itu, banyak yang tidak tahu reputasi gelap Pram, begitu ujarnya. Sementara itu, Mochtar Lubis justru mengancam akan mengembalikan Ramon Magsaysay Award yang diperolehnya pada 1958 jika Pram tetap diberikan hadiah yang sama.
Menanggapi polemik pemberian Ramon Magsaysay Award kepada Pram, sebanyak 26 penyair, wartawan, guru serta elemen lainnya menandatangani Pernyataan Kaum Muda Untuk Kebudayaan. Semacam manifesto untuk mendudukkan polemik pada tempatnya. Beberapa penanda tangan berasal dari Kota Solo. Sebut saja Gojek JS, Agus T.,Wahyu Susilo dan Sosiawan Leak. Manifesto yang dibuat oleh Angger Jati Wijaya itu ditandatangani di Yogyakarta, 15 Agustus 1995. Mereka mencatat 5 point penting. Secara garis besar, dikatakan bahwa tragedi politik dan budaya 1965 masih gelap serta sejarah yang ditulis merupakan interpretasi sepihak. Ditambahkan, Dendam dan sakit hati bisa menjadi pemakluman, pun begitu, bukankah tindakan memaafkan dalam konteks berbangsa dan berbudaya merupakan setinggi-tingginya nurani kemanusiaan? Selebihnya manifesto ini berbicara mengenai demokrasi, kebebasan, situasi kondusif dan perlunya menjauhi prasangka dalam berbudaya. Adapun masalah kedua, tentang minimnya generasi muda yang mengenal Pram adalah sebuah masalah yang kompleks. Di satu sisi minat baca kaum muda Indonesia tergolong lemah, di sisi lain pasca polemik 1965, Pram memang seolah-olah dihilangkan dari sejarah. Romo Muji Sutrisno, dalam suatu kesempatan menyatakan, sulitnya mengakses karya Pram termasuk hilangnya nama Pram dari pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia serta Sejarah merupakan ’dosa’ orde baru. Kala itu buku karya Pram dilarang terbit secara resmi.
Adalah ironis apabila di negerinya sendiri Pram dianggap ’kecil’ sedang di dunia Internasional ia cukup disegani. Selain beberapa kali masuk nominasi peraih Nobel Sastra dan karyanya di terjemahkan ke 42 bahasa, sejumlah penghargaan telah diperolehnya, semisal:The PEN Freedom-to-write Award (1988), Ramon Magsaysay Award (1995), Fukuoka Cultur Grand Prize (2000) dan lain-lain. Penulis lihat ini lebih dari cukup untuk mengatakan sebuah keteledoran jika tidak membaca serta mengapresiasi Pram. Lantas, apakah ‘kebesaran’ Pram hanya seputar kontroversi dan polemik yang melingkupinya? Ataukah hanya dilihat dari betapa heroiknya ia manakala mampu survive meski ditahan selama 14 tahun lamanya tanpa proses pengadilan? Tentu saja tidak. Tertralogi Pulau Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca) menunjukkan betapa tekun Pram menyusun keping-keping sejarah yang dapat memberi suntikan moril kepada bangsa yang sedang mengalami krisis identitas ini. Di sana pula akan ditemui bentuk-bentuk perlawanan terhadap penindasan. Terlihat jelas keberpihakan Pram terhadap kaum tertindas. Tema senada juga bisa ditemui pada karyanya yang lain seperti Gadis Pantai, Bukan Pasar Malam dan lainnya.
Mengenang Pram, adalah mengenang keberanian dan ketegasan. Sesuatu yang hilang dari bangsa ini beberapa tahun terakhir. Lantaran tiadanya dua hal itu, tindakan-tindakan yang cenderung tidak taat hukum dan mengarah pada kerusuhan kerap terjadi. Bobrok yang menggejala di sejumlah instansi tak segera terkuak juga karena telah hilangnya keberanian dan ketegasan pada diri para pemimpin. Pada peringatan 4 tahun wafatnya Pram, boleh jadi kita akan merenungkan ’ramalannya’: akan ada permainan politik oleh orang-orang kriminal dan permainan kriminal oleh orang-orang politik. Dan itu telah terbukti kini, Pram!
Penulis giat di Komunitas Ketik dan Tongkrongan Sastra Senjakala.
|
|
Posted by zakky in Untagged
|
|
PUISI-PUISI ABRAHAM ZAKKY ZULHAZMI
Alamat aku telah berhasil memenjaramu dalam kenangan dan nyanyian
selama kau masih menyimpan alamat yang kerap lupa kau catat di sini aku terus menyulam awan sekadar pengingat jika barangkali
kau tiba-tiba disapa kerinduan
dan kita telah sampai pada cinta meski tak tahu kapan berangkat dan kita sudah tidak saling menegur walau sedari tadi kita bercerita
Almanak kusaksikan dengan mata yang lebam almanak di dinding kamarku yang kusam telah berubah menjadi hitam
kudengar dengan telinga yang tuli angka-angka yang berderet dalam sepi berteriak kesakitan perlahan akan mati
kuraba dengan tangan yang mati rasa kertas warna-warni ini tak punya kuasa menahan Desember pergi menuju senja
Altar kedatanganku bukan untuk pemujaan hanya sebatas merangkum rintik hujan
hari masih terlalu pagi ketika kesedihan kau bahasakan sebagai kerinduan
sementara dalam doa dan tengadah tangan terdapat teka-teki dan sejumlah pertanyaan
Mimpi kau bangun dari tidur yang larut dengan bulan sabit di bibirmu kau menuruni ranjang serupa
embun pertama yang jatuh dari ujung daun cemara di sini, aku hanya bisa menerka-nerka siapa yang menyelinap di bunga tidurmu Mahoni kubaca secarik rahasia pada gugur daun akasia bahwa perkawanan ini serupa semi pohon mahoni kukatakan pada kalian : sejauh apa kalian lelana tetaplah melabuh pada ini dermaga
Musim percakapan dalam kamar sebentar akan karam jika segala pinta tak menemu pintu aku berada pada musim di mana wajahmu selalu masam kerlingmu kini kehilangan detak dan senyummu perlahan mulai retak Memorabilia seharian kau bermain bola dengan ayahmu padahal ia berada di kantor dari pagi hingga malam kau mengenang masa kecilmu bergelanyut di ranum dada ibu padahal sejak usia tujuh bulan ia pergi bekerja ke pulau seberang
Penulis lahir di Ponorogo, 20 Maret 1990. Aktif di Komunitas Ketik, Solo dan Tongkrongan Sastra Senjakala, Jakarta. Puisinya terangkum dalam buku Tamu Dalam Rumah Sunyi.
|
|
Posted by zakky in Untagged
|
|
PUISI-PUISI ABRAHAM ZAKKY ZULHAZMI
Desember
katamu, waktu tiada lagi berputar padahal kudengar rindumu bergetar mengingat kecupan setahun silam saat malam makin dingin dan karam
aku tak berkata sepatah pun hari itu demi sebuah pesan yang tak kumengerti
inilah hakikat luka yang mulai merapat
Kenangan
hujan merinai dan kemudian kau buka jendela kenangan tentang cerita yang telah tersapu dari halaman : ingatan yang (harus) dimusnahkan bersama sejumlah catatan penggalan pejalanan
pada senja yang tak lagi kemerahan kita masih menyisa pertanyaan apakah perkawanan berkesudahan dengan dendam digenggam tangan?
Kota
di kotaku yang sepi
masih bisa kau hirupi wangi cangkircangkir kopi pada pukul sembilan pagi
di kotamu yang ramai kemacetan menghampar permai susah benar menemu damai
di kota kita yang mati orangorang tidur mendekap belati
di kota, katakkatak sembunyi dalam kotak
Sendiri
bimbang menarik kesunyian
menelisik kata-kata serupa tempias hujan menerobos celah jendela
pada ruang tanpa cuaca gelap berubah jadi hangat seperti purnama yang merapat pada subuh, pada cahaya
Senja
kau sembunyi di balik hujan di reruntuhan kenangan, senja turun di halaman sekolah tua, dan gamelan terdengar di pendopo agung, senyummu yang murung di sana dosaku terkurung, : malam telah dikepung mendung
Perang
dedaunan kuning luruh kering bersama gulma di sekolah tua yang plakatnya tak lagi terbaca pertempuran ini telah kau tunggu sejak lama sejak katakata kehilangan musim dan cuaca
itu hujan di pekarangan yang selalu dikenang sementara awan dan mendung enggan bicara tanpa senjata dan tentara pun kau pemenang sebab disini siapa pandai bicara dia jawara
oleh waktu yang beku hidupnya kian teraniaya lantaran endapan gelegak di dada tak jua tumpah masihkah kita nantikan pertempuran berikutnya untuk pastikan kau menang dan dia telah kalah
Rahasia
mungkin masih ada rahasia di antara silsilah dan jarak yang tengadah
sekiranya ada yang sembunyi biar cahaya sibak kabut pagi sebelum sunyi berubah bunyi
Lagu
/1/ Lagu mengalun biru Membuatmu bisu Di sisi panggung Engkau termenung
/2/ Lagu itu mengingatkanmu Pada cinta dan gundah Sejumlah tanya pada ragu Serta rindu yang merah
/3/ Aku membisukan lagu
Ketika panggung ragu Akan cinta yang biru Dan gundahku jadi rindu
Risau
Dendam dan kenangan saling tarik Pada cinta sunyimu yang kian beku Di beranda toko buku yang terik Tangismu bermuara pada risauku
Kita telah menyusuri jejak gerimis Menjadikan pelukan itu tertunda Risaumu bersandar di bahu tangis Ketika terik berjajar di beranda
Surat
aku sudah tidak menyimpan salinan surat yang kualamatkan pada Q sembunyisembunyi di penghujung bulan Mei
barangkali hanya pada risaunya dan ingatan penyair tepi kota surat itu bisa dibaca dan dibenci dirindu sepenuh hati lalu dicaci
Penulis aktif di Komunitas Ketik dan Tongkrongan Sastra Senjakala. Puisinya dimuat di Solopos, Joglosemar, Buletin Sastra Teh Hangat dan Majalah Horison.
|
|
Posted by isme in Untagged
|
|
air mata ini terus mengalir sering ku coba tuk menahannya,,tetap mengalir..... amarah ini sering terlampiaskan dan sesering itu pula ku coba tuk terus bersabar dan ikhlas.......
kau tlah memilih ku tuk menerima kehidupan ini maka berikan aku kekuatan tuk menjalaninya.......
kau telah mempercayakan masalah ini kepada ku maka berikan aku keyakinan atas kebaikan masalah ini
kau berikan semua ini tuk ku,,dan hanya kepada mu semua akan kembali.....
kau tlah memulai ini semua,,dan harapku...... kau kan akhiri ini semua dengan indah..... dengan akhir yang menyenangkan......... dengan ending yang baik....... untuk agamaku,,,keluargaku,,,,orang-orang yang menyayangiku....
UNTUK MU.... DAN UNTUK KU.........
JADIKAN AKU ORANG YANG DAPAT MERASAKAN KEKUATAN YANG TLAH KAU BERIKAN.........
|
|
Posted by zakky in Untagged
|
|
kawan2 plettonic...
syukur alhamdulillah...
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>
|
pLettonic Stats
| 2758 registered | | 0 today | | 1 this month |
|