|
Feb 27
2009
|
(kado cinta untuk sabrang & uchie)
Apa sih lagu religius itu?
Ada kesalahan fatal masyarakat kita, khususnya kalangan industri; baik pencipta lagu, penyanyi dan label; dalam hal memahami lagu religius. Mereka beranggapan bahwa lagu religius (ada yang menyebut istilah lagu rohani) adalah jenis aliran musik tertentu –berbau musik arab, melayu, padang pasir atau gospel—dengan lirik yang menyebut nama Tuhan, Malaikat, Hari Akhir atau untaian ayat-ayat Kitab Suci. Juga dalam momentum waktu peluncuran atau menyanyikannya pada saat-saat tertentu. Bagaikan musim; kemarau, hujan, ramadhan, lebaran, natal, imlek....
Padahal dalam pemahaman keagamaan–-religiusitas— agama apapun; dari sejak bangun tidur, buang air besar, cuci piring, mencari nafkah, sampai ke liang lahat adalah pekerjaan agama. Ironisnya, pelantun-pelantun shalawat-pun tidak memahami hal ini. Mereka mengikuti arus industri, setiap menjelang ramadhan bekerja keras merampungkan "album religi" untuk pada saatnya nanti di-launch ke pendengar.
Kehadiran Letto, band yang bermarkas disebuah gang, Gang Barokah, Kadipiro, Bantul, Jogjakarta; mematahkan pemahaman itu. Mereka menolak keras membuat album religi dengan pemahaman yang sesat itu.
Dalam satu wawancara dengan sebuah majalah internasional terbitan Indonesia, Noe, vokalis Letto, ketika ditanya; mengapa Anda tidak menjadi penyanyi tembang religi, mengungkapkan: "Karena kita tidak percaya dengan lagu religius. Kalau ada lagu religius berarti ada lagu tidak religius dong. Padahal semua hal menurut kita bisa diambil sisi religiusnya. Mau ngomong kambing sampai tai sapi, semuanya bisa religius juga. Bukan lagunya, tapi bagaimana kita mengambilnya."
Letto, yang digawangi empat anak muda; Noe (vokalis, penulis syair, keyboard); Patub (guitar); Arian (bass) dan Deddy (drum); jauh-jauh hari bertekad membuat musik yang apik, dengan syair-syair yang jelas membawa pesan; meskipun vokal Noe yang biasa-biasa saja. Soal vokal ini secara jujur diakui sendiri oleh Noe bahwa ia menjadi vokalis adalah sebuah musibah. Ia menjadi korban. Teman-temannya tidak ada yang mau jadi vokalis, terpaksa menjadi terdakwa.
Dalam suatu wawancara radio, baru-baru ini, Noe membuka rahasia, yang selama ini ditutup rapat. Bahwa dalam album terbarunya “Lethologica” terdapat satu lagu untuk iblis. Hah...!!
Apakah lagu yang diciptakan untuk iblis termasuk lagu religi? Benar-benar gila. Jelas, kalau mengikuti arus pemahaman 'lagu religi' yang selama ini kita kenal, lagu itu termasuk 'tembang setan'. Bukan lagu religi. Masa iblis dibikinkan lagu.
Lagu iblis ini berjudul: "Kepada Hati Itu". Iblis mengungkapkan hatinya yang terdalam, ia bertugas mengganggu manusia, namun manusia ini terlalu kuat. Senantiasa berserah diri pada Tuhan.
Kepada Hati Itu
Kerasnya hatimu aku tak mampu
Aku tak mau memintanya
Betapa diriku terus mencoba
Tapi merasa ku tak berdaya
Sepanjang waktumu, tak kau biarkan
Tak kau lepaskan keinginanmu
Mencoba bertahan dari hatiku
Keinginanku memilikinya
Kepada hati itu aku terlena
Dimana kau berada, aku terbawa
Kepada hati itu ku terus mencoba
Dimana kau berada, engkau milik-Nya
Harumnya nafasmu sangat sejuk
Sangat pantas di jiwamu
Begitu terasa lapar dahaga
Kasih dan cinta yang kau punya
Kepada hati itu aku terlena
Dimana kau berada, aku terbawa
Kepada hati itu ku terus mencoba
Dimana kau berada, engkau milik-Nya
Kepada hati itu aku terlena
Dimana kau berada, aku terbawa
Kepada hati itu ku terus mencoba
Dimana kau berada, engkau milik-Nya
Kepada hati itu aku terlena
Dimana kau berada, aku terbawa
Kepada hati itu ku terus mencoba
Dimana kau berada, engkau milik-Nya
Kalau saja Noe tidak membuka rahasia itu, kita berpikiran dan menafsirkan bahwa lagu ini lagu cinta biasa, ungkapan seseorang terhadap kekasihnya, yang hatinya belum menerima cintanya.
Sebagaimana lagu "Sandaran Hati" dalam album pertama Letto. Sandaran hatinya adalah antara manusia yang dimabuk asmara dengan kekasihnya (dengan 'nya' kecil). Enam bulan berikutnya orang baru 'ngeh' bahwa lagu ini semacam doa sang hamba kepada Sang Kekasih (Tuhan). Segala permasalahan kehidupan bersandar lepada Tuhan.
Dalam album kedua, Sebelum Cahaya, orang juga dibebaskan menafsirkan, apa kandungan terdalam syair lagu tersebut. Sampai akhirnya ada yang menyebut bahwa ini adalah cerita tentang ketekunan seorang hamba yang menjalankan shalat malam. Sekali lagi orang bebas menafsirkan.
tertinggal di luar kota. untuk itu mohon diralat. (srr) @Sidyana R Rahman, penikmat musik

Terus Maju dan Bersemangat ya mas!!
harus berpikir lebih untuk bisa memahami artinya..
letto "nggak lebai"...nggak sekedar membuat lagu yang hits 1-2 bulan saja terus blank...dilupakan orang!!mereka membuat pendengar ikut bertanya dan menikmati setiap karya mereka dengan cara yang berbeda...mencintai musik mereka yang semakin luarbiasa dan juga mencintai liriknya yang penuh dengan permainan kata...
^_^


