| 
ShoutBOX |
Latest Message: 1 month ago
  • rokhmat : salam
  • rokhmat : Surprised
  • rokhmat : ha.sepi ey
  • rokhmat : wkwkwkwk
  • Alfi : Crying or Very Sad Crying or Very Sad Question
  • Alfi : Crying or Very Sad Crying or Very Sad
  • Alfi : Wooiiiii....... Atu atut sendiri
  • Alfi : He smua para Plettonik. Pake k ato c ya? ah udah lah yg pnting bisa nyamperin smuanya
  • bimo : anybody home?
  • enurrofia : adakah yang bisa membantuku bertemu denagan para personel letto?
  • enurrofia : siaaaaaaaaaaaaaaaang... Razz
  • okta265 : siaaaaaang!!! Very Happy
  • windycadel : byebyebyebye
  • windycadel : pulang dulu yaa.. mau liat HP & The Goblet of Fire Razz
  • windycadel : setujuuuuu...
  • windycadel : *lama kemudian setelah post sebelumny* HUAKAKAKAKAKAKAKAKAK
  • windycadel : *ngebayangin dgn wajah mas widy n mas darto*
  • okta265 : oia..gimna ya klo di forum ini ada smiley buatan letto sendiri,misalnya pake wajahnya mas2 gt jd icon smileynya..seru tuh..hehe
  • windycadel : koneksi hehehe, pan printer jg rusak
  • okta265 : Laughing
  • okta265 : yg lelet koneksinya ato warnetnya? Very Happy
  • windycadel : warnetnya lelet.. Sad
  • windycadel : hahahaha
  • okta265 : iya,ni ak juga sambil twitteran..hehehe..
  • windycadel : podo yaa kita juga Laughing
  • windycadel : twitteran mulu
  • okta265 : iya nih...pada kemana yaa??
  • okta265 : udh lama ga ada laut
  • windycadel : sepi yaa sekarang? sesepi hatiku.. *hoeeekkss*
  • windycadel : udah lama nggak ke laut Mr. Green
  • windycadel : long time no see
  • okta265 : ada tarzan dataang ya? khekhekhekhe V^^V DAMAI!!
  • windycadel : auoooo...
  • okta265 : pagi lagii..hehehe..
  • isme : Geek
  • isme : tumben niiicchhh pgi2 da OL.... Laughing Razz
  • isme : pagiii....jga....
  • okta265 : pagiiiiiii.... Very Happy
  • monyed : met pagii...!! Very Happy
  • okta265 : siaaaaaang...!! Very Happy
  • monyed : sugeng ejang.... Mr. Green Mr. Green
  • monyed : Very Happy Very Happy Very Happy
  • monyed : sugeng dalu...
  • monyed : Very Happy Very Happy Very Happy Laughing Very Happy Very Happy
  • monyed : sugeng enjang.... gud morning... selamat pagi....
  • monyed : hehehehe.... enek jeng peppie....
  • peppie : Smile annyeong haseyo...
  • isme : tpi,,ko spi,,,,yaacchhh???? Confused
  • isme : ikut gbung,,,,dooonk.......
  • okta265 : haaaaaaaaaaaaiiiiiiii!! Very Happy

Only registered users are allowed to post

Angin Mengembun

terinspirasi oleh Letto
Tags >> Fiksi
Apr 24
2009

Masjid Abah

Posted by zakky in Fiksi

zakky


Kemarin malam, abah mengajakaku makan sego kucing di angkringan
Kang Dedhot. Aku heran, tak biasanya abah mengajakku makan di luar. Apalagi hanya berdua denganku. Seusai makan, abah membersihkan giginya dengan tusuk gigi. Aku menyeruput es tehku yang masih utuh. Abah mengambil nafas panjang, lalu berujar.


Apr 15
2009

Menjelma Tuhan

Posted by zakky in Fiksi

zakky
aku rasa, kau belum menjelma tuhan
jadi aku belum bisa menyembahmu, sayang
alih-alih kau mengutukiku
malah kau semakin memitoskanku
Feb 25
2009

CAHYA ARIMBI

Posted by zakky in Fiksi

zakky

Sore yang teduh di bulan April. Aku pergi naik angkot dengan sahabat karibku menuju Jalan Slamet Riyadi. Kami hendak menonton karnaval. Solo Batik Carnival, begitu koran lokal mewartakan dalam headlinenya akhir-akhir ini. Berbekal rasa penasaran khas orang udik bawaan dari desa, kami berangkat setelah menghabiskan makan siang dan dengan semangat yang nyalang. Namun bagiku, tak hanya karnaval itu yang meyulut semangatku, akan tetapi karena aku nanti juga akan bertemu Cahya. Aku dan Cahya telah membuat janji untuk bertemu pada pesta batik itu.

Cahya bukan siapa-siapa. Dia hanya seorang siswi kelas tiga SMA yang mengagumi sajakku. Kebetulan dia salah satu redaktur majalah remaja lokal di mana sajakku pernah dimuat. Ketika ada pertemuan penulis muda Solo, Cahya datang bersama teman-temannya. Kami berkenalan, aku sebagai panitia, dia peserta. Dia tampak menutup-nutupi bahwa sajakku telah mendapat tempat di hatinya sebagaimana disampaikan salah seorang panitia yang satu sekolah dengannya kepadaku. Pun demikian, matanya tetap tak bisa membohongiku. Sama sekali.

Menurutku, Cahya tidak terlalu cantik. Kulitnya sawo matang cenderung gelap, kulit orang Solo. Perawakannya sedang, aku perkirakan sekitar 160 cm tinngginya. Kalau tersenyum sering ditahan dan matanya sedikit menyipit. Senyumnya itu aku suka. Senyum yang langka, kataku. Yang hanya keluar ketika pemiliknya benar-benar ingin tersenyum saja. Dan senyuman seperti ini hanya dimiliki oleh beberapa gelintir orang. Tak banyak. Cahya diantaranya.

Feb 19
2009

ZIARAH RINDU

Posted by zakky in Fiksi

zakky

mengenang almarhum kakek

Rindu apalagi yang bisa
menduakan rinduku padamu, Kek
belum sekalipun kutatap wajahmu
engkau sudah bertatap muka denganNya
aku mengagumimu hanya lewat cerita

Dan senja ini, puasa tinggal sehari
kami larut dalam doa bersama
Kek, kami semua menunduk syahdu
khusyuk menatap pusara depan kami
inilah  kami para cucu
yang belum sempat mencatat
betapa sahaja dan purnama lakumu

Kami siangi rerumputan di atas pusara
kamboja kering kami punguti pula
terbaca kusam namamu pada nisan
terlintas kisahmu dalam ingatan
Kek, di langit senja yang ranum
kami sedang melihatmu tersenyum
Feb 19
2009

JINAK

Posted by zakky in Fiksi

zakky

mungkin inilah puisi kesekian

yang menegaskan

betapa Arjunanya

Feb 18
2009

BUKA

Posted by zakky in Fiksi

zakky

 

haruskah aku memintanya pergi

biar kelakarmu tak lagi tertahan di gigi

Feb 18
2009

DELMAN

Posted by zakky in Fiksi

zakky

Salman, adikku yang sedang kecanduan delman

mengingatkanku pada sebuah percakapan beku

Jan 29
2009

BAHAGIA

Posted by zakky in Fiksi

zakky


walau makan susah

walau hidup susah

Jan 25
2009

JOGJA-JAKARTA

Posted by zakky in Fiksi

zakky


Di stasiun, di mana kereta datang dan pergi. Aku berusaha
menyibak apa yang disembunyikan di balik sayu matanya. Ya,
sebentuk rasa takut kehilangan dan enggan berpisah terbaca
jelas di pelupuk mata yang mulai berkaca-kaca itu. Sedari
tadi duduknya juga tak tenang. Berkali-kali dia menengok
ke kiri dan ke kanan, entah apa yang dicarinya. Dan kereta
dari barat pun merapat, para penumpang berhamburan. Kucoba
memecah diam.

“ Kau sudah mantap pergi ke Jogja kan, Dik?” tanyaku.

“Seharusnya aku yang bertanya seperti itu. Mas, sudah
yakin mau ke Jakarta? Mas, benar-benar tidak ingin
memenuhi wasiat Abah dan Umi kita?” dia justru balik
bertanya.

“Dik...bukannya begitu, tapi aku tahu jalan mana yang
harus kutempuh. Jalan terbaik untukku, untuk kita. Biarkan
aku menyusuri lorong-lorong Jakarta dan aku akan
merelekanmu meninggalkan kota ini, menuju Jogja.”

Senyap. Detik-detik merayap. Sunyi. Diam menyelinap
lagi-lagi.

“Tapi kulihat kau masih risau tampaknya. Kau ragu?”
keningku berkerut, pertanyaanku dijawabnya dengan gelengan
kepala.

“Aku takut, Mas,” suaranya parau, tatap matanya kosong.

“Kamu takut Jogja?”

“Bukan, aku takut tak bisa bertemu lagi dengan Mas.
Setelah wafatnya Abah dan Umi, siapa lagi yang kupunya di
dunia ini selain Mas. Aku juga takut, jika-jika Mas tak
lagi bisa melihat purnama. Bukankah Fitha teman Mas yang
di Jakarta itu pernah bercerita demikian? Gedung-gedung
telah menutup langit, katanya. Jika tidak bisa melihat
purnama lagi, Mas pasti akan melupakanku. Aku masih ingat,
setiap malam bulan purnama kita sering duduk di atas batu
besar tepi sungai sambil menatap bulan. Mas, selalu bilang
bahwa aku adalah purnama itu. Yang hanya akan hilang jika
pagi menjelang,” ujarnya seraya terisak.

Kuseka air matanya yang merintik bagai gerimis sore hari.
Disandarkannya kepalanya di bahuku. Kami larut dalam maha
duka yang belum pernah kami alami sebelumnya.

“Sudahlah Dik, tak ada yang perlu kau risaukan. Aku janji,
namamu tak akan pernah lekang dari setiap doa yang kurentang. Toh
lebaran tahun depan, kita masih bisa pulang ke desa.
Menjenguk tempat dimana angin dan embun senantiasa menjaga hari-hari
kita. Nanti kita memetik mawar lagi di hutan belakang
rumah seperti hari kemarin. Atau mungkin kau ingin mencari
ikan sepat kesukaanmu di sungai ujung desa seperti waktu
kita kecil dulu? Tapi pastinya, kita akan pergi ke kaki
bukit tempat kita biasa menangkap capung untuk nyekar di
makam Abah dan Umi kita. Aku akan menyimpan semua
kenangan, Dik,” sungguh-sungguh aku berujar.

Tangisnya semakin sesenggukan. Pelukannya semakin
dirapatkan. Aku membelai rambutnya seolah menyalurkan
kekuatan. Kita memang sering tak berdaya ketika
harus bertemu dengan perpisahan!

“Mas, mengapa kau tak ikut aku saja ke Jogja? Kau tega
membiarkanku berkawan sunyi?”

“Dik, kau sendiri tahu, Lik Satrio selamanya tak akan
pernah menerimaku. Terlebih setelah kejadian yang menimpa
Marino anak sulungnya itu. Dia selalu menuduh akulah
penyebab segalanya. Tinggallah barang beberapa tahun
dengan keluarga Lik Satrio. Mereka masih mau menerimamu
dan kau harus terus melanjutkan sekolah. Kelak jika aku
sudah jadi orang aku akan membawamu kembali ke desa. Kita
akan memulai segalanya dari awal lagi. Saat ini kita tak
ubahnya sedang mengumpulkan melati-melati kecil yang akan
kita rangkai dan kita kalungkan di leher kita esok hari.
Percayalah!”

Lantas kami tenggelam dalam diam. Tapi tangisnya belum
sepenuhnya diam. Peluit kereta yang baru saja datang
menjerit-jerit. Hatinya tak kalah menjerit.

“Itu keretamu datang, naiklah. Sebentar lagi keretaku juga
akan segera datang. Hapus dulu air matamu.”

“Mas...kita akan pergi...kita akan berpisah...” ia seolah
tak percaya.

“Iya, dan kita akan kembali, kita akan bersama-sama lagi,”
tukasku mantap.

Kereta bertolak sudah. Langit tiba-tiba hilang cerah.
Seorang pengamen datang menghampiriku. Petikan gitarnya
mengiringi lagu Permintaan Hati milik Letto yang
dinyanyikannya dengan segenap perasaan. Aku turut
menggumamkan lagu ini bersamanya, lagu yang mungkin juga
sedang disenandungkan Dik Ning dalam kereta.

Solo, 31 Januari 2008

*)Dimuat di Majalah Bias SMAN 5 Solo

Special thanks: Embun Setetes, Ponorogo, Letto, K300i, TOSHIBA Tecra A8 dan hari esok yang tak tertebak.
Jan 25
2009

MENGGENGGAM KEMBANG

Posted by zakky in Fiksi

zakky

Di keraguan mata kita berpeluh
Kuncup kita utuh atau lusuh
Lewat hati kita sama berikrar
Hari-hari kembang kita mekar

Jika aku luruh suatu waktu
Kau harus tetap berkuntum
Biar bersaksi tanah dan batu
Di sini kita pernah harum

*) Majalah Sastra Horison edisi Juni 2007, dibacakan pada tanggal 9 Maret 2008 di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah dalam acara Launching dan Bedah Buku ”Kata Orang Aku Mirip Nabi Yusuf”
<< Start < Prev 1 2 3 Next > End >>

Member Online

None

Myblog Tags

Myblog Categories

pLettonic Stats

2758 registered
0 today
1 this month
 
Copyright © 2008 Letto. All rights reserved.