Tue 08 Jul 2008 |
|
NOE LETTO "Ayah saya penyanyi Tembang Setan" |
|
|
|
|
Written by Karlina Octaviany
|
|
| | Pelantun tembang-tembang teduh dari Letto ini berbagi kisah berjumpa dengan Nabi, arwah Freddy Mercury, hingga kenakalan membakar pabrik. Sabrang Mowo Damar Panuluh adalah putra budayawan Emha Ainun Nadjib dengan istri pertamanya, Neneng Suryaningsih. Kini, dia melejit dengan nama sapaan yang berasal dari rekan kuliahnya di Jurusan Matematika dan Fisika, Universitas Alberta, Edmonton, Kanada. Pria kelahiran 10 Juni 1979 ini memotori terbentuknya Letto. Lagu Letto di album perdana Truth, Cry, and Lie yang sendu telah merebut perhatian. Album kedua Letto, Don't Make Me Sad, memiliki misi khusus karena sebagian hasil penjualan akan didedikasikan untuk pembuatan buku dengan huruf braile. Inilah vokalis, keyboardist, dan pujangga yang menghias lirik Letto dengan kata-kata puitis yang kontemplatif. |
|
Sebuah pelajaran dari EURO 2008 |
|
|
|
|
Tuesday, 24 June 2008 06:46 |
|
Kita sering dijebak dengan berbagai argumen identitas sebuah kelompok. Hingga kemudian yang terjadi adalah kumpulan kesalahan dan fanatisme keliru. Identitas seakan-akan menjadi titik tolak dan alasan untuk mencintai dan membenci sesuatu, berbuat, berkomentar, mendukung, menghina, hingga ikut-ikutan baku hantam dan menjastifikasi. Meluruhkan penilaian secara menusiawi dan menjadikan legitimasi dari wujud perilaku kita. Sekian banyak lis identitas yang akhirnya menjadi awal dari sekian banyak masalah, misal; institusi, kelompok, partai politik, agama, warna, pakaian, suku, bahasa, hingga negara. |
Tue 20 May 2008 |
|
Kejangkitan, Kebangkrutan, Kebangkitan |
|
|
|
| Seratus tahun bukan waktu yang singkat untuk umur kehidupan sebuah bangsa dalam berbenah. Kebangkitan juga merupakan kata untuk meluruhkan kejumudan dalam keterpurukan demi keterpurukan. Bangsa ini pernah bercita-cita menjadi bangsa besar dan berwibawa seratus tahun yang lalu. Bahkan mungkin lebih. Namun semangat dan legitimasi formal Ikrar Kebangkitan Baru 20 Mei 1908. Kini kita tengah berada pada kehidupan yang diidam-idamkan, diimpi-impikan oleh para pendahulu dan penanam semangat kebangsaan. Kita tengah berada pada situasi yang seratus tahun lalu masih menjadi tanda tanya. Kita tengah berada pada suasana yang se-abad lalu digadhang-gadhang menjadi titik puncak kemakmuran dan kedigdayaan negeri ini. |
Mon 19 May 2008 |
|
Generasi Larva: Memulai 100 Tahun Kedua |
|
|
|
| Salah satu produk populer di "dunia gaul" dari 100 tahun kebangkitan bangsa kita adalah idiom "Indonesia banget!". Bahasa tubuh dan mimik yang mengungkapkan istilah itu mengungkapkan konotasi negatif. |
|
|
|
|
<< Start < Prev 1 2 3 Next > End >>
|
|
Page 1 of 3 |