|
Pertama adalah rasa syukur kepada Tuhan yang tiada
terhingga, acara yang disepakati dilaksanakan pada 20 – 21 kemaren berjalan
lancar dan memberi penuh kesan yang tidak mudah atau bahkan takkan terlupa.
Di dalam tulisan ini saya tidak akan bercerita
secara detail dan runtut tentang Meet & Greet 2008 di Seloliman Trawas
kemarin. Saya mencoba mengambil sisi tertentu yang bisa menjadi tawaran nilai
dan transaksi untung-rugi peristiwa.
Meet and Greet, satu
bukti bagi seluruh pemerhati Letto bahwa pLettonic yang terdiri dari wilayah,
daerah, dan tempat-tempat yang berjauhan bisa manunggal dalam satu semangat
kekeluargaan yang mesra. Ternyata pLettonic tidak hanya sekedar hiasan, tidak
cuma kiasan, tapi intan mutu manikam yang harus dipelihara dan dirawat kilau
cahayanya.
Insya Allah artikel tentang Meet and Greet ini
akan saya buat menjadi 3 bagian. Yang pertama tentang awal pertemuan [tanah
longsor, hujan, dan barokah pertemuan]. Kedua tentang Silaturahmi dan Lingkungan
hidup [hidup mati tanpa silaturahmi]. Serta ketiga tentang akhir acara. [
pLettonic, ditanam di musim yang tepat.]
Tanah Longsor, Hujan, dan Barokah Pertemuan
Hujan bukan
sebuah musibah, tapi ternyata anugerah luar biasa. Ini terbukti pada awal acara
kemarin. Tanggal 19 Maret, Letto masih menemani dan menghibur saudara-saudara
di Batam. Jauh dari Batam, teman-teman pLettonic dari berbagai daerah,
berduyun-duyun menuju kawasan Seloliman, Trawas, untuk koordinasi acara Meet
& Greet.
Sejak sore hujan di
wilayah ini tidak kunjung henti. Kejadian yang mengundang kekhawatiran dari
semua pihak, apalagi beberapa kilometer dari kawasan pertemuan terjadi tanah
longsor yang menutup jalan, jalan ini adalah salah satu akses dari Mojokerto menuju
PPLH, tempat acara Meet & Greet akan dilangsungkan.
Semua rombongan
akhirnya disarankan untuk lewat dari kawasan Ngoro menuju PPLH. Ternyata jalan
ini justru lebih dekat. Sampai di lokasi, semua rombongan berkumpul di resto
alas, ngobrol, saling berkenalan dan melepas lelah. Sayang sekali rombongan
Jakarta yang melewati rute terjauh acara ini masih belum juga tiba. Padahal
semua peserta sudah tidak sabar bertatap muka dan saling becanda di malam yang
dihiasi suara air hujan itu. Rombongan Jakarta baru tiba di lokasi pada jam
02.30 dini hari, setelah ngobrol sebentar dengan beberapa orang yang masih
terjaga mereka langsung berpamitan untuk beristirahat karena kecapekan. Hujan
yang tadinya sempat reda sebentar ternyata muncul lagi untuk menyambut
kedatangan teman-teman Jakarta dengan rintikan-rintikan lembutnya.
Sebenarnya bukan
hal aneh bin ajaib dengan hujan di musim kali ini. Tapi ada beberapa hal yang
menjadi aneh dan dramatis, ketika tempo tanah longsor terjadi di saat para
rombongan hendak datang. Begitupun guyuran hujan yang menyertai awal pertemuan
para pLettonic di kawasan Lingkungan Hidup PPLH.
Apa letak
keanehannya? Pertama, bukankah tanah longsor adalah bencana yang identik dengan
kesalahan dalam mengelola lingkungan hidup? Kedua, bukankah lingkungan hidup
menjadi agenda penting Meet & Greet kali ini? Ketiga, bukankah tanah
longsor itu terjadi dekat kawasan PPLH? Dan bukankah PPLH bertanggung-jawab
dengan masalah lingkungan hidup?. Mestinya PPLH sebagai Pusat Pelatihan
Lingkungan Hidup menjadi sasaran selanjutnya untuk disalahkan dengan terjadinya
tanah longsor yang berlokasi tidak jauh darinya. Mestinya PPLH ikut
mempertanggung-jawabkan kenapa longsor bisa terjadi, dan menginterogasi apa
tugas-tugas mereka selama ini. Tapi cara berpikir seperti ini, ibarat
menyalahkan tanah, yang dianggap tidak layak disebut tanah gara-gara tanaman
yang tumbuh darinya tidak berbuah maksimal. Atau bagai menyalahkan pedagang
buah sebelah yang buah2nya manis, dibanding buah jualan kita yang hambar. PPLH
telah berupaya, tapi tanpa didukung oleh semua elemen terkait maka muskil bisa
memberi hasil.
Untung saja,
tidak ada penilaian-penilaian negatif muncul, ternyata semua elemen masyarakat
langsung menyadari bahwa sebuah musibah lingkungan terjadi, bukan dari
kesalahan pihak-pihak tertentu, atau institusi-institusi tertentu, melainkan
akibat dari kesadaran diri yang kurang bijak terhadap watak lingkungan hidup.
Artinya masyarakat sudah cerdas dalam mengamati fenomena alam dengan
lebih cermat, tidak sekedar mencari kesimpulan instan yang tidak mendasar. Ini juga
yang harus dipelajari oleh pLettonic, tidak terburu-buru mengambil kesimpulan
dan pengkambing-hitaman kepada idiom tertentu, tapi ditelaah secara matang
sebab dan akibatnya. Ini berguna dalam menyikapi segala hal.
Meet & Greet
kali ini, sejak semula diformat untuk salah satunya mengenal dan memahami lebih
baik perlakuan seimbang terhadap alam. Contoh konkrit tentang keseimbangan alam
yang diabaikan watak dan karakternya berimbas pada kerugian manusia sendiri,
sudah terbukti secara gamblang dengan terjadinya tanah longsor.
Akhirnya, paling
tidak ada dua hal yang bisa kita perhatikan. Pertama, tanah longsor dan mulai longsornya
kesadaran terhadap lingkungan. Kedua, hujan dan derasnya semangat pLettonic
untuk membangun silaturahmi. Toh, hujan yang datang akhirnya menyempitkan
pilihan untuk berpikir secara individual dan mencari kesenangan
sendiri-sendiri, hujan memaksa kita untuk berteduh dan berakrab-akraban
di dalam sebuah ruangan bersama-sama, sebuah Meet & Greet yang sempurna. Ternyata keindahan selalu muncul di
tengah-tengah keburukan yang kita duga.
***
Bersambung...
 |
jadi inget moment masak bareng, jalan" bareng
wis kangen ma plettonic semua :sigh