Kakak udah punya pacar blom?? Pertanyaan yang dilontarkan oleh adik mayaku itu begitu menggelitik dihati. Seketika itu pula muncul pertanyaan besar diotakku. "Apakah sebenarnya pacaran itu???"
Mengherankan bukan ketika pemuda seusiaku menanyakan hal itu. Bukankah seharusnya aku yang mengajari kepada adik adiku tentang hal itu, atau "kata orang tua" memberikan contoh kepada mereka bagaimana pacaran. Tapi itulah kenyataannya, aku yang sekarang telah berusia 23 menginjak 24 bulan depan masih menanyakan hal itu. Bukan karena aku belum pernah pacaran. Ataupun aku yang sudah 6 kali pacaran tetapi hanya seumur jagung. Maksimal 6 bulan lah. tetapi pertanyaan itu aku lontarkan karena begitu banyaknya penafsiran orang mengenai pacaran. Ada yang bilang pacaran itu makan berdua, jalan berdua, seneng berdua, nangis berdua, dan lain lain asal dilakukan berdua. Ada juga yang bilang kalau pacaran itu asal kita udah bisa bawa cewek ke "kamar kos". Atau pacaran itu maksimal hanya lihat muka dan pegangan tangan. Hal inilah yang sering menjadi benang kusut dipikiranku.
Ketertarikan terhadap lawan jenis adalah kunci utama dalam pacaran. Sebab hal inilah yang menciptakan getar getar dalam hati untuk lebih dekat dan mengetahui siapa dia. Walaupun terkadang ketertarikan itu berkonotasi negatif, tetapi hal inilah yang tetap menjadi kunci utama pacaran. Eh... kuwi anake sopo yo koq ayumen...?
Terlepas dari semua itu, (ada yang mengatakan) tujuan pacaran adalah saling mengenal lebih jauh. Baik dari perilakunya, sifatnya ataupun pemikirannya. Kalau hanya sebatas mengenal kita bisa kenalan, tanya nama, ngobrol ngalor ngidul, tanya nomor handphone dan lain lain yang sifatnya basa basi. Tetapi untuk mengenal lebih jauh, kita perlu suatu hubungan yang lebih intens, lebih sering ketemu, lebih sering ngobrol, lebih sering membahas masalah masalah yang sifatnya pribadi, yang tidak boleh diketahui oleh publik, limited edition atau apalah namanya yang jelas "Not For Public Consumption". Hal ini logis ketika didasarkan saling mengerti dan memahami, mencari solusi bersama untuk mengatasi perbedaan. Bukan untuk mencari "kartu as" lawan jenis kita (walaupun dengan membicarakan masalah pribadi secara tidak langsung kita telah membuka "kartu as". Tetapi sebagian besar lebih cenderung memilih sambil menyelam minum air, disamping dapat lebih mengenal dan memahami, suatu saat, kalau dia macam-macam, kartu as akan bertindak. Membelenggu kebebasan berekspresi, sehingga dia tidak berani bertindak sesuai dengan apa yang diinginkannya.
Banyak tempat yang dapat dijadikan sarana untuk ngobrol berdua, yang jelas orang lain tidak bisa mendengar apa yang dibicarakan. Salah satu alternatif adalah mencari tempat yang sepi untuk mengekspresikan diri. Bisa mojok di taman, tempat rekreasi, atau bahkan di kamar kos. Disaat "berduaan" di tempat sepi inilah secara tidak langsung "nafsu" mulai menampakkan diri. Hal wajar mengingat manusia diberi karunia nafsu, rasa ingin tahu, dan tidak mudah puas oleh Yang Maha Mencipta. Tetapi menjadi tidak wajar ketika manusia sudah tidak bisa mengendalikan karunia yang diberikan kepadanya. Dengan segala skenario dan cara, nafsu mulai merasuki pikiran. Mendominasi atas akal sehat yang dimiliki. Menghalalkan segala cara demi memuaskan rasa hausnya. Hari ini berpelukan, besok kissing, minggu depan petting dan ujung-ujungnya 7 dari 10 wanita yang belum menikah sudah tidak perwan lagi. Dan sekali lagi, ketika nafsu sudah mengusai dan menjadi kebiasaan, tempat tidak jadi masalah. Mulai hotel yang berbintang 5, losmen kelas melati, kamar kos ataupun pinggir kali asal orang lain tidak mengetahui tidak jadi masalah. hebatnya, hal ini sudah menjadi budaya di sekitar kita.
Apakah ini yang disebut Pacaran??
Wahai wanita....
Berdoalah supaya engkau menjadi yang tiga
Karena kami para lelaki....
Selalu menginginkamu menjadi yang tujuh.