|
Saat berakhirnya sebuah event, farewell party dan kemudian pada pulang ke rumah masing-masing. Apa yang menjadi rencana tindak lanjut (follow up) kadang sempat 'terhapus' oleh lelahnya tubuh dan pikiran.
Pasca Pesta Konferensi Tingkat Tinggi tentang Perubahan Iklim, Desember 2007, lalu di Denpasar atau pun pasca Meet and Greet di PPLH Seloliman ada beberapa catatan tercecer yang mungkin kelupaan blom kita tindak lanjuti. Maklum kita spesies manusia, tempat khilaf dan lupa. Tapi jangan selalu menjadi jastifikasi kita makhluk amnesia lho. Kadang perlu perenungan dan kontemplasi, saat kita mau bikin dan atau setelah selenggarakan sebuah event. Apa lanjutan yang bisa kita jahit-jahitkan dengan penggalan perjalanan hidup yang telah kita lalui. Akan menjadi sebuah catatan sejarah hidup yang berarti bila kita BISA MERANGKAI JADI SEBUAH PENGKAYAAN BATIN demi untuk MEMBUAT RENTETAN PERUBAHAN POSITIF bagi diri sendiri, syukur bage untuk orang banyak baik di komunitas terdekat kita atau untuk kalangan yang lebih luas lagi. Kadang aku nelangsa. banyak event besar dan dihadiri banyak orang , tapi just for amunsement dan cari popularitas belaka. Dalam suasana sesepi kayak malam ini, apakah PASCA-PESTA haruslah selalu SEPIII lagi. Nyepi Forever ae Cak! Kupikir bertapanya orang sekarang gak harus selalu di bawah pohon Ficus benyamina atau di bawah bohon Bodi seperti jaman Sang Buddha dulu. Kenapa tidak dalam keramaian modernitas ini kita bisa bijak mensikapi pasca-pesta dengan sumbangan ide atau hal yang lebih besar melakukan PERUBAHAN secara BERSAMA. Trus apa sing isa dilakoni [nyuwun komentar lan ular-ulare seko Sahan pisan]. Membangun mimpi bersama, lewat diskusi dan sharing, untuk melakukan sebuah perbaikan keadaan, sekecil apapun, kupikir sudah merupakan Ibadah (daripada- tinimbang ngerumpi tanggane dhewe opo cuma diskusi kelanjutan opera sabun sinetron dan renspon semaraknya info-tainment para public figure) atau sebuah 'tapa laku' berbuat bareng untuk sadar melakukan respon terhadap perubahan yang sedang terjadi. Ironisnya itu semua kadang terkubur oleh rutinitas keseharian, yang again and again lagi. Respon terhadap fenomena Perubahan Iklim Global dan Menghidupkan yang Mati serta Menyuburkan yang Hidup adalah sebuah Masterpiece Peradaban Manusia yang kian langka dilakukan serta diwujudkan dalam Usaha riil secara Bersama-sama. Tak ada guna kalau 'memimpikan sebuah Perubahan skala Luas HANYA dimimpikan secara Individual'. Sepi............................................ Pasca KTT Perubahan Iklim di Denpasar Desember lalu contohnya, para panitia setelah kukut-kukut ubarampe pesta hingga sekarang blum ada Gelegar pemberitahuan penterjemahan Bali Roadmap berupa Strategi Penanganan Perubahan Iklim secara Komprehensif, Cilaka, cilaka..... Dah ngerti ada Ancaman Bahaya Mengepung KITA, tapi paradigma Cuek is the Best menjadi budaya masal baru yang kadang aku sendiri bertanya; Sudah Sedemikian parah-kah Sakit MATI RASA kita sekalian ini? Sebagai bagian dari Archipelago Community yang bernama NKRI, wacana We are NOT just a VICTIMS, but WE ARE THE SURVIVORS harusnya sudah membuahkan banyak Draft terkait dengan Strategi Mitigasi dan Adaptasi terhadap Perubahan Iklim yang cepat dan Cermat sebagai aksi tindak lanjut dari Bali Roadmap. Duh Gusti, ada salah apa dengan bangsa ini. Manakala Yang Maha Hidup sudah berikan early warning dengan berbagai gejala perubahan di kawasan terrestrial maupun Perairan serta Samudra di seantero kepulauan Nuswantara ini 'mendidih' bergolak dalam beberapa tahun belakangan ini tak juga menyadarkan kita akan adanya sebuah Perubahan Besar, it is just begining! Jika benar apa hasil temuan para ilmuwan, peneliti minus penggagas Inconvennient Truth, memang benar adanya: kenaikan suhu rata-rata yang 'hanya' 0,2-0,4 derajat celcius; tinggi muka laut yang naik tak lebih dari sejengkal tangan orang dewasa dalam kurun waktu 1 Abad terakhir; mencairnya es kawasan kedua kutub (ini gak bikin air laut naik lho, bisa kau coba sendiri dengan lelehkan secuil es di segelas air), dan penyempitan area 'salju abadi' di banyak puncak pegunungan-pegunungan tinggi di seluruh planet Bumi (lelehan salju abadi dan gletser ini yang justru tambahi volume airlaut); menyempitnya vegetasi 'hutan musim' di kawasan sub-tropis dan 'hutan tropis' di seputar kawasan lintang rendah katulistiwa telah terjadi; naiknya suhu permukaan airlaut dan samudra di seluruh dunia walau tak lebih dari 0,5 derajat celcius tapi banyak terbukti adanya coral bleaching, makin-seringnya datang silih berganti El-Nini dan La-Nina di kawasan kepulauan Nusantara, Angin Muson tak lagi bertiup sepoi dan seteratur dulu lagi, Alberta lebih dingin beberapa derajat (sementara di lintang yang sama pada belahan Bumi Utara, daratan Eropa Barat jauh lebih Hangat) pada sebuah penggal Musim Dingin pada beberapa tahun terahir; Konsumsi energi berbasis hydro-carbon dan Fosil melonjak, terutama untuk memasok kebutuhan listrik sebagai konsekuensi modern lifestyle dan berbagai konsumsi tinggi produk-produk atribut Pop-Culture; lubang Ozone yang sempat menganga lebar di atas Antartika (untungnya mulai menyempit lagi dalam 5 tahun terakhir). Proses Entropi (Sunatullah) sebuah arah proses yang terjadi tapi tak bisa dikembalikan menjadi seperti apa adanya semula lagi akibat Kepongahan, keserakahan dan kebebalan Kita sendiri yang sok pingin jadi tuhan dan yang "ter-". Belum lagi tentang Kecenderungan Penurunan Hasil Panen komoditas Pangan di banyak sentra/lumbung pangan dalam satu Dekade terakhir di negeri ini. Panen Bencana tak peduli di musim Kemarau ataupun Penghujan [celakanya belum satupun Satkorlak Penanggulangan Bencana di Kabupaten/Kota di Indonesia punya Contigency Plan dalam Sistem Penanggulangan Bencana (Disaster Management) yang jelas dan komprehensif] tak kenal henti. Paradigma penanganannyapun hanya Sekedar Emergency Response yang hanya bikin senang para Penari di Atas Tanah Bencana. Kekeringan, Puso-Gagal Panen [yang mengancam Ketahanan Pangan Nasional]. That's so much Fact. Kalau banyak fakta nyata telah digelar sebagai sebuah tonton siaran 'live from' langsung dalam keseharian Kita, kok ya tidak menggetarkan nurani, menggerakkan Kita untuk Do Somethings, sabar menunggu Sang Mesias Ratu Adil..............., Duh Gusti................. didikan siapa yang salah ini? Aksi Nasional Strategi Mitigasi dan Adaptasi terhadap Perubahan Iklim BUKAN SEKEDAR SLOGAN sekelompok orang ataupun ISU KAMPANYE sebuah Partai Politik di negeri ini, tetapi HARUS MENJADI SEBUAH GERAKAN SOSIAL SKALA LUAS DI SEMUA LINI KEHIDUPAN DALAM BERBANGSA DAN BERNEGARA. Di Kelompok Akar-Rumput, Akademisi, Aktivis LSM dan juga Kalangan Birokrat di Semua Level sesuai dengan Kapasitas dan Kompetensinya masing-masing. Tidak sekedar Melakukan Perencanaan yang sifatnya Teknis Operasional saja, sekaligus Sistem dan Mekanisme yang jelas untuk merespon kondisi terburuk sekalipun! Persoalan mendasar adalah Belum-adanya kesepahaman KNOW_HOW nya, hingga dalam julak-juknis yang Aplikatif dan Adaptif sesuai dengan Kondisi Kelokalannya; Sinkronisasi Regulasi dan Pembagian Peran yang sering tumpang-tindih dan kadang Kanibalistik dalam sistem birokrasi pemerintah --egosektoral dan masa bodoh yang kebablasan. Koordinasi dan Konsolidasi jadi barang Langka dan Mahal. SADAR secara Kolektif sebagai SURVIVORS; Semua hal di atas merupakan PEKERJAAN RUMAH KITA BERSAMA. Kita tidak ingin menjadi Bangsa Korban yang selamanya terus terpuruk di posisi Nadir Ketidak-berdayaan. KITA BERSAMA HARUS BERUPAYA SENDIRI, tanpa perlu DIKOMANDO BANGSA LAIN. KITA BERSAMA SADAR untuk menjaga PERADABAN serta MENJAGA NKRI TETAP TERCANTUM DALAM PETA GLOBAL YANG SUDAH TIDAK MENGENAL BATAS TERITORI NATION DAN NOTIONNYA. Selamat BEKERJA! Bila bumi telah dilengkapi dengan perangkat pemuda yang panas semangat layaknya pLettonic, maka kelangsungan perbaikan di segala bidang di kemudian hari tak akan mencemaskan. Semoga memang benar-benar panas dan selalu terjaga bara-nya. bukan hangat, baik hangat-hangat kuku, atau hangat-hangat eek ayam.
 |