|
Seratus tahun bukan waktu yang singkat untuk umur kehidupan sebuah bangsa dalam berbenah. Kebangkitan juga merupakan kata untuk meluruhkan kejumudan dalam keterpurukan demi keterpurukan. Bangsa ini pernah bercita-cita menjadi bangsa besar dan berwibawa seratus tahun yang lalu. Bahkan mungkin lebih. Namun semangat dan legitimasi formal Ikrar Kebangkitan Baru 20 Mei 1908. Kini kita tengah berada pada kehidupan yang diidam-idamkan, diimpi-impikan oleh para pendahulu dan penanam semangat kebangsaan. Kita tengah berada pada situasi yang seratus tahun lalu masih menjadi tanda tanya. Kita tengah berada pada suasana yang se-abad lalu digadhang-gadhang menjadi titik puncak kemakmuran dan kedigdayaan negeri ini.
Namun apakah benar situasi ini sudah menjadi impian segenap nurani bangsa. Apakah mbah Boedi Oetomo di alam berbeda sana, sudah manggut-mangut bangga serta tak tersadar meleleh air mata di pipinya karena haru dengan segala hasil perjuangan dirinya bersama teman-temannya terhadap bangsa ini. Manggut-manggut bangga masih tanda tanya, tapi air mata yang tak sadar meleleh di pipi mungkin tanda nyata, tanda kalau nyata-nyata beliau pantas bersedih. Nyatanya kita memang berbenah meski masih lebih banyak membuat kerusakan, kita juga nyata-nyata memiliki segala sarana dan perangkat hukum, ekonomi, sosial, budaya, pendidikan dan lain sebagainya. Meskipun juga diam-diam segala perangkat itu masih diterjemahkan menjadi perangkap. Kaya pemburu saja pakai perangkap. Kata perangkap bisa juga diterjemahkan sarana untuk me-rangkap. Jadi serambi melek hukum sekaligus melek potensi mencari sesuap nasi dari hukum. Karena sadar dan cerdas dalam hal ekonomi, juga sekaligus lihai dan piawai dalam meningkatkan mutu kualitas hidup dengan memeras keringat membanting tulang dalam urusan ekonomi dan perputaran-perputarannya. Waduh, jadi berat ndasku ngomongke ini. Sedulur-sedulur semua, sadar tidak sadar, mau tidak mau, sanggup tidak sanggup, kita semua sudah pada titik puncak seabad kebangkitan. Kebangkitan tadi malam di TV dimeriahkan dengan gegap gempita, meriah dan penuh nuansa nasionalisme. Pasti biayanya tidak sedikit. Setelah ini semoga hasil dari acara itu membuat semua sadar dan bangkit. Tiba-tiba besok pagi ada konglomerat nyumbang dana untuk usaha-usaha kecil daerah. TV swasta dan nasional menambah acara bermuatan kebangsaan. Para pemuda mulai menggali potensi budaya negeri dengan bangga dan mengamalkannya dengan baik dan benar, radio-radio bikin acara yang bermodus operandi semangat kebangkitan. BBM tidak jadi dinaikkan, bahkan diturunkan. Pendidikan dilengkapi fasilitasnya, atau paling tidak para guru jauh lebih sejahtera dibanding sebelum peringatan seabad kebangkitan. Ini harusnya bukan utopia, karena saya harus berbaik sangka dengan gerakan acara peringatan Kebangkitan Nasional semalam. Pasti pembuat acara dan segenap elemen di balik acara itu yang notabene adalah orang cerdas, nasionalis, dan berwawasan, tidak akan ikut-ikutan lengah membuat acara yang hanya mengejar gebyar dan penghamburan. Tidak mungkin acara sebesar dan semeriah itu hanya untuk mengenang tanpa bermaksud melakukan upaya-upaya perubahan demi kebangkitan. Janggal acara se-mengharukan itu tiba-tiba hanya sekedar pesta dan pentas seni semata. Semua pasti mengharap kebaikan yang sama. Apalagi ini acara nasional, pemuka-pemuka negara pada hadir untuk pamer sama para leluhur. Lagian acara ini tidak mungkin terjadi setahun ke belakang atau setahun ke depan, perancangan pasti matang, terperinci dan teliti. Termasuk memikirkan efek dan tindak lnjutnya. Pasti semua punya upaya untuk membangkitkan bangsa besar ini. Kalaupun ternyata memang tidak ada upaya apapun setelah ini. Artinya besok rakyat masih mikirin BBM, masih mikirin nyari kerja, nyari tambahan penghasilan, nyari kerja di luar negeri, nyari keadilan, nyari makan, nyari muka, nyari-nyari... duh!! Sayang dong acara mahal dan penuh konsep tadi malam itu. Biarkan semua terpuruk atau berapa banyak lagi yang akan terpuruk, tenggelam, runtuh, tapi jangan terpuruk di tengah-tengah kata Kebangkitan. Jangan tenggelam di saat kita harusnya menyeruak. Bila benar harus ada kebangkitan maka mari sama-sama kita sadari dan akui secara betina sekaligus jantan, sampai separah apa keterpurukan kita. Sehingga kita merasa harus segera BANGKIT. Ingat KEBANGKITAN pasti sangat berbeda dengan KEBRANGKUTAN dan tentunya berbeda juga dengan KEJANGKITAN. Semoga se-abad Kebangkitan Nasional ini menjadi indikasi puncak keterpurukan. Sebab syarat utama kebangkitan adalah dengan adanya keterpurukan. Sejauh kita tidak merasa dan menyadari keterpurukan diri maka muskil bisa bangkit. Atau harus dengan buang-buang waktu, tenaga dan uang, untuk menambah rentetan daftar keterpurukan kita sebanyak mungkin lagi untuk baru merasa harus bangkit?. Kebangkitan bagaikan perguliran siang malam, bagai bergantinya gelap sang malam menuju semburat cahaya pagi. Cahaya harapan dan awal kehidupan. Kita sudah berada di ambang fajar, jangan berpikir terlalu lama dan merasa masih punya banyak waktu. Jangan sampai kita tersadar setelah siang hari dan terlambat memulai hari. Semoga Bangsa ini dipilih sama yang bikin alam semesta untuk mau menyadari dan memberi contoh sikap kepemimpinan yang bertanggung-jawab manusia kepada; manusia lain, lingkungan, dan Tuhan. Bertanggung jawab kepada sematan kepercayaan leluhur, dan bertanggung jawab terhadap kepercayaan anak-cucu. Amiin Allahuma Amiin.
 |
Bertanggung jawab terhadap tugas kita sendiri sebagai seorang makhluk.... :silly: