|
Kita sering dijebak dengan berbagai argumen identitas sebuah kelompok. Hingga kemudian yang terjadi adalah kumpulan kesalahan dan fanatisme keliru. Identitas seakan-akan menjadi titik tolak dan alasan untuk mencintai dan membenci sesuatu, berbuat, berkomentar, mendukung, menghina, hingga ikut-ikutan baku hantam dan menjastifikasi. Meluruhkan penilaian secara menusiawi dan menjadikan legitimasi dari wujud perilaku kita. Sekian banyak lis identitas yang akhirnya menjadi awal dari sekian banyak masalah, misal; institusi, kelompok, partai politik, agama, warna, pakaian, suku, bahasa, hingga negara.
Saat ini sedang terjadi musim bola berkaitan dengan Euro 2008. Disitu terjadi pertunjukan kekuatan tim nasional sepakbola antar negara di Eropa. Dari sekian banyak yang saya tonton tiba-tiba ada satu yang menarik. Yakni pertarungan Belanda melawan Russia. Dengan perspektif nasionalisme tentunya tak satupun negara yang pantas saya jagokan. Dengan sudut pandang sejarah mestinya tidak akan mengelu-elukan Belanda. Namun pada saat kita tampil sebagai manusia, semua itu menjadi luruh.Pemetaan kita jelas pada saat menikmati sepakbola adalah sebagai olahraga, tidak melihat suku bangsa, ataupun negara. Negara menjadi kecil nilainya dibanding pendekatan cinta sebagai manusia. Kembali ke pertandingan antara Belanda melawan Russia, bila mau jujur pasti banyak orang Indonesia merasa cemas dan gelisah melihat Belanda ditekan oleh kesebelasan Russia sejak awal, kecemasan dan kegelisahan menjadi semakin sempurna ketika Russia berhasil lolos setelah mengalahkan Belanda 3-1. Kembali lagi bahwa kesedihan itu pasti bukan berarti kita adalah warga negara Belanda. Begitupun yang senang dengan hasilnya, pasti bukan karena kita adalah warga negara Russia. Yang sedih dan yang yang senang di situ adalah manusia yang tidak sedang peduli dengan identitas. Toh, seorang Belanda bernama Guus Hiddink pasti justru akan sedih bila Russia kalah. Bukan karena dia pengkhianat bangsa. Bukan juga karena dia benci terhadap kesebelasan Belanda. Dan bukan juga dia tidak memiliki jiwa nasionalisme. Melainkan karena Guus Hiddink sedang menunjukkan dirinya sebagai manusia, yang tidak akan menyabotase teman-teman Russia-nya agar kalah setelah dia dipercaya, diperlakukan baik, dihargai, dan dihormati sebagai pelatih oleh sekian banyak orang Russia. Sebagian warga Belanda mungkin geram dengan Guus Hiddink, dan sebagian lagi mungkin menganggap tidak masalah. Yang geram pasti karena melihat dari kacamata nasionalisme, yang menganggap tidak masalah mungkin melihat dari perspektif profesionalitas. Saya ingin memberi tambahan bahwa profesionalitas hanya irisan kecil dari kemanusiaan. Itu masih bagian dari manusia, jadi manusia dan kemanusiaan lebih tinggi nilainya. Betapa ini pelajaran penting untuk bersikap dan menyikapi sesuatu. Negara kita seringkali dibentur-benturkan antar satu identitas kepada identitas yang lain. Tertipu oleh pencitraan media, terjerumus dengan kebencian yang sebenarnya tidak pada tempatnya. Hingga berpuluh bahkan beratus orang ikut-ikutan masuk ke pertikaian tanpa tahu juntrungnya. Euro yang katanya membawa harkat dan martabat bangsa melalui dunia sepakbola saja, ternyata bukan ajang pertandingan antar negara, namun pertandingan manusia yang sama-sama menyenangi sepakbola. Semua bebas memilih "hero"-nya, semua boleh sedih dengan kekalahan jagonya dan sumringah dengan kemenangan kesebelasan pilihannya. Negara, agama, bahasa, dan bermacam identitas lain menjadi luruh. Jadi sedulur-sedulur semoga tidak akan menjadikan pLettonic sebagai alasan membenci yang lain. Karena kalau ada orang yang cinta terhadap karya letto itu sudah pLettonic, bila setiap orang yang ingin bersama-sama Letto membangun nilai positif sedikit-demi sedikit itu itu semangat pLettonic. Kalau ada yang ingin bersama-sama menjadi manusia yang bergandengan sebagai semestinya manusia, itupun ruh pLettonic, meskipun dalam selera musik adalah Nidjiholic, Gigikita, Changcut Ranger, Baladewa, Mahapatih, dan lain sebagainya. Biarlah sebutan dan atribut adalah sekedar identitas dan alat untuk saling menghormati dan menyambung kemesraan, tidak untuk menambah kebencian dan fanatisme-fanatisme baru. Semoga bermanfaat, bila salah mohon dikoreksi.
 |
setujuuuu.
kalo boleh nambah nich. kalo dari awal kita pribadi menyadari bahwa apapun lakonnya, harga itu pasti naik, perbedaan itu pasti ada dan penokohan itu adalah fana. aku rasa kita tidak akan kagetan lan gumunan. framenya aja yang di rubah indah: lebih kreatif cari peluang, tidak tergantung pada siapapun, passion dan happy dalam setiap kegiatan dan berlomba bermanfaat untuk orang lain. aku yakin waktu untuk saling justify, iri, dengki po lagi demo bakalan gak ada.
stopp OMDO