Banner
Banner

pLettonic Login



My Blog

Description of my blog

Sep 28
2008

saat aku...

Posted by ye-en in Untagged 

ye-en

aku pernah merasakan saat2 paling berat dalam hidup. saat aku tak bisa lagi bangun dari jatuh.saat tak ada orang yang bisa membantuku.bahkan orang tuakupun ikut memojokkan aku.teman2 yang seharusnya bisa membantuku hanya diam..

dan orang yang berkata menyayangiku,justru dia menjauh dariku.saat itu aku merasa benar2 jatuh.setiap hari aku menangis sendiri,hampir2 tidak kuat menahan beban berat itu.aku merasa tidak punya siapapun untuk berbagi.tapi sandaran hati letto telah memberitahu jika "seterpuruk apapun kita Tuhan akan selalu menjadi sandaran untuk kita. Tuhan tidak akan pernah meninggalkan kita bagaimanapun keadaan kita"

dan sekarang aku sadar betapa besar karunia dan kasih sayang Tuhan untukku.justru dari kejadian itu banyak hikmah yang bisa aku ambil.aku menjadi orang yang lebih dewasa, tidak cengeng, dan aku merasa lebih dekat denganNya.aku juga bisa berkata Alhamdulillah untuk setiap hal yang ada padaku.

Sep 27
2008

kenapa aq harus hidup

Posted by cici in Untagged 

cici

why am i supposed to live?

kenapa aq harus hidup?sebuah ungkapan dariku setiap hari, untukku sendiri

Bukan karena ada keinginan utk mengakhiri hidup, hanya saja sering bertanya2 kenapa?

Sep 26
2008

Pesimis

Posted by okta265 in Untagged 

okta265

Cuplikann tentang seorang anak SMA yg pesimis :

n----: dee ntar libur mlai kapan?

dee: tgl 25

Sep 22
2008

Hina.....

Posted by inun in myblog

inun
Ada saatnya kita harus diam dan ada saatnya kita harus bicara….
Itu nasehat yang diberikan seseorang pada aku, saat aku mengungkapkan permasalahan yang aku hadapi.
Ya nasehat itu juga sudah sering aku dengar, tapi kadang kala aku sering lepas kendali, atau hilang control atas diri aku sendiri. Entah penyakit apa yang ada dalam jiwaku ini, sehingga seringkali aku tidak bisa mengendalikan sikapku sendiri. Dan biasanya aku baru akan sadar bahwa aku salah melakukan sesuatu sesaat setelah aku melakukannya.
Kadang kala aku ingin kembali pada keadaan aku dulu, yang memang terbiasa diam dan hanya memperhatikan walaupun keadaan sekitarku ramai. Aku yang tak pernah bisa memulai, dan aku yag begitu menutup diri, apa yang ingin aku katakan hanya akan berputar-putar dikepalaku saja tanpa berani mengungkapkannya. Aku yang hanya akan bereaksi saat aku merasa terganggu, dan aku yang selalu merasa tidak nyaman di lingkungan yag ramai sehingga aku lebih suka menyendiri.
Kini aku memang sudah berubah, entah kenapa walaupun aku suka dengan keadaanku yang sekarang, seringkali juga aku menyesal dengan perubahan yang terjadi pada diriku. Dengan keadaan ku yang sekarang aku jadi sering hilang kendali atas diriku. Seringkali aku merasa begitu tidak bermoral, begitu kurang ajar, begitu sombong, begitu riya, begitu menyedihkan,begitu menyebalkan, begitu menjijikan, bagitu sok’, begitu hina, tidak seperti seorang manusia yang terhormat. Aku memang bukan manusia terhormat, dan aku menyadari itu, tapi akan lebih baik jika aku bisa bersikap baik dan bijaksana terhadap orang lain dan diri sendiri. Akan lebih baik jika aku bisa lebih anggun.
Dan ku pikir orang lain akan merasa segan pada kita jika kita selalu bersikap hati-hati dan terkontrol, kita akan lebih dihormati orang lain. Dan jika kita bersikap seenaknya seperti sekarang, orang akan lebih senang meremehkan kita.
Aku lebih suka saat aku tidak dihiraukan sewaktu aku menjadi orang pendiam dulu, karena aku tahu alas an aku tidak dihiraukan karena aku memang tak mau muncul ke permukaan. Tidak seperti sekarang, aku seolah bersikap begitu munafik dengan bersikap seenaknya dan acuh tak acuh, atau aku bertingkah bak anak kecil untuk menarik perhatian orang lain, tapi tetap saja orang tak menghiraukan, hah…begitu menyedihkannya diriku ini.
Aku memang tak suka jika dijauhi atau di acuhkan, aku lebih suka jika orang membenciku, mereka mengatakannya padaku, dengan begitu mereka tak perlu menjauhiku, cukup aku saja yang menjauhi mereka dan berusaha memperbaiki keadaanku. Aku memang lebih senang jika keberadaanku diakui dan diterima, aku lebih suka saat aku memang dibutuhkan.
Aku memang hanyalah manusia biasa, yang memiliki rasa iri pada orang lain, aku selalu iri jika orang lain lebih diterima sementara aku tidak. Karena perasaan itulah aku tak pernah memperlakukan orang dengan special, aku berusaha untuk membagi rasa sukaku pada orang lain dengan kadar yang sama, karena aku tahu rasanya jika berbeda dengan orang lain, dan kalaupun aku ingin memberikan rasa kasihku dengan kadar lebih pada beberapa orang temanku, hal itu tak akan pernah aku tunjukkan di depan orang lain, hanya diantara kita saja.
Aku ingin semua orang memaklumi keadaanku, aku ingin semua orang menyukaiku, aku ingin dapat perhatian dari semua orang walaupun hanya sedikit, aku tak membutuhkan perhatian yang banyak, aku ingin semua orang mengerti aku dan mengerti keadaanku.
Aku pernah dengar, katanya aku begitu tersakiti karena perlakuan orang lain terhadapku, saat aku mendengar keprihatinan orang lain padaku itu, ketika itu pula aku menitikan air mata, tenggorokanku tak memapu bersuara, dan jantungku begitu berdegup kencang, apakah aku semenderita itu. Aku mungkin sering tak bisa menggambarkan rasa yang ada di hatiku. Dan aku senang dengan perhatian yang diberikannya padaku. Aku tak peduli walaupun orang menyakiti aku karena aku tak pernah merasa disakiti oleh orang lain, aku hanya ingin diterima ditempat aku berada, di bumi ini, dimanapun aku berada sebagai diriku apa adanya.
Jadi terimalah aku kawan-kawanku….saudara-saudaraku, terimalah aku dengan keadaanku dan sifatku seperti apa adanya, jangan pernah mengharapkan perubahan pada diriku, karena aku orang yang sulit untuk berubah……..


Sep 22
2008

Sepi....

Posted by inun in Untagged 

inun

Saat sendiri memang sepi...

tapi kan bukan berarti kita benar-benar sendiri...

Ada Tuhan di sisi kita bukan?? bila kamu sendiri, janganlah kamu bersedih hati...

Sep 21
2008

Memilah Kebencian

Posted by musimhujan in Untagged 

musimhujan

Kita tidak bisa menyetir hati orang. Itu pasti. Saya pernah diminta masuk ke dalam sebuah komunitas untuk membenahi sesuatu di dalamnya. Sejak awal saya menginjakkan kaki di sana, aroma permusuhan langsung menguar. Sama sekali tak ada tatapan bersahabat, apalagi senyum.  Bicara pun ketus, meski saya sudah bicara selembut dan serapi mungkin. kesal? ya, tentu saja. Jengkel? ya tentu. Tapi..pikir saya kemudian, haruskah saya marah pada mereka yang bersikap demikian ataukah saya perlu memilah-milah, mana yang patut saya jengkeli, mana yang tidak.

Setelah menyelami lebih dalam akhirnya saya mendapat dua kesimpulan dari keadaan itu. Pertama, ada orang-orang yang membenci saya karena kebodohan dan ketidaktahuannya tentang siapa saya, apa maksud saya, niat saya dan hal-hal lain yang sifatnya abstrak bagi merka. abstrak karena semua itu tak tampak dari luar, hanya ada di dasar hati dan jiwa saya. Kedua, ada orang yang tidak menyukai saya karena takut kepentingan-kepentingan mereka terganggu. Saya rasa, untuk orang-orang seperti ini, yang lebih sering bermuka dua, bermulut manis, tapi berhati masam (kata Siti Nurhaliza, menanam tebu di pinggir bibir, tapi berduri di hati) patutlah saya memberi sikap tegas. Nah, setelah mendapat kesimpulan macam begini, saya mulai mengerti bagaimana harus bersikap dalam komunitas tersebut.

Inti dari cerita saya ini adalah, kita tidak mesti balas membenci atau menjengkeli orang-orang yang membenci kita. Karena, bisa jadi kebencian itu berawal dari ketidaktahuan. Mereka duluan mendengar kabar negatif tentang kita daripada mengenal siapa kita. Tentu saja, persepsi negatif tentang diri kita lebih dulu melekat. Untuk memahami ini, coba bayangkan kita berada dalma posisi orang-orang yang tidak tahu ini. Mereka bertahun-tahun bersama dengan teman-temannya, bekerja sama dalam menyelenggarakan suatu urusan, bersahabat. Lalu tiba-tiba mereka mendengar kabar ada orang baru akan datang yang -menurut ceritanya- berprilaku negatif dan (mungkin saja) tidak tahu diri. Kebanyakan kita otomatis lebih mendengarkan perkataan teman daripada berprasangka baik terlebih dahulu. Menurut saya hal ini alami saja.

Sep 20
2008

Dalam Hangatnya Malam Dingin Itu

Posted by lee putch in Untagged 

lee putch

Dingin itu terasa begitu bermakna ketika tak kuharap hangat itu tiba

Terasa dimana-mana...

disini,

Sep 18
2008

Rima, Di Hari Berhujan

Posted by musimhujan in Untagged 

musimhujan

Saya ingat, waktu masih sekolah dulu punya seorang teman bernama Rima. Orangnya baik, pintar, setia kawan dan selalu gembira. Rima selalu bisa menertawakan berbagai lelucon. Ia juga bisa menceritakan berbagai kisah lucu. Yang asyiknya, saat ujian dia tidak pernah pelit. Dia selalu mau berbagi jawaban. Karena itu tak mengherankan, setiap akan ujian kami semua berebut-rebut duduk di dekatnya. Saat ujian Rima selalu tampil sebagai pahlawan.

Melihat dirinya, saya selalu melihat kebahagiaan. Sekali pun saya tak pernah melihatnya bersedih. Bagi saya dia cerminan keluarga bahagia. Pasti dia memiliki ayah ibu yang mencintai. Ekonomi keluarganya pun pastilah memadai. Wajar bila dia selalu gembira. Tak pernah ada beban dalam kehidupannya.

Tapi, suatu hari saya tahu pikiran itu salah.

Sep 18
2008

Welcome....

Posted by pakpenyo in Untagged 

pakpenyo

Akhirnya.....
Selamat datang di LettoBlog!

Salah satu fitur baru dimana teman-teman plettonic bisa menuliskan apapun! Artikel, puisi, uneg-uneg, dan pokoknya apapun yang ada di hati dan pikiran masing-masing. CURHAT juga tak dilarang disini!

Sep 17
2008

MAAF, AKU TAK BISA MEMINTA MAAF

Posted by musimhujan in Untagged 

musimhujan

 

Di suatu siang yang panas, tiba-tiba saja teman sekost saya yang tinggal di kamar ujung lorong masuk. Wajahnya tak terlihat hepi. Matanya tak bercahaya. Sepintas saya tahu, di hatinya tengah menggunung beban. Ia duduk di tempat tidur. Tak bicara. Saya pun segan membuka percakapan.

“Kamu pernah merasa bersalah?” tanyanya seketika. Itu pertanyaan aneh. Saya ini manusia. Tentu bisa salah dan khilaf. Ada saat-saat saya didera perasaan bersalah. Saya menjawab “ya, tentu saja,” sambil memperhatikan raut mukanya.