Sidoarjo Bangkit

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Written by HC Thursday, 07 February 2008 09:53

Hawa dingin di pagi buta ini setelah hujan yang mengguyur kota Yogyakarta semalaman pasti membuat semua orang enggan beranjak dari tempat tidurnya. Kami semua pagi ini sangat rindu untuk kembali mancal kemul alias kembali tidur. Namun karena pagi itu Letto harus memulai perjalanan ke Kota Sidoarjo Jawa Timur, maka dengan penuh bersemangat semua awak Letto segera berkemas dan berangkat ke Bandara Adi Sucipto Yogyakarta. Kami semua sangat menyadari bahwa penampilan kami malam nanti bukanlah show biasa, akan tetapi kami akan menghibur masyarakat yang betul-betul sedang berada dalam musibah yang barangkali tidak semua orang dapat kuat menghadapinya. Sedangkan dalam penampilan nanti malam, Letto juga akan berkolaborasi bersama Cak Nun, mbak Novia Kolopaking, serta "Bapak Musikal nya Letto", Kiai Kanjeng.

Sidoarjo BangkitTepat pukul 06.00 WIB kita sudah duduk di dalam pesawat yang akan membawa kita menuju Sidoarjo via Surabaya. Satu jam kita menempuh perjalanan udara, dan saat kita tiba di Bandara Juanda Surabaya. Dipintu kedatangan Bandara Juanda kami telah ditunggu oleh panitia yang kompak berpakaian hitam hitam-hitam dengan tulisan "Sidoarjo Bangkit" dibagian dada kirinya. Selanjutnya tim Juru Ngelu segera meluncur ke venue untuk sound check, sementara sebagian rombongan lainnya langsung menuju ke hotel untuk beristirahat.

Saat rombongan yang di komandoi oleh Patub tiba di venue, Tim Juru Ngelu segera memasang dan menyiapkan alat serta mengatur control sound yang sudah ada, karena pada saat itu juga alat-alat musik milik Kiai Kanjeng sudah terpasang, tinggal sound check saja. Walaupun panas terik Matahari yang sangat menyengat, tidak membuat kita patah semangat untuk  terus membenahi dan menyiapkan semuanya dengan baik. Setelah semua "peralatan perang" Letto terpasang dengan baik, segera dimulailah sound check yang berakhir menjelang siang hari.

Setelah sound check selesai, seluruh rombongan segera meluncur ke Hotel untuk beristirahat dan memulihkan tenaga supaya nanti malam semua team Letto bisa powerfull dan dapat memberikan yang terbaik bagi seluruh penonton yang hadir.

Workshop Sastra

Sementara team Letto beristirahat, vokalis Letto Noe diundang sebagai pembicara dalam Workshop Sastra Bersama Cak Nun dan Kiai Kanjeng. Acara yang diselenggarakan oleh SMA I Sidoarjo ini ternyata dihadiri oleh banyak pelajar. Antusiasme para pelajar tampak dari respon mereka yang cukup besar. Ketika dibuka sesi pertanyaan, mereka berebut untuk tampil dan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang cukup berbobot kepada Noe. Ada satu pertanyaan yang cukup menarik diajukan oleh salah seorang pelajar, yaitu menurut mereka lagu-lagu Letto sarat dengan kandungan sastra yang luar biasa. Bagaimana cara membuat lagu yang seperti itu. Dengan rendah hati Noe menjawab bahwa sebuah karya, baik itu berupa lagu atau apapun hanya dapat dinilai kandungan sastranya oleh orang lain. Artinya setelah ada pengakuan dari orang lain barulah karya tersebut dapat dikategorikan sastra ataupun tidak. Sementara dalam pembuatan lagu, menurut Noe adalah bagaimana kita dapat menyatu dalam sebuah kejadian-kejadian yang kita anggap penting. Noe memberikan sebuah contoh seperti ini:

"Misalnya dalam lagu Letto yang berjudul Memiliki Kehilangan terinspirasi dari kejadian kehilangan handphone. Momen itu membuat saya berfikir kenapa saya begitu menyesal telah kehilangan sebuah handphone, padahal dulu ketika saya tidak memiliki handphone tidak ada masalah. Maka kemudian saya berpendapat bahwa rasa kehilangan itu hanya akan ada bila merasa memilikinya. Maka jadilah itu sebuah lagu. Sesederhana itu", jelas Noe.

Acara workshop itu berjalan dengan sangat baik dan dinamis, sehingga acara yang seharusnya berakhir pada pukul 15.00 WIB itu molor hingga pukul 16.30 WIB. Segera setelah acara berakhir Noe bergegas untuk segera kembali ke Hotel guna mempersiapkan acara nanti malam. Para siswa yang menghadang untuk minta kenang-kenangan photo bersama Noe pun sebagian terpaksa harus gigit jari karena keterbatasan waktu yang sangat mendesak.

Noe tiba di Hotel pukul 17.00. itu berarti Noe cuma punya waktu 1 jam untuk beristirahat karena pada pukul 18.00 harus segera meluncur ke Pendopo Kabupaten Sidoarjo untuk makan malam bersama muspida Kabupaten Sidoarjo. Namun tak urung rasa capek yang luar biasa membuat Noe segera terhempas ke ranjang hotel dan tertidur.

Musibah Tak Terduga

Pukul 18.00 seluruh rombongan Letto telah bersiap di lobby hotel untuk menunaikan kewajiban menghibur penonton dalam acara Ulang Tahun Sidoarjo ke 149 tahun. Namun ada hal yang meresahkan, yaitu turunnya hujan yang luar biasa lebat. Sang manager segera melakukan kontak ke venue tentang situasi disana. Apa yang kami takutkan ternyata benar-benar terjadi. Kondisi di venue ternyata lebih parah daripada di hotel tempat kami menginap. Stadion Delta tempat akan dilangsungkannya acara hujan sangat lebat. Dan tidak ada pilihan bagi kru Letto yang ada disana kecuali harus mengemasi peralatan yang ada dipanggung. Karena bila tidak dikemasi peralatan Letto dijamin akan menjadi korban alias rusak terkena air. Dari hotel kami merasa sangat sulit acara itu akan terlaksana dengan baik. Dengan sisa-sisa kebaikan yang kami miliki (mudah-mudahan ada....), kami hanya bisa berdoa semoga Tuhan menyelamatkan keinginan kami untuk menghibur masyarakat Sidoarjo malam ini karena menurut informasi yang kami peroleh, bahwa malam ini warga masyarakat korban Lumpur Sidoarjo akan hadir pada acara Ulang Tahun Sidoarjo yang ke 149 ini karena didalam acara tersebut terdapat deklarasi yang dilakukan oleh masyarakat korban Lumpur.

Sepanjang perjalanan menuju pendopo kabupaten Sidoarjo kami melihat tidak ada tanda-tanda hujan berangsur reda. Hingga kami tiba di pendopo kabupatenpun hujan masih terus membasahi kota Sidoarjo. Sembari makan malam, kami terus menunggu kepastian dari panitia tentang kepastian acara yang akan berlangsung malam ini. Hingga pukul 20.00 wib masih belum ada kepastian apakah acara akan berlangsung atau tidak.

Pertunjukan Terdasyat Letto

Pukul 20.15 ada berita mengejutkan dari stadion, ternyata stadion telah dihadiri oleh banyak orang yang ingin menghadiri acara tersebut dan tidak berduli mereka harus berhujan-hujan. Hal ini membuat panitia penyelenggara memutuskan untuk memulai acara tersebut dengan alasan tidak mungkin mengecewakan para penonton yang telah hadir. Meskipun kami sangat ingin memberikan hiburan kepada penonton, namun tak urung berita itu membuat kami cukup shock. Bagaimana mungkin akan mengadakan sebuah pertunjukan sementara seluruh peralatan sudah dikemasi. Butuh waktu sekitar 3 jam untuk memasang peralatan beserta chanel secara lengkap. Sementara penonton tidak mungkin menunggu selama itu. Sungguh pusing kami dibuatnya.

Sesampainya di venue, disana telah dipenuhi oleh penonton. Letto langsung dibawa menuju panggung. Yang kami saksikan disana sungguh "mengagumkan". Pengunjung memadati depan dan sisi kiri kanan panggung. Sementara dipanggung sendiri, semua peralatan telah dimasukkan kedalam hard case. Secara akal sehat kami tidak akan dapat melakukan apapun diatas panggung yang disitu hanya terdapat 3-4 microfon yang hidup. Ah! Tamat sudah pertunjukan kami malam ini, itu yang kami pikirkan.

Namun barangkali malam ini Tuhan tidak ingin mengecewakan masyarakat Sidoarjo yang telah bersusah payah datang ke stadion dan berhujan-hujan. Malam ini Letto beruntung karena berkolaborasi dengan Cak Nun yang memiliki komunikasi yang baik dengan audience. Cak Nun memulai berbicara dengan para penonton. Dan itu memberi kami kesempatan untuk mempersiapkan diri, meskipun dengan cara yang cukup kalang kabut. Berlahan tapi pasti Cak Nun mampu "menyihir" penonton dengan kata-katanya yang dapat memadukan antara ilmu, pengalaman dan canda tawa. Selama kurang lebih 1 jam masyarakat dapat sejenak melupakan keberadaan Letto karena tersihir oleh kata-kata Cak Nun.

Setelah kurang lebih satu jam, Letto memaksakan diri untuk menyatakan siap tampil, meskipun dengan penuh ketidak-sempurnaan peralatan yang ada. Patub harus berbagi channel guitar dengan Kiai Kanjeng, Arian terjepit ditempat yang sempit, sementara Dedi harus rela menabuh drum secara elektronik dengan meminjam keyboard Kiai Kanjeng dan Widi meminjam keyboard Kiai Kanjeng karena drum dan keyboard Letto sudah di kemas untuk meghindari hujan. Letto memberanikan diri untuk tampil dengan penuh percaya diri dan menghibur penonton. Dan ajaib! Pertunjukan malam ini berjalan dengan sukses. Letto sanggup membawakan lagu-lagu hitsnya. Dan penonton muda dengan penuh antusias bergoyang hingga selesai. Acarapun berakhir dengan kepuasan terpancar dari wajah para penonton.

Letto sangat bersyukur malam ini Tuhan betul-betul telah memberikan pelajaran yang sangat berharga kepada Letto. Bahwa disaat yang sangat kritis dimana pertunjukan tersebut secara umum dapat dipastikan gagal dapat berhasil dengan sangat luar biasa. Pada kesempatan ini pula Letto mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada masyarakat Sidoarjo karena dengan perantara merekalah Letto mendapatkan pengalaman yang luar biasa dimana kesungguhan, kepasrahan dan doa dapat menciptakan sebuah kesuksesan mesipun tanpa bantuan peralatan modern yang ada. Sukses selalu untuk Masyarakat Sidoarjo!

Events

No current events.