User Tools

Site Tools


wiki:geese

Geese Studio

Studio ini mulai dibangun pada tahun 1998 dan selesai di tahun awal 2001, berdiri di atas lahan seluas 60 m2. Memang cukup lama sebab studio ini dibangun sedikit demi sedikit. Studio ini memiliki sejarah yang unik dalam pembangunannya. Pada awalnya bangunan untuk studio ini sudah ada, hanya waktu masih berupa bangunan biasa. Kemudian sedikit demi sedikit bangunan itu diputuskan untuk dijadikan studio dengan beberapa pertimbangan yang rasional. Nama Geese Studio juga dipilih oleh usulan Noe yang mempertimbangkan sisi kemudahan ucapan dan simple. Sebelumnya ada beberapa nama yang akan dipakai untuk nama Studio, ada nama bernuansa Arab, hingga nama bernuansa China.

Pada saat itu Noe yang tengah kuliah di Kanada kebetulan liburan semester. Bersama teman-teman sekolahnya dulu dia melakukan koordinasi penyelesaian calon studio. Aldi bersedia memburu wadah telur hingga ke Jawa Timur. Dia pergi sendirian dan pulang ke Jogja dengan bertumpuk-tumpuk wadah telur. Bagaikan orang yang baru pergi jauh merantau, dari Stasiun Tugu menuju ke Kadipiro ia diiringi rombongan becak. Sebenarnya karena Aldi memerlukan bantuan mereka untuk membawa tumpukan wadah telur yang merepotkan itu. Sabrang bertugas mencari alat-alat studio dan beberapa pernik interior yang akan dipasang. Pilihan warna dan jenis devices studio, dialah yang menentukan.

Sementara selain Aldi, ada Patub dan Dwi Sudjatmiko yang akrab dipanggil “Bedjat”, yang sejak awal sudah ikut membidani kelahiran Geese. Mereka bertugas membantu pembangunan studio dengan ikut berbelanja material bangunan. Mereka bertiga sejak semula bahu-membahu bersama tukang, mulai dari menggali pondasi, membuat adukan, mengangkut adukan, mengangkat batu-bata, membeli paku, lem, dan banyak kebutuhan lain yang diperlukan. Mereka benar-benar total dalam kontribusi berdirinya Geese studio. Ada satu yang unik! Pernah suatu saat pada ketika membeli triplek mereka harus berjuang keras membawanya dengan motor dari toko bangunan. Pada saat itu toko tidak bersedia mengantar triplek yang hanya selembar, sedangkan di rumah tidak ada mobil yang bisa mengambil. Akhirnya mereka membawanya dengan motor dengan melawan tekanan angin yang sangat tidak bersahabat….

Lima atau enam tahun kemudian, mereka kembali berkumpul. Sabrang sudah mendapatkan double degree-nya. Agus Riyono alias Patub, Ari, dan Aldi masih di UGM semester akhir. Beberapa saat kemudian Patub menyelesaikan kuliahnya, disusul Ari dan beberapa waktu kemudian Aldi menyelesaikan pendidikannya. Selama berkumpul mereka mengulang kembali kekompakan mereka dengan menciptakan ide-ide gila dan selalu berusaha merealisasikannya. Kini setelah mereka tinggal di kawasan Kadipiro yang sekaligus kediaman Cak Nun yang sekaligus ayah Noe, mereka dihadapkan pada danau pembelajaran atau “kawah condrodimuko” agar mampu menjadi Ksatria tangguh. “Ujian” demi “ujian” mereka santap, mulai dari menjadi penjaga pintu gerbang, mengikuti kegiatan Teater Dinasti, menjadi additional player KiaiKanjeng, hingga kebiasaan melek malam yang masih dilakukan hingga sekarang. Sepertinya begadang sudah menjadi semacam trademark Komunitas Kadipiro.

wiki/geese.txt · Last modified: 2011/07/03 20:51 by PakPenyo